Kenaikan Biaya Energi Himpit Kinerja Pelaku Usaha - Biaya Produksi Melambung Tinggi

NERACA

Jakarta - Belum terjaminnya pasokan gas industri, serta sejumlah persoalan klasik seperti tingginya biaya logistik yang harus dikeluarkan pelaku usaha sekitar 12% sampai dengan 15% dari biaya produksi. Hal tersebut mengakibatkan turunnya peringkat daya saing Indonesia dibandingkan negara Asia lainnya. Karena, mau tidak mau tingginya biaya produksi akan dibebankan ke harga produk jadi, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat akan menurun dan beralih ke produk impor yang harganya lebih murah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, kenaikan-kenaikan harga yang akan diterapkan pada tahun 2013, menjadi tantangan yang semakin berat seiring dengan kenaikan harga gas dan tarif tenaga listrik (TTL). "Pemerintah telah menetapkan harga gas untuk industri naik 35% per 1 September dan akan naik lagi pada 1 April 2013, TTL industri akan dinaikkan 15% dan hal ini akan menambah biaya produksi," ujarnya, Kamis (27/9).

Adhi menilai jika biaya energi mengalami kenaikan, maka biaya produksi akan meningkat 10% hingga 20%. Selain itu, minimnya infrastruktur seperti pelabuhan, membuat biaya logistik di Indonesia sangat mahal. Apalagi pada tahun 2015, Indonesia akan memasuki masyarakat ekonomi ASEAN. "Jadi efeknya akan semakin berat," lanjutnya.

Lebih Baik Impor

Bagi industri makanan dan minuman, dia mengatakan komponen energi termasuk listrik berkontribusi sebesar 8% hingga 10% dari total biaya produksi. Dengan adanya kenaikan TTL secara otomatis akan menyebabkan kenaikan pada harga pokok. Adhi khawatir, jika biaya produksi yang tinggi akan menyebabkan pengusaha berpikir lebih baik impor daripada memproduksi sendiri.

Sebenarnya, Negeri ini memiliki raw material yang sangat banyak. Tetapi karena tidak adanya jiwa industriawan, maka untuk memenuhi kebutuhan bahan-bahan untuk industri makanan dan minuman jarang sekali ada yang mau mengembangkannya. Padahal potensi pasarnya masih sangat besar, pendapatan industri makanan dan minuman tahun 2011 saja telah mencapai Rp650 triliun, sedangkan pertumbuhannya mencapai 11%-12% setiap tahunnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Program dan Kerjasama Komite Program Gapmmi Lena Prawira mengakui, sebagian besar bahan-bahan untuk indsutri makanan dan minuman masih diimpor, dikarenakan masih banyak sejumlah produk yang tidak dibuat di Indonesia. Selain itu, faktor ekonomis juga bisa alasan lainnya. “Ada beberapa pelaku usaha makanan dan minuman lebih memilih beli, karena pertimbangan lebih ekonomis,” terangnya.

Lena juga mengakui, masih minimnya keinginan investor untuk mendirikan industri bahan-bahan penunjang industri makanan dan minuman agar tidak bergantung dengan impor, karena dengan bahan lokal maka dapat menurunkan ongkos produksi hingga 5%. “Mungkin karena kurangnya dukungan Pemerintah, insentif yang kurang, terlalu banyak aturan untuk membuat pabrik. Sehingga membuat investor juga menimbang resiko-resikonya, ditambah jiwa pengusaha kita masih tipe pedagang,” pungkasnya.

Related posts