Terapkan SNI Batik, Kemenperin Gelontorkan Rp 500 Miliar

IKM Didorong Lakukan Ekspor

Jumat, 28/09/2012

NERACA

Bandung - Kementerian Perindustrian akan menggelontorkan dana sebesar Rp 500 juta untuk Industri Kecil dan Menengah (IKM) guna penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) batik di 2013. Direktur IKM Wilayah II Kemenperin, Gati Wibawaningsih mengungkapkan, industri batik Indonesia sangat dibutuhkan, karena dengan SNI tersebut para pengrajin bisa langsung mengekspor hasil karyanya ke berbagai negara tujuan.

Lebih jauh jauh lagi Gati memaparkan saat ini IKM batik sudah diminati di berbagai negara di Asia, seperti Jepang dan Korea. Oleh karena itu, penerapan SNI batik harus segera di realisasikan. Namun, ujar Gati yang masih menjadi kendala saat ini banyak IKM yang belum tergerak untuk mendaftarkan produk mereka dengan berbagai alasan. “Salah satu alasan mereka adalah biaya menjadi penghalang utama IKM untuk menerapkan SNI,” ujar Gati di sela–sela Seminar Nasional Indonesia–Japan Fashion and Textile Event Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil di Bandung, Kamis (27/9).

Gati juga mengungkapkan, kerjasama antara Indonesia dengan Jepang dalam mengembangkan batik sangat membantu sekali, pasalnya pihak Jepang menunjuk Japan External Trade Organization (JETRO) sebagai mitra kerja Direktorat Industri Kecil dan Menengah dalam mengembangkan IKM. Kemajuan yang dicapai selama ini antara lain pembinaan IKM melalui pendekatan One Village One Product (OVOP) yaitu memberikan pendampingan desain bagi IKM di enam provinsi.

Program pendampingan Desainer dari Jepang terhadap beberapa IKM terpilih di enam provinsi di awali di 2008 dan diakhiri pada awal 2012. Setelah mendapatkan pendampingan desain. IKM tersebut kemudian di fasilitasi untuk ikut pameran di Tokyo International Gift Show Spring 2012.dengan menampilkan produk kerajinan yang berciri khas Indonesia namun juga sesuai lifestyle di Jepang. Selain itu di perkenalkan juga bahan baku yang hanya di miliki oleh alam Indonesia.

Kerjasama pengembangan batik Indonesia –Jepang dilaukan melalui kegiatan kunjungan dan survey lapangan,baik ke sentra batik dan tekstile di Indonesia maupun ke sentra fesyen di Jepang (Ginza, Shibuya, Harajuku). Desainer Indonesia juga akan mengikuti Japan Fashion Week 2012.

Kerjasama RI-Jepang

Di tempat yang sama, Senior Director JETRO, Yusuke Yoshida memaparkan sehubungan dengan telah di tandantanganinya Kesepakatan Kerjasama Kemitraan Ekonomi Indonesia –Jepang (IJEPA) sejak tahun 2009, melalui program MIDEC, JETRO yang merupakan salah satu organisasi pemerintah Jepang yang bertanggung jawab menangani 3 sektor MIDEC yaitu pengembangan UKM, teknologi Mold and Dies dan teknologi otomotif.

Pada sub-sektor pengembangan UKM, setiap tahun sejak tahun 2009 Kementerian Perindustrian dan JETRO telah menyepakati untuk memilih 3 provinsi untuk dibina. Adapun tahapan pembinaannya adalah pemilihan pengrajin (seleksi) berdasarkan produk yang mempunyai ciri khas daerah terbut, pembinaan pengrajin berupa pengetahuan tentang pasar yang akan dituju dan pengembangan produk yang sesuai pasar tersebut dan presentasi hasil pengembangan produk melaluli pameran untuk mendapatkan masukan langsung dari para calon pembeli.

Pengembangan produk pengrajin pada program ini diarahkan untuk dapat memasuki pasar Jepang. Dengan dilakukan pembinaan yang bertahap ini diharapkan para pengrajin dan pemerintah dapat mempelajari dan menggunakan metode yang telah disampaikan oleh tanga ahli Jepang untuk pengembangan pengrajin kedepannya.

Tahun 2010 merupakan tahun ke dua dalam pelaksanaan program MIDEC, khususnya di bidang pengembangan UKM, setelah tahun 2009 telah dipilih 3 propinsi yaitu Sumatra Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara. Pada tahun anggaran 2010 berdasarkan kesepakatan telah di pilih 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Bali dan NTB.

Pengembangan produk di Jawa Barat berupa pengembangan dasain warna pada cermin anyaman, lampu dan juga pengemabangan batik Cirebon menjadi obi dan tas. Untuk Bali pengembangan fungsi dari kerajinan perak untuk obi dome dan pulpen, sedangkan kerajinan kayu pengambangan desain material dasar untuk permukaan kerajinan dan kerajinan pengecoran dipadukan dengan kerajinan kaca. NTB yang terkenal dengan kerajinan cukli yang berwana hitam di kembangkan menjadi warna putih dan perak , kerajinan anyaman ketak dikembangakan dengan kombinasi plastik dan juga.

Pada prinsipnya pengembangan produk-produk tersebut diarahkan pada fungsi , kebiasaan sehari-hari dan kegemaran orang Jepang, pendekatan ini dilakukan karena yang dituju adalah pasar Jepang sehingga hadir produk Indonesia dengan rasa Jepang. Khusus di Bali pengembangan produk dilakukan bersama dengan DDO (Design Development Organization) sehingga kedepannya pengrajin dapat menjalin kerjasama dengan desainer setempat dalam mengembangkan produk.

Sementara itu, Tina Martina, Ketua Jurusan Barang Jadi Tekstil Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung, mengemukakan pengusaha asal Jepang berminat untuk memasarkan desain batik asal Indonesia. “Langkah pertama mereka adalah memamerkan desain produk batik milik mahasiswa STT Tekstil Bandung,” ujarnya.

Menurut dia, minat tersebut diawali dengan kunjungan perwakilan investor Jepang ke Indonesia pada Juni lalu. Dalam kunjungan tersebut, mereka tertarik untuk memamerkan desain batik mahasiswa STT Tekstil Bandung. Akhirnya, kampus tersebut menindaklanjuti dengan melaksanakan kompetisi desain batik. Pendaftarannya dibuka Juli-awal September 2012.

Dalam kompetisi tersebut, desain batik yang terkumpul sebanyak 150 karya. Setelah itu, sebanyak 27 karya terbaik diseleksi terlebih dahulu hingga akhir tahun ini. “Sebanyak 27 karya tersebut nanti kembali diseleksi lagi dan akhirnya 5 karya nanti akan dibawa ke pameran Tokyo Fashion Week. Satu peserta terbaik akan memperoleh hadiah berkunjung ke Jepang,” terangnya.