Industri Pengolahan CPO Butuh Peningkatan Teknologi

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta – Industri pengolahan kelapa sawit Indonesia nampaknya belum didigarap dengan baik. Oleh karena itu pemanfaatan teknologi diharapkan akan membantu produktivitas industri minyak sawit di Indonesia. Dengan cara itu, setidaknya, Indonesia mampu lebih bersaing dengan sesama produsen minyak sawit seperti Malaysia.

Sejumlah perusahaan melakukan ekspansi bisnis di industri hilir kelapa sawit. Selain terkait upaya penciptaan nilai tambah, perluasan bisnis di industri hilir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini juga didorong kebijakan pemerintah yang menetapkan bea keluar (BK) ekspor lebih besar untuk produk industri, seperti CPO. "Kami menyiapkan investasi sekitar Rp 2 triliun untuk membangun pabrik oleokimia yang terintegrasi," kata Direktur Grup Permata Hijau Sawit Johnny Virgo di Jakarta, kemarin.

Menurut Johnny, pabrik pengemasan dan pengolahan CPO, termasuk produk oleokimia milik Permata Hijau di Sumatera Utara, sudah dalam tahap pembangunan. Diperkirakan bisa selesai pada akhir 2012. Dalam hal ini, kalangan dunia usaha menyambut positif Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK.011/ 2011 yang menetapkang bea keluar ekspor CPO (produk hulu CPO) lebih besar dibanding produk hilirnya.

Peningkatan Produktivitas

Sementara itu, Direktur Utama Fireworks Indonesia Susan Tricia mengungkapkan pemanfaat teknologi yang tepat diharapkan membantu meningkatkan produktivitas industri kelapa sawit Indonesia dan mengejar ketinggalan dengan negara lain khususnya Malaysia.

Lebih jauh lagi Susan mengatakan,Palmex Indonesia memperlihatkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Apabila pada Palmex Indonesia 2010 tercatat USD 100 juta, kemudian meningkat menjadi US$ 150 juta di Palmex Indonesia 2011, maka transaksi on-the-spot pada Palmex Indonesia 2012 ditargetkan mencapai US$ 250 juta.

“Belanja teknologi industri kelapa sawit diprediksikan terus meningkatkan. Dengan hadirnya para pemain besar di Palmex Indonesia 2012, kami optimis dapat membantu mereka menemukan kebutuhan mereka akan teknologi pengolahan kelapa sawit,” kata Susan.

Palmex Indonesia adalah ajang yang tepat untuk memperkenalkan dan menampilkan teknologi industri pendukung minyak pengolahan kelapa sawit. Pameran tahun ini akan diikuti oleh lebih dari 100 eksibitor. Jumlah ini meningkat sebesar 25% dari jumlah eksibitor pameran tahun lalu yaitu sebesar 75 eksibitor. Peningkatan tidak hanya terjadi dalam hal jumlah eksibitor. Ruang pameran juga meningkat dari 2,500 m2 menjadi 4,500 m2.

Ini dimungkinkan karena pemindahan lokasi pameran yang kini menempati tempat event MICE baru di Medan yaitu Medan International Convention Center yang memiliki area lebih luas dan lebih nyaman. Dengan peningkatan jumlah eksibitor dan ruang pameran, Fireworks Indonesia selaku penyelenggara Palmex Indonesia juga menargetkan peningkatan pengunjung, baik dalam hal kuantitas dan kualitas. Apabila pada penyelenggaraan pameran tahun lalu tercatat lebih dari 5,580 pengunjung dengan profil pengunjung 35% dari kalangan CEO, 23% dari engineers, serta 34% merupakan purchaser, tahun ini Fireworks Menargetkan 7,000 orang mengunjungi Palmex Indonesia 2012.

Sejumlah nama besar di industri minyak sawit di Indonesia maupun mancanegara siap hadir memamerkan produk dan teknologi mereka seperti PT Kawan Lama Sejahtera, PT Multi Mayaka, PT Jebsen and Jessen Technology, PT Super Andalas Steel, YKL Engineering Group, Siemens, Schneider Electric, Kaltimex Energy, Lipotech Engineering, Forbes Marshall, Triveni Turbines.

Sedangkan beberapa brand yang akan diwakilkan antara lain: Brevini, Karcher, Bosch, WM Welding, Krisbow, Nilfisk, SEW EuroDrive, Yokogawa, Pepperl+Fuchs, Takuma Boiler, Hyundai Heavy Industries, Fuji Electric, LS, LG, GE and Flowserve. Beberapa perusahaan besar yang menyatakan akan hadir antara lain Wilmar, Bakrie, PP London, Smart, dll. 100% dari lahan seluas 4.500 m2 yang disediakan telah dipenuhi oleh lebih dari 100 perusahaan dari Indonesia dan mancanegara seperti Malaysia, India, Singapore, England, China, Italy, Vietnam, and German.