Menantikan Terobosan Citilink Menjadi Maskapai Go Public

Tingkatkan Performace Keuangan

Rabu, 12/09/2012

NERACA

Jakarta – Mencatatkan performance kinerja keuangan yang baik tiap tahunnya, menjadi bekal bagi Citilink untuk memuluskan rencananya mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada tahun 2015 mendatang.

Direktur Utama Citilink Arif Wibowo, rencana IPO baru dapat dilakukan bila Citilink sudah mencatatkan keuntungan sebanyak dua kali dan performa perusahaan berkembang, “Kalau 'profit' dan 'growth' sudah terpenuhi, maka kita IPO," katanya di Jakarta, Selasa (11/9).

Dia menambahkan, sejumlah persiapan IPO sudah dilakukan perseroan seperti kebutuhan awak pilot harus tercukupi dan penambahan armada. Hingga Oktober 2012, Citilink akan memiliki 21 pesawat. Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang baru saja spin off ini, terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan untuk lebih mandiri dari pendanaan induk usaha.

Maskapai penerbangan berbiaya rendah ini, berhasil mengangkut 1,84 juta penumpang pada semester pertama tahun ini atau meningkat 62% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 1,14 juta. Kondisi ini didukung bertambah jumlah pesawat menjadi 15 pesawat.

Paruh pertama tahun ini, Citilink mencatatkan pendapatan hampir Rp1 triliun dan tak heran bila perseroan menjadi andalan induk usahanya Garuda Indonesia guna meningkatkan pendapatan.

Sepanjang tahun ini, Citilink memproyeksikan pendapatan sebesar Rp2 triliun. Untuk laba, Citilink mengharapkan tahun ini sudah "break event point". Tahun ini, Citilink dapat mengangkut 4 juta orang, degan frekuensi 100 penerbangan per hari. Pada 2015 mendatang, Citilink menargetkan dapat mengangkut 16,4 juta penumpang

Siap Bersaing Ketat

Kemudian perseroan siap bersaing dan tidak ciut merebut pasar penerbangan berbiaya murah atau low cost carier (LCC) terhadap pemain yang sudah ada, seperti AirAsia dan Lion Air. Saat ini pasar penerbangan berbiaya murah di Indonesia masih 7% dari seluruh pendapatan bisnis penerbangan. Jumlah ini tertinggal jauh bila dibandingkan dengan Filipina yang sudah mencapai 54% dan Singapura 20%.

Arif Wibowo pernah bilang, pihaknya mengaku tidak takut dalam bersaing karena pasar punya segmen sendiri. Perseroan juga tetap optimis mampu bersaing, karena pasar di Indonesia masih belum mengenal dengan baik mengenai bentuk business LCC yang modern. Disamping itu, hal yang membedakan Citilink dengan low cost Airlines lainny adalah Citilink merupakan anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk yang sudah memiliki reputasi dan standar yang baik.

Bahkan guna menyiasati persaingan ketat tersebut, pihaknya akan menambah penerbangan regional pada tahun depan, "Tahun 2012 kita fokus memperkuat domestik, SIUP kita ada 70 penerbangan domestik, 16 rute regional dari Kemenhub. Tahun depan kita sudah masuk regional," ungkapnya.

Sementara untuk penerbangan regional, maskapai ini hanya membidik penerbangan yang mempunyai durasi terbang tidak lebih dari 3 jam. Hal tersebut dilakukan karena untuk menghemat atau efisien khas penerbangan dengan tarif murah.

Tambah Armada

Rencananya, Citilink akan melakukan penerbangan ke Australia bagian Selatan, Malaysia dan Singapura. Dia mengakui penerbangan low cost carrier ini tidak akan melakukan service seperti premium service. "Ini memang tidak sama dengan full service atau premium service," pungkasnya.

Kemudian untuk meningkatkan pelayanannya kepada konsumen, Citilink juga sudah dalam proses realisasi penambahan jumlah armada Airbus A320 hingga empat kali lipat, dari 5 menjadi 20 buah dari 2012 sampai 2013. Dari sisi total armada, akan ada penambahan 11 pesawat baru pada 2012 dan 10 pesawat lagi pada 2013.

Citilink juga akan menambah rute penerbangan baru ke Jogjakarta, Padang, dan Pekanbaru pada tahun ini. Tahun lalu, Citilink memiliki 30 penerbangan dalam sehari. "Sementara pada akhir tahun ini, kami menargetkan menjadi 125 penerbangan dalam sehari," jelasnya. Tahun depan, Citilink berencana mengembangkan rute internasional.

Sementara dari segi penumpang, Citilink mencatat ada 1,6 juta penumpang tahun lalu. Tahun ini, Citilink memasang pendapatan mencapai Rp 2 triliun.

Asal tahu saja, saat ini tren pasar penerbangan berbiaya murah mulai mengalami peningkatan dan hal ini diakui Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti, persaingan antara maskapai berbiaya murah kian ketat. Akan tetapi, pangsa pasar untuk maskapai-maskapai jenis itu masih besar.

Pangsa pasar yang besar, kata Herry, ditunjukkan oleh pertumbuhan rata-rata penumpang pesawat per tahun yang mencapai 15%. Bahkan dengan angka itu, diyakini Herry tidak ada maskapai yang saling berebut penumpang, “Selama ini persaingan ini enggak ada saling memakan,"kata Herry. (bani)