Pasar Obligasi Masih Menjanjikan, Namun Tidak Bisa Berharap Return Double Digit

NERACA

Jakarta – Pasar obligasi di Indonesia masih menjanjikan ke depannya, apalagi dengan yield yang masih rendah. “Pasar obligasi kita masih positif namun tidak semenarik tahun 2010-2011. Ini disebabkan oleh yield rata-rata masih berkisar di 6% yang termasuk rendah,” kata Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunanto di Jakarta, Kamis (13/9).

Dia menambahkan bahwa yield di Indonesia masih naik turun diakibatkan oleh kondisi perekonomian global yang masih belum menentu. Peran pemain domestik masih cukup signifikan dalam membuat pergerakan yield stabil.

Disebutkannya, yield turun di awal-awal tahun dan awal-awal bulan ini turun lagi karena ada uncertainty di perekonomian global. Di 2012 yield-nya tidak terlalu naik turun karena ada pemain domestik, misal bank dan asuransi yang jadi buyer.

Menurutnya, pembeli obligasi dalam negeri yang terbanyak adalah perbankan, khususnya Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral. “Sampai 2012 pembeli obligasi terbanyak adalah perbankan adalah Rp131 triliun. Bank sentral juga sama sebagai pembeli terbesar,” jelasnya.

Obligasi Pemerintah Aman

Lanjutnya, bahwa harga obligasi pemerintah cukup terjaga karena pasar obligasi Indonesia merupakan yang cukup stabil di Asia. Termasuk dengan pelemahan nilai tukar atau depresiasi rupiah yang tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pasar obligasi.

Kemudian pelemahan rupiah ke depan, dinilainya tidak akan terlalu turun karena yield dalam negeri masih menarik dan prediksi nilai rupiah akhir tahun adalah Rp9600-9700. “Kalau currency masih bisa dikontrol di posisi sekarang maka asing akan bertahan di kita,” tuturnya.

Namun para investor, katanya, jangan terlalu berharap mendapatkan return yang tinggi karena yield-nya rendah. “Pasar obligasi masih menjanjikan tapi untuk mendapatkan double digit di return harus dilupakan. Karena yield rendah maka emiten akan mendapatkan harga yang rendah di obligasi. Yang bisa dioptimalkan adalah reksadana, karena ini adalah net seller,” paparnya.

Kemudian untuk obligasi korporasi, Handu mengatakan bahwa hal ini bertumbuh. “Korporasi banyak meng-issued obligasi untuk refinancing. Outstanding penerbitannya sampai bulan ini sebesar Rp170 triliun. Ini dari sektor multifinance, perbankan, dan infrastruktur,” katanya.

Obligasi Jatuh Tempo

Selain itu, dia menyebutkan, tahun depan jatuh tempo obligasi korporasi masih sebesar Rp22 – 23 triliun. “Mereka masih akan menerbitkan obligasi lagi karena masih perlu refinancing untuk ekspansi usahanya, kemudian dikarenakan suku bunga rendah dan pertumbuhan ekonomi tinggi,” jelasnya.

Karena itu, dia bilang bahwa outstanding akhir tahun bisa bertambah lagi Rp30 triliun, sehingga menjadi Rp200 triliun. Pasalnya, ada izin Penerbitan Umum Berkelanjutan (PUB) dari Bapepam-LK yang juga mendorong penerbitan lebih besar.

Sementara untuk obligasi korporasi menurutnya masih lebih banyak dimiliki investor lokal, daripada asing. “Jumlah obligasi korporasi yang dimiliki asing cuma Rp600 miliar. Ini berkebalikan dari obligasi pemerintah yang banyak dimiliki asing sampai sebesar Rp8 triliun,”tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Kantor Asian Development Bank (ADB) untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan J Azis mengatakan, krisis ekonomi yang melanda Eropa bisa mengancam pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur yang tengah berkembang dan mencapai US$ 6 triliun.

Oleh karena itu, para pembuat kebijakan di kawasan ini harus mempersiapkan diri untuk guncangan dan volatilitas yang akan terjadi dari pasar keuangan global. Pasalnya, pasar obligasi mata uang lokal bisa sebagai alternatif yang aman di tengah krisis. Kendatipun demikian, dia menghimbau untuk tidak boleh lengah.

Menurut Iwan, pasar yang memiliki volatilitas yang tinggi dapat menghalangi investasi jangka panjang dan mengancam perekonomian karena meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah dan perusahaan dalam mengumpulkan dana. (ria)

Related posts