Otoritas Klaim Bakal Lampaui Kapitalisasi Malaysia

NERACA

Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pasar modal Indonesia masih menjadi tempat investasi yang menarik bagi investor baik lokal maupun asing. Penurunan pertumbuhan kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diakui otoritas bursa menjadi tugas selanjutnya untuk meningkatkan pasokan pilihan saham dengan menambah jumlah emiten baru setiap tahunnya.

“Makanya kami terus melakukan beberapa program untuk membuat pasar modal Indonesia terus membesar. Nilai transaksi di Bursa Indonesia memang terus menurun di tahun ini dibandingkan di tahun lalu, namun pasar modal Indonesia tetap menarik minat investor asing dalam berinvestasi,” kata Direktur Perdagangan dan Keanggotaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Jumat (21/9) pekan lalu.

Menurut dia, BEI masih optimis mengejar kapitalisasi Malaysia. Caranya menambah jumlah emiten, pembangunan infrastruktur pasar modal, meningkatkan kapasitas mesin perdagangan transaksi bursa, meningkatkan rasa aman investor dalam berinvestasi melalui program pemisahan rekening dana nasabah (RDN) dan pembuatan fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes), serta melakukan sosialisasi demi menambah kepercayaan investor dalam berinvestasi.

“Kami juga memastikan bahwa emiten-emiten baru yang masuk ke bursa harus memiliki kualitas dengan melakukan penelahaan secara lebih komprehensif,” tambahnya. Seperti diketahui, berdasarkan data World Federation of Exchange, pertumbuhan kapitalisasi pasar tertinggi di bursa kawasan Asia Tenggara pada akhir Agustus 2012 ditempati oleh Bursa Filipina dengan kenaikan 22,3% menjadi US$206,33 miliar.

Urutan selanjutnya ditempati Bursa Singapura menjadi US$708,97 miliar (18,6%), Bursa Thailand US$326,78 miliar (16,1%) Bursa Malaysia US$446,87 miliar (14,2%) dan Bursa Efek Indonesia hanya menempati posisi kelima US$403,15 miliar.

Samsul juga menjelaskan, fluktuasi perdagangan saham di bursa membuat BEI masih melakukan kajian sebelum menetapkan batas leverage (tingkat pinjaman broker terhadap nasabah) dalam mekanisme revitalisasi produk derivatif.

“Ketika fluktuasi pasar tinggi, jika leverage yang diberikan terlalu besar maka dikhawatirkan akan menciptakan risiko terhadap investasi yang dilakukan oleh investor,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, saat ini BEI juga masih mengkaji beberapa aturan yang memungkinkan ketersediaan pihak yang menjadi penggerak pasar (liquidity provider) untuk produk derivatif yang baru tersebut.

“Penyebabnya BEI sudah memiliki produk derivatif namun kurang likuid ditransaksikan karena tidak ada pihak yang menjadi penggerak pasarnya,” pungkasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Penggunaan Panel Surya Di Atap Bakal Diatur

  NERACA   Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan peraturan mengenai panel surya pemasangan…

Hotel Mandarine Bakal Gelar Rights Issue

Perkuat modal dalam rangka mendanai ekspansi bisnisnya, PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) berniat menerbitkan saham dengan hak memesan efek…

Kapitalisasi Bursa Sepekan Menyusut 0,54%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penutupan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin melemah 0,54%…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…