Kadin Setuju Kenaikan Tarif Dasar Listrik

NERACA

Jakarta - Rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik sebesar 15% disetujui oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Hal itu disampaikan Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto saat ditemui di Hotel J.W Marriot, di Jakarta. “Pengusaha mendukung upaya pemerintah menaikkan tarif listrik,” ujarnya, Rabu (19/9).

Menurut dia, besarnya subsidi energi selama ini telah memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pihaknya telah mengantisipasi hal itu. Menurut dia, pihaknya juga tidak mempermasalahkan apakah kenaikan tarif listrik tersebut dilakukan secara sekaligus atau bertahap. “Menurut hemat saya ya naikin saja sekaligus 15%, ibarat kita sakit kanker masa diobatinya setengah-setengah, ya sekalian saja diambil,” tandasnya.

Dia mengakui, hal tersebut pastinya akan berdampak pada kenaikan biaya produksi, yaitu sebesar 5%. Karena itu, penyesuaian harga produksi pasti akan dilakukan. Kenaikan biaya produksi, menurut dia tentunya akan dibebankan kepada konsumen dengan menaikkan harga jual. “Kita akan hitung berapa persen secara umum peningkatan biaya, dan itu mungkin akan mengakibatkan sedikit kenaikan harga, sekitar 5%,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk kenaikan biaya produksi bervariasi tergantung sektor industrinya, dan akan ada jeda antara kenaikan tarif dasar listrik dengan kenaikan harga jual. Menurut dia, industri yang akan merasakan dampak yang besar adalah sektor industri yang pemakian listrik atau ketergantungan terhadap pemakaian listrik dominan seperti industri keramik, peleburan dan sebagainya.

Transparansi Subsidi

Meskipun demikian, Suryo mengatakan kenaikan dasar listrik nantinya harus dibarengi dengan transparansi penggunaan dana untuk subsidi. “Kita ingin agar subsidi yang ratusan triliun rupiah itu dikembalikan lagi kepada rakyat. Bayangkan, kalau estiap provinsi dikasih Rp 5 triliun, untuk membangun infrastruktur di daerah, menciptakan kesempatan kerja di daerah,” jelasnya.

Dia menjelaskan, saat ini Indonesia menjadi sasaran investasi global (darling of the investor) karena memiliki kekuatan sumber daya alam, tenaga kerja, dan ukuran pasar yang besar. Pada saat negara lain, melemah pertumbuhannya, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. “Lebih kurang US$ 20 miliar tercatat sebagai aplikasi tahun 2012 dan diharapkan dapat meningkat menjadi 30 miliar dollar Amerika di tahun 2013.” ujarnya.

Karena itu, Kadin mengingatkan bahwa sedikitnya ada dua tantangan besar yang dihadapi Indonesia saat ini yaitu menjaga pertumbuhannya tetap tinggi dan berkualitas serta pemerataan pembangunan. Sehingga pemerintah seharusnya bisa mempercepat pembangunan infrastruktur dan pembenahan birokrasi guna penguatan kepada para pelaku usaha, khususnya di daerah. Pasalnya, selama ini hambatan terberat bagi pengusaha adalah birokrasi, infrastruktur, yang cost-nya diperkirakan mencapai 17%.

Dia mengatakan, Kadin mengupayakan untuk mendorong peningkatan pemberdayaan ekonomi daerah dan meningkatkan akses para pelaku usaha di daerah ke pasar nasional dan internasional. Salah satu hal yang telah dilakukan adalah memberikan jaminan pembiayaan bagi para pelaku usaha di daerah-daerah melalui unit pembiayaan Palapa Fund.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Segera Berlakukan Tarif Pajak 0,5 Persen Untuk UMKM

Penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) final untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang beromzet di bawah Rp 4,8 miliar…

Toyota Akan Gelontorkan Investasi Baru Untuk Mobil Listrik

Toyota melalui PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) siap menggelontorkan untuk pengembangan mobil listrik di dalam negeri, yang ditargetkan pemerintah…

PLN Jamin Pasokan Listrik Pilkada Jabar 2018

PLN Jamin Pasokan Listrik Pilkada Jabar 2018 NERACA Bandung - Perseroan Terbatas PLN Jawa Barat menjamin keandalan pasokan listrik terkait…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…