Korea Selatan Diharapkan Berinvestasi US$ 50 Miliar

Kerjasama Ekonomi Bilateral

Senin, 17/09/2012

NERACA

Jakarta - Pemerintah menargetkan investasi dari Korea Selatan di sektor manufaktur mencapai US$50 miliar pasca perjanjian Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengungkapkan bulan depan, pemerintah akan mengadakan pertemuan dengan pelaku usaha serta Pemerintah Korea Selatan untuk membahas potensi investasi yang akan masuk ke Indonesia setelah perjanjian CEPA.

Lebih jauh lagi Hidayat memaparkan, pemerintah Korea Selatan, telah menerima keputusan pihak Indonesia mengenai besarnya investasi yang akan ditanamkan.“Pasca perjanjian CEPA, investasi dari Korea Selatan ke Indonesia diperkirakan US$50 miliar. Target tersebut akan dicapai dalam waktu lima tahun,” paparnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hidayat menjelaskan bahwa memerlukan waktu dua tahun untuk mencapai kesepakatan CEPA dengan Korea Selatan.“Pemerintah perlu mempelajari minat investasi dari Korea Selatan, jangan sampai CEPA merugikan produsen Indonesia,” ujarnya.

Menurut Hidayat, investasi dari Korea Selatan pada tahun ini ditargetkan mencapai US$12 miliar. “Jika Honam Petrochemical Corporation merealisasikan investasinya di sektor petrokimia sebesar US$6 miliar, maka investasi dari negeri ginseng itu sebesar US$12 miliar pada 2012, ditambah dengan investasi di bidang smelter dan infrastruktur,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama,Hidayat juga menerangkan kalau perusahaan asal Korea Selatan, PT Samsung Electronics juga akan berinvestasi di Indonesia dengan membangun pabrik ponsel untuk mengurangi impor. “Pada pertemuan dengan duta besar Korea Selatan, pemerintah meminta pihak Samsung Electronics untuk memproduksi ponsel di Indonesia. Namun, produsen asal negeri gingseng tersebut masih mengkaji pembangunan pabrik di dalam negeri,” kata Hidayat.

Impor ponsel di Indonesia, menurut Hidayat, semakin menunjukkan peningkatan yang besar.“Diperkirakan hingga akhir tahun, impor ponsel mencapai 50 juta unit. Hal ini menunjukkan pasar ponsel di Indonesia sangat potensial,” paparnya.

Pihak Samsung, lanjut Hidayat, menanyakan mengenai investasi pabrik ponsel asal Taiwan Foxcon. “Pemerintah mempersilahkan Samsung membangun pabrik di Indonesia. Untuk insentif yang akan diberikan, tidak ada perbedaan bagi Samsung dan Foxcon,” ujarnya.

Hidayat menambahkan, investasi di sektor elektronik akan memberikan nilai tambah bagi produk yang dipasarkan. “Jika produsen ponsel membuat produknya di Indonesia, maka meningkatkan daya saing dan mengurangi impor,” tandasnya.

Yang tidak kalah menarik yaitu,ujar Hidayat salah satu perusahaan asal Korea Selatan yang bergerak di sektor otomotif meningkatkan investasinya di dalam negeri dengan membangun pabrik. “Pada forum Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Rusia, presiden dari Korea Selatan sudah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menyepakati kerja sama untuk memproduksi mobil ramah lingkungan dan hybrid. Dalam waktu dekat, pemerintah akan melakukan pembicaraan dengan pihak swasta dan Badan Usaha Milik Negara,” kata Hidayat.

Kerja sama antara Indonesia dengan Korea Selatan dalam memproduksi mobil ramah lingkungan dan hybrid, menurut Hidayat, akan dibicarakan pada APEC di Bali.“Kelanjutan kerja sama produsen Korea Selatan dengan pihak Indonesia untuk membuat mobil ramah lingkungan dan hybrid dibahas di APEC 2013. Selama ini, pangsa pasar mobil asal Korea Selatan hanya 2%,” paparnya.

Prinsipal asal Korea Selatan di Indonesia, lanjut Hidayat, diharapkan ikut berpartisipasi dalam program tersebut. “Kami mengimbau PT Hyundai Mobil Indonesia meningkatkan investasinya di Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu cara meningkatkan penjualan produknya,” tuturnya.

Hidayat menegaskan kesepakatan pemerintah Indonesia dan Korea Selatan memproduksi mobil ramah lingkungan dan hybrid, harus di dukung oleh prinsipal otomotif.“Sudah sewajarnya Hyundai berminat pada program pemerintahnya dan kami yakin Hyundai mau menanamkan modalnya di Indonesia,” tandasnya.