Urbanisasi Setelah Lebaran

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Hari-hari belakangan ini arus lalu lintas di DKI Jakarta terasa lebih padat daripada sebulan sebelum bulan Puasa. Hal itu dapat dimaklumi karena bersamaan dengan arus balik Lebaran 2012, banyak warga perdesaan yang ikut ”terbawa arus” ke kota-kota besar, termasuk ke Jakarta.

Mereka adalah warga perdesaan yang berpindah ke kota, karena di tempat asalnya mereka tidak mempunyai lapangan pekejaan yang layak untuk menopang kebutuhan hidupnya.

Apalagi dalam budaya konsumtif seperti sekarang, yang mengutamakan kepemilikan benda-benda mewah, membuat orang lebih suka untuk berurbanisasi ke kota besar. Kota besar seakan menjadi obsesi yang bisa menjawab segala mimpinya akan terpenuhinya kebutuhan hidup itu.

Di kota besar, ada pula glamour yang membuat mereka seperti laron yang melihat cahaya cemerlang di gelap malam. Berbeda dengan ketika mereka tinggal di kampungnya, hanya gelap dan sunyi saja yang menerkam.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan arus urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota pasca Lebaran 2012 mencapai satu juta orang.

Kota-kota besar khususnya Jakarta masih menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat yang melakukan urbanisasi. Orang-orang dari luar Pulau Jawa menganggap Jakarta itu lokasi yang tepat untuk mencari lapangan pekerjaan.

Padahal, Jakarta pada saat ini tengah menghadapi berbagai permasalahan salah satunya kepadatan penduduk. Penduduk kota besar sudah banyak yang hidup dalam kemiskinan. kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah, apalagi jika arus urbanisasi didominasi para pencari kerja tanpa keahlian.

Arus urbanisasi yang tidak terkendali dan didominasi para pencari kerja tanpa keahlian akan menimbulkan beban baru bagi pemerintah. Karena pemerintah kota harus menyiapkan berbagai strategi menghadapi urbanisasi salah satunya dengan menyiapkan balai latihan kerja.

Sebaliknya, daerah pengirim perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru serta memberi insentif bagi penduduk untuk tidak melakukan urbanisasi. Dikaitkan dengan program kependudukan, pertambahan penduduk usia produktif di perkotaan menjadi ancaman tersendiri. Ketika yang datang adalah anak-anak muda usia subur, tanpa pekerjaan dan akhirnya menikah, sehingga dapat melahirkan generasi miskin baru di perkotaan. Hal itu menimbulkan “lingkaran setan” dalam bidang kependudukan, sehingga semakin memperberat tekanan kependudukan terhadap lingkungan.

Oleh karena itu, diperlukan strategi pemerintah secara lebih mendasar, agar masalah urbanisasi ini tidak menjadi kian deras.

BERITA TERKAIT

Bisa Kenakan Tarif Bagasi Setelah Sosialisasi

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan pihak Lion Air dan Wings Air bisa mengenakan tarif bagasi setelah sosialisasi yang…

Menjaga Pertumbuhan Bisnis - Setelah Gojek, BIRD Terbuka Berkolaborasi

NERACA Jakarta –Menjaga eksistensi PT Blue Bird Tbk (BIRD) ditengah ketatnya persaingan bisnis transportasi onlinel, maka kolaborsai menjadi pilihan yang…

Harga Minyak Dunia Melonjak 8 Persen Setelah Turun Tajam

NERACA Jakarta – Harga minyak melonjak pada akhir perdagangan pekan lalu membukukan kenaikan harian terkuat dalam lebih dari dua tahun…

BERITA LAINNYA DI

Hadir Dalam Tiga Tipe, All New Camry Lebih Mewah dan Agresif

PT Toyota Astra Motor (TAM) membuka tahun 2019 dengan menghadirkan All New Camry yang diklaim memiliki tampilan lebih mewah dan…

Pabrikan Volkswagen Cetak Rekor Penjualan di 2018

Volkswagen mencetak rekor pada 2018 dengan menjual 6,24 juta kendaraan bermerek VW, terlepas dari masalah pengiriman yang disebabkan oleh aturan…

Ford Rencanakan Teknologi Nirkabel Baru Untuk Mobil

Ford Motor Co mengatakan pada Senin (7/1) bahwa pihaknya berencana untuk meluncurkan teknologi nirkabel untuk model kendaraan baru di Amerika…