Kenaikan TDL Jangan Hanya Dibebankan Pada Industri

Rabu, 19/09/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15% pada 2013 tidak hanya dibebankan pada sektor industri. Kemenperin telah meminta pemerintah membuat suatu skema untuk sektor perdagangan dan mall serta hotel dikenakan kenaikan TDL. “Jika sektor industri yang menerima peningkatan TDL, hal tersebut sangat memberatkan,” kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat di Jakarta, Selasa (18/9).

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, kalangan pelaku usaha tidak keberatan dengan rencana pemerintah untuk menaikan TDL. Namun, berdasarkan hasil kalkulasi versi pengusaha, kenaikan sampai 15% untuk menghemat subsidi Rp14,89 triliun sama artinya dengan hanya menaikkan tarif listrik industri.

“Kami tidak keberatan TDL naik, kalau berdasarkan perhitungan kami, kenaikan 15% untuk menghemat subsidi Rp14,89 triliun berarti hanya akan menaikkan tarif listrik untuk industri dan yang kecil-kecil tidak. Hal tersebut sangat merugikan industri, pasalnya industri harus mensubsidi kalangan pengguna listrik rumah tangga sebesar 35 juta pelanggan,” ujarnya.

Industri, menurut Sofjan, meminta agar dalam menaikkan TDL, pelanggan listrik kalangan rumah tangga juga dikenakan kebijakan yang sama. Dari pada hanya menaikkan TDL industri, dampak terburuknya adalah PHK. “Tanpa dipusingkan kenaikan TDL, industri nasional sudah terancam oleh serbuan produk impor. Lama-lama, semakin banyak perdagangan di pasar domestik kita yang mengutamakan impor serta terjadi PHK,” paparnya.

Sofjan menambahkan, apabila pemerintah menerapkan kenaikan secara merata, besaran kenaikan tidak akan terlalu besar. Bahkan, untuk memperoleh penghematan subsidi listrik Rp14,89 triliun kemungkinan pemerintah maksimal hanya perlu menaikkan TDL sebesar 5%. “Kalau semua diberikan beban kenaikan TDL, kami rasa kenaikan maksimal hanya 5%. Di sisi lain, tambahan beban industri juga tidak terlalu berat di tengah banyaknya inefisiensi yang terjadi,” tandasnya.

Bisa Ditolelir

Sedangkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menilai kenaikan TDL bisa ditolerir. “Kalo 15% mungkin masih bisa di tolerir walaupun tetap memerlukan langkah-langkah penyesuaian bagi industri yang hampir dapat dipastikan akan membebankan konsumen,” katanya

Ketika ditanya mengenai dampak kenaikan TDL terhadap industri, Suryo mengatakan, dampaknya akan variatif tergantung pada jenis industrinya.“Mungkin variatif, ya tergantung industrinya tapi secara umum mungkin sekitar 10% peningkatannya terhadap biaya produksi,” ungkapnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman, Adhi Lukman, rencana kenaikan TDL sebanyak 15 persen itu dianggap memberatkan pengusaha. "Kami tetap minta untuk rencana kenaikan TDL itu dibatalkan," kata Adhi.

Dewan Perwakilan Rakyat melalui Komisi Energi telah menyetujui rencana pemerintah untuk menaikkan TDL. Dengan persetujuan DPR itu, pemerintah bisa menaikkan TDL per 1 Januari 2013 mendatang. Meskipun begitu, pemerintah juga menyatakan kenaikan TDL tersebut tidak akan berimbas kepada pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA.

Menurut Adhi, kenaikan TDL tahun depan akan sangat terasa memberatkan operasional para pengusaha. Soalnya, kata dia, harga-harga tahun depan diprediksi juga akan mengalami kenaikan. "Apalagi harga gas juga baru saja naik. Jadi semua harga ini naiknya bersamaan dan itu memberatkan," kata Adhi.

Kenaikan TDL 15% pada 2013, menurut Adhi, berpotensi menaikkan harga bahan pokok untuk industri sebesar 2%. "Kalau harga bahan pokok naik sebesar itu sangat memberatkan," katanya. Meskipun begitu, Adhi menunggu keputusan pemerintah soal kenaikan TDL tersebut.