Hindari Gagal Bayar, Central Proteinaprima Restrukturisasi Obligasi US$325 juta

Targetkan Tahun Ini

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta- PT Central Proteinaprima Tbk. (CPRO) optimis restrukturisasi obligasi dapat diselesaikan dengan baik pada tahun ini. Pasalnya, para pemegang obligasi diyakini telah menyetujui proposal terbaru restrukturisasi tersebut.

Kata Presiden Direktur Central Proteinaprima, Mahar Sembiring, pihaknya menegaskan tidak ada rencana alternatif untuk mengantisipasi risiko gagal bayar,”Proses negosiasi restrukturisasi dengan para pemegang obligasi berjalan dengan baik dan saat ini telah masuk commercial term dengan pemegang obligasi utama sehingga sampai sejauh ini tidak ada plan B,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, selain proses negosiasi yang berjalan cukup baik dan telah memasuki tahap commercial term dengan pemegang obligasi utama, proses restrukrisasi ini pun diupayakan dapat berjalan dengan bersih dan transparan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sehingga diharapkan bisa selesai pada 2012.

Rencananya, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB tersebut pada 28 September mendatang dan setelah itu akan melakukan filing ke Pengadilan Singapura. Dengan penyelesaian restrukrisasi obligasi tersebut, diharapkan saham PT Central Proteinaprima Tbk dapat dibuka di seluruh pasar.

Dia menambahkan, dalam melakukan restrukturisasi obligasi anak perusahaan ini akan lebih menguntungkan karena menghasilkan perpanjangan jatuh tempo hingga 2020 dan pengenaan suku bunga pinjaman yang lebih rendah. "Bunga yang tadinya 11% selanjutnya akan dibayarkan lebih rendah, yaitu sebesar 2% pada tahun pertama dan kedua, tahun ketiga dan keempat masing-masing sebesar 4%, dan 5% untuk tahun berikutnya," jelasnya.

Transaksi Saham

Oleh karena itu, Mahar Sembiring juga menyampaikan optimistisnya dapat melakukan transaksi efek kembali pada November atau Desember 2012 sehubungan penghentian sementara perdagang sahamnya pada papan utama Bursa Efek Indonesia (Main Board).

Dia mengungkapkan perjalanan penyelesaian restrukturisasi obligasi saat ini terus dilakukan perseroan,”Proses panjang yang melibatkan banyak pihak ini cukup memakan waktu yang tidak sedikit, termasuk di antaranya para pemegang obligasi, tim negosiasi, 'working committee', penasihat hukum, wali amanat, pengelola jaminan obligasi dan pihak keiga lainnya selain adanya faktor yang berada di luar kontrol dan kewenangan perseroan,"katanya.

Menurutnya, diharapkan pengesahan perubahan surat utang (amendment of notes) dapat terjadi dalam kurun waktu yang tidak lama lagi, “Ini nantinya berdampak pada perdagangan saham CPRO sehingga segera dilangsungkan pada papan utama BEI," tuturnya.

Mahar menambahkan perbaikan kinerja terus dilakukan yang tercermin dari hampir tuntasnya tahapan restrukturisasi obligasi. "Dalam penuntasan restrukturisasi ini, kami telah berhasil melalui proses krusial seperti telah disepakatinya protokol restrukturisasi antara perseroan dan 'working committee' yang mewakili mayoritas pemegang obligasi," tambahnya.

Sementara Wakil Dirut PT Central Proteinaprima Tbk, Gunawan Taslim mengemukakan, restrukturisasi notes senilai US$325 juta yang dilakukan CPRO melalui anak usaha Blue Ocean Resources Ltd adalah hal yang harus dilakukan untuk melanjutkan kesinambungan operasional perseroan.

Adapun restrukturisasi notes senilai US$325 juta itu dijaminkan dengan corporate guarantee perseroan dan anak perusahaan antara lain PT Central Panganpertiwi, PT Centralpertiwi Bahari, dan PT Centralwindu Sejati.

Target Penjualan

Kondisi global yang terjadi saat ini menurut Gunawan juga mempengaruhi permintaan penjualan produk pakan dan udang olahan. Untuk permintaan dari Eropa, ia mencatatkan terjadi penurunan sekitar 8%, Amerika Serikat naik 3,4%, sedangkan permintaan dari Jepang dinilai cukup stabil. Kontribusi penjualan produk pakan dan udang olahan, menurut dia adalah 88% dari total pendapatan perseroan pada 2012.

Dia mengatakan, tahun ini perseroan menargetkan penjualan bisa mencapai Rp7 triliun. Pertumbuhan tersebut diasumsikan dapat terjadi karena peningkatan penjualan pakan, dan kenaikan harga bahan baku.

Meskipun terjadi kenaikan untuk beberapa komoditas bahan baku yang digunakan, pihaknya tetap berupaya mempertahankan kualitas produknya dan mau tidak mau menyesuaikan harga penjualan pakan, meskipun sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 3%.

"Kami akan melakukan penyesuaian dan menjual produk dengan marjin lebih bagus. Selain itu, penjualan semester kedua diharapkan lebih baik dari semester pertama dengan asumsi penjualan pakan ke domestik lebih besar dari semester pertama." jelasnya.

Sebelumnya, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp3,52 triliun pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp3,62 triliun. Laba kotor naik menjadi Rp449,12 miliar pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp350,60 milair. Ekuitas perseroan sebesar Rp59,90 miliar pada semester pertama 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp545,91 miliar.

Adapun kewajiban perseroan Rp6,17 triliun pada semester pertama 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp6,51 triliun. Kas dan setara kas perseroan sebesar Rp127,87 miliar pada 30 Juni 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp168,7 miliar. Sementara itu, volume penjualan produk pakan perseroan meningkat menjadi 282.945 metrik ton pada semester pertama 2012 atau naik 25,6% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 244.747 metrik ton. (lia)