BEI Ngotot Pengurangan Lot Saham Dilakukan Tahun Depan

Masih Dalam Kajian

Selasa, 11/09/2012

NERACA

Jakarta – Rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot dalam rangka meningkatkan likuiditas pasar modal, tetap akan dilakukan pada tahun depan. “Kita mengharapkan perubahan jumlah saham dalam lot sudah dapat diimplementasikan pada 2013, kajian diharapkan selesai tahun ini sehingga dapat disosialisasikan ke investor,"kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat di Jakarta, Senin (10/9).

Bahkan dirinya menyampaikan, rencana pengurangan jumlah saham sudah di sampaikan kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk dilakukan kajian. Alasan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot dari 500 lembar menjadi 100 lembar itu diharapkan dapat memperbesar jumlah investor ritel di pasar modal Indonesia.

Saat ini, jumlah akun investor yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus sebanyak 337.881 atau menurun sebanyak 7,51 persen dari 365.321 per Januari 2012. Di BEI, Samsul mencontohkan, batasan minimal pembelian saham saat ini sebanyak 500 lembar atau satu lot, misalnya harga saham perusahaan senilai Rp100 maka dana minimal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot sama dengan Rp50.000.

Oleh karena itu, menurut Samsul dengan memperkecil jumlah saham dalam lot maka investasi di dalam pasar modal akan lebih murah dan dengan begitu nantinya akan membuat investor ritel menjadi mudah berinvestasi dan menambah jumlah investor ritel.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, pengurangan jumlah saham dalam satuan lot itu untuk mempermudah investor membangun portofolio. Indonesia memiliki jumlah penduduk lebih dari 200 juta dan luas wilayah yang besar sehingga diharapkan dengan pengurangan jumlah saham itu dapat mendorong partispasi investor ritel lebih banyak.

Kata Hoesen, jika satuan lot dalam saham berkurang, diharapkan juga akan terjadi peningkatan transaksi dan likuiditas dibandingkan saat ini. Kendati demikian, Hoesen mengaku, untuk merealisasikan pengurangan jumlah saham dalam satuan lot itu tidak mudah direalisasikan dikarenakan infrastruktur terutama sistem pada information technology (IT) di BEI dan perusahaan efek harus disiapkan. Selain itu juga harus dilakukan sosialisasi menyeluruh.

Pro Kontra

Asal tahu saja, rencana pengurangan jumlah saham dalam lot menuai pro dan kontra dari pelaku pasar dan termasuk analis. Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomuan Sihombing pernah bilang, pengurangan tersebut tidak perlu dilakukan karena harga saham murah di pasar modal sudah sangat banyak, sehingga tidak perlu dikurangi jumlahnya dalam satu lot. "Likuiditas saham tidak perlu menurunkan lotnya, lebih baik di stock split saja,"tegasnya.

Penguatan basis investor serta memperbanyak emiten, menurut Pardomuan, dianggap lebih mumpuni untuk menaikkan likuiditas saham. Pardomuan mencontohkan pelaksanaan stock split yang dilakukan PT Astra Internasional Tbk (ASII) pada harga Rp 6.800 per lembar saham dari harga sebelumnya Rp 60.000 per lembar saham menjadi salah satu acuannya."Sekarang semua orang bisa memiliki saham Astra karena sudah murah. Kalau jumlah lot dikurangi, bagaimana dengan harga saham yang kecil-kecil di level Rp 50," tuturnya.

Sementara itu analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, rencana pengurangan jumlah saham dalam satu lot hanya akan menguntungkan saham yang memiliki fundamendal kurang baik. "Kalau untuk saham yang memiliki fundamental baik justru kurang menguntungkan," tuturnya. (bani)