Golden Eagle Energy Investasi U$ 45 Juta

Garap Bisnis Tambang

Jumat, 14/09/2012

NERACA

Jakarta – Memulai bisnis baru di sektor tambang, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) akan mencari pinjaman sekitar US$30 juta untuk menambah dana belanja modal tambang perseroan pada 2012.

Presiden Direktur PT Golden Eagle Energy Tbk, Hendra Surya mengatakan, pihaknya telah memiliki dana sebesar US$18 juta untuk menjalankan bisnis tambang perseroan di Triaryani dan PT International Prima Coal pada 2012. "Kami masih kurang dana sekitar US$25 juta-US$30 juta. Sisa dana akan dari pihak ketiga, kami telah melakukan pembicaraan dengan bank. Diharapkan kuartal keempat sudah dapat pinjaman,”katanya di Jakarta, Kamis (13/9).

Dia menuturkan, total investasi diperkirakan sekitar US$35 juta-US$45 juta. Dana tersebut diperkirakan sebagian besar untuk logistik dan pengembangan. Perseroan memiliki dua tambang di Triaryani yang berlokasi di Sumatra Selatan dan International Prima Coal di Kalimantan Timur.

Saat ini, tambang Triaryani di Sumatra Selatan masih tahap pengembangan dengan luas konsesi 2.144 hektar. Produksi diharapkan dapat dimulai pada 2013 dengan kapasitas 1 juta ton dengan kalori sekitar 5.541 dan diharapkan dalam empat tahun ke depan dapat capai 5,5 juta ton.

Selain itu, tambang International Prima Coal diharapkan berproduksi kurang lebih 1 juta ton pada 2012 dari realisasi tahun lalu 560 ribu ton. Luas konsesi tambang International Prima Coal mencapai 3.238 hektar. Kalori batu bara sekitar 4.200-5.300. Untuk harga jual batu bara perseroan sekitar US$41-US$42.

Hendra menuturkan, pihaknya melakukan sebagian besar penjualan batu bara ke China,India, dan Filipina. Penjualan domestik sebagian besar untuk PLN. "Komposisi sekitar 70% untuk ekspor dan sisanya domestik," kata Hendra.

Kinerja Keuangan

Hingga Agustus 2012 setelah akuisisi tambang, perseroan meraih pendapatan Rp18,77 miliar dan laba komprehensif masih rugi sekitar Rp0,69 miliar. Aset perseroan mencapai Rp470,24 miliar hingga Agustus 2012. Sementara itu perseroan mencatatkan ekuitas sebesar Rp418,16 miliar hingga Agustus 2012.

Pihaknya pun optimis terhadap kinerja perseroan pada 2012 meski industri batu bara sedang kurang baik. Pihaknya akan mengendalikan stripping ratio dan jarak angkut over budden dipersingkat. International Prima Coal (IPC) memiliki jumlah cadangan 11 juta ton yang dapat beroperasi 7-8 tahun mendatang dengan kalori 4.200-5.300 kkal. Volume penjualan hingga Agustus 2012 telah mencapai 583,83 ribu ton dari 370,72 ribu ton pada tahun sebelumnya.

Sedangkan, Triaryani memilii sumber daya batu bara mencapai 384 juta ton dengan cadangan 242 juta ton. Menurut Hendra, Triaryani memiliki formasi batu bara yang sangat tebal dengan aset Rp155,86 miliar hingga Agustus dari Rp88,79 miliar.

Selain itu, manajemen perseroan mengklaim kedua tambang tersebut tidak memiliki masalah dalam pengembangannya. "IPC sudah clean and clear tahap pertama. Tambang yang sudah ada bebas dari hukum dan tidak ada tumpang tindih," kata Hendra.

Disamping itu, perseroan sedang menyelesaikan pelepasan seluruh segmen usaha restoran dan hiburan dengan brand Amigos dan Papa Rons karena kegiatan perseroan akan fokus di sektor pertambangan."Status pelepasan masih berjalan karena ada hal yang harus dipenuhi oleh pembeli. Proxit pelepasan tidak besar sekitar Rp3 miliar-Rp3,5 miliar," tegasnya. (bani)