Dongkrak Penjualan, Kimia Farma Pasarkan 11 Obat Kanker

NERACA

Jakarta – Menyabut lembaga baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dituntut untuk menigkatkan perannya dan termasuk dalam memasok obat-obatan. Salah satu yang dilakukan perseroan adalam segera memproduksi dan memasarkan 11 item obat kanker.

Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan, produksi 11 item obat kanker tersebut dimaksudkan untuk mengisi kebutuhan obat-obatan di dalam negeri dan juga memenuhi pasar ekspor, “Sebelum akhir tahun 2013, ke 11 jenis obat kanker itu sudah dipasarkan. Saat ini obat baru tersebut sudah teregistrasi pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan, “katanya di Jakarta, Rabu (26/9).

Menurut Rusdi, selain penambahan 11 jenis obat baru tersebut, dan obat-obatan untuk aids dan hepatitis, akan menambah jumlah obat produksi Kimia Farma. Saat ini perusahaan memproduksi sekitar 385 item obat, terdiri atas sekitar 250 item obat generik dan sisanya atau sekitar 130 item obat bermerek (branded). "Kami berharap dengan mulai dikomersialkannya obat kanker tersebut akan mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan," ujarnya.

Meski demikian Rusdi tidak merinci lebih lanjut seberapa besar target penjualan dari obat kanker yang dimaksud. Dia menjelaskan, obat kanker tersebut juga akan dipasarkan ke luar negeri. Saat ini perseroan sedang gencar memperluas pasar ekspor yang mencapai sekitar 10% dari total produksi obat Kimia Farma, “Ekspansi pasar ekspor obat Kimia Farma sudah menembus tujuh negara di tiga benua Asia, Afrika dan Eropa,"ungkapnya.

Kata Rusdi, Kimia Farma juga meningkatkan produksi kina dan yodium yang sangat dibutuhkan di sejumlah negara Eropa dan Jepang."Kina saat ini tidak lagi hanya untuk obat malaria, tetapi juga digunakan untuk bahan makanan dan minuman di Eropa dan Amerika Serikat. Sedangkan permintaan yodium banyak datang dari Jepang setelah negara itu mengalami tsunami," ujarnya.

Strategi besar lainnya yang juga disiapkan Kimia Farma pada tahun 2012 adalah membangun 50 unit apotek baru, termasuk di antaranya membangun 3 apotek baru di Kuala Lumpur, Malaysia bekerjasama dengan perusahaan Averroes Sdn. Bhd., perusahaan distributor obat setempat. Asal tahu saja, pada tahun 2012 manajemen menargetkan pendapatan sekitar Rp4 triliun dengan laba sekitar Rp220 miliar.

Bangun Rumah Sakit Liver

Sebelumnya, perseroan juga berencana membangun sebuah rumah sakit untuk penanganan penyakit liver tahun ini dengan investasi Rp280 miliar dan menggandeng PT Prakarsa Transforma Indonesia. Alasan pendirian rumah sakit seiring dengan berkembangnya pasar kesehatan, selain juga ditunjang fakta bahwa hampir 20 juta masyarakat Indonesia menderita penyakit hepatitis. Rumah sakit liver dengan 14 tingkat ini akan berlokasi di Jalan DR. Sahardjo, Jakarta Selatan, dan didirikan di lahan seluas 14.000 meter persegi.

Pendanaan pembangunan rumah sakit ini, berasal dari pinjaman perbankan, baik BUMN maupun swasta nasional, serta pinjaman dari para pemasok yang akan memasok obat-obatan ke rumah sakit tersebut. Sementara sisa dana yang dibutuhkan berasal dari PT Prakarsa Transforma.

Setelah pembangunan RS liver di Jakarta Selatan ini, perusahaan farmasi plat merah ini akan membangun lima rumah sakit lainnya, antara lain di Medan, Bandung, Makassar serta Semarang. Pembangunan rumah sakit ini nantinya dapat memanfaatkan lahan yang dimiliki perseroan di beberapa kota tersebut. Setelah berhasil membangun lima rumah sakit, diharapkan kontribusi dari RS tersebut 10% ke perusahaan. (bani)

Related posts