Syarat Berat Dituding Seretnya Peminat

Lelang Anggota Bursa Molor

Senin, 10/09/2012

NERACA

Jakarta – Alasan sepinya peminat yang menyebabkan berulang kembali molornya pelaksanaan lelang Anggota Bursa (AB) oleh PT Bursa Efek Indonesia, dibantah keras Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).

Ketua APEI Lily Widjaja mengatakan, lelang anggota bursa berulang kali tidak dilakukan karena persyaratan yang lebih berat dan bukan karena sepi peminat dari perusahaan efek asing dan lokal, “Banyak asing yang minat, tetapi belum siap memenuhi persyaratan karena lelang anggota bursa harus ada persyaratannya. Seperti harus memiliki remote trading. Saat ini persyaratan mengikuti lelang lebih berat,"katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, investor asing sebenarnya tertarik masuk ke bisnis perusahaan efek. Hal itu dikarenakan asing ingin merepresentasikan perwakilannya di setiap negara. Indonesia juga dilihat sebagai tempat menarik untuk investasi.

Selain itu, imbuhnya, investasi asing di perusahaan efek dapat membuat lebih banyak riset mengenai Indonesia, sehingga berdampak positif untuk order transaksi perdagangan saham di pasar modal Indonesia. "Harapannya bisa lebih gencar untuk membuat riset tentang Indonesia sehingga order meningkat. Mereka jadi fokus dan memperhatikan Indonesia dan mendorong investasi di Indonesia lebih banyak," katanya.

Diakui Lily, saat ini book value bursa memang telah mahal dan berdampak terhadap harga lelang kursi anggota bursa sebesar Rp15 miliar. Namun harga kursi anggota bursa cukup menarik bagi anggota bursa yang menjual kursi anggotanya, karena bila kursi anggota bursa tersebut tidak laku maka BEI akan membelinya dengan harga nominal sekitar Rp135 juta.

Sebelumnya BEI melakukan lelang kursi anggota bursa sejak Juli 2012, namun lelang kursi anggota bursa belum dapat dilaksanakan karena belum ada anggota bursa yang belum memenuhi persyaratan untuk lelang kursi anggota bursa.

Adapun lima saham anggota bursa yang dilelang antara lain Patalian Water Securindo, United Asia Securities, Antaboga Delta Sekuritas, Signature Capital Indonesia, dan Sarijaya Permana Sekuritas.

Persyaratan dan tata cara menjadi peserta lelang adalah sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan bursa Nomor III-H tentang pelelangan dan pembelian kembali saham bursa. Setiap peserta lelang harus terlebih dahulu memenuhi syarat menjadi anggota bursa efek sebagaimana diatur dalam peraturan bursa Nomor III-A tentang keanggotaan bursa.

Iuran IPF

Selain itu, Lily Widjaja mengharapkan biaya perlindungan dana nasabah atau "investor protection fund" (IPF) berasal dari transaksi perdagangan, “APEI mendukung skema itu, biaya untuk IPF diharapkan diambil dari transaksi sebagai biaya premi IPF sehingga tidak ada lagi pungutan tambahan,"ungkapnya.

Kata Lily, usulan skema itu dikarenakan ada wacana pihak BEI akan menurunkan biaya transaksi dikarenakan terus meningkatnya volume transaksi saham di Bursa, “Pernah ada wacana biaya transaksi mau diturunkan karena transaksi meningkat. Andaikata ada IPF, nanti dananya lebih baik diambil dari transaksi biar satu pintu, jadi dari pada diturunkan lebih baik dialihkan,”tandasnya.

Sejauh ini, lanjutnya, anggota bursa bayar dana jaminan 0,01 dan biaya transaksi 0,03% dan ada wacana diturunkan tetapi sudah lama tidak direview. Dia juga mengatakan, APEI mendukung pembentukan IPF dikarenakan untuk melindungi kepentingan investor apabila ada penyelewenangan atau fraud.

Dia mengungkapkan, Bapepam-LK sebenarnya ada asuransi tapi mahal sehingga tidak berjalan. Kemudian dia menambahkan, jaminan dana investor ritel pasar modal yang ditanggung IPF cukup kecil bila ditetapkan Rp50 juta. Hal itu dikarenakan tidak cukup untuk membuat rasa aman investor di pasar modal, “Kita sudah setuju dengan pembentukan IPF. Namun kalau besaran jaminannya segitu (Rp50 juta) itu sangat kecil," ujar Lily.

Dikatakan dia, hingga kini belum ada pembicaraan dengan pihak BEI mengenai penetapan jaminan IPF. Pihaknya mengharapkan BEI dapat kembali mereview besaran jaminan yang diberikan kepada investor."Paling tidak sesuai transaksi atau dilihat dari variablenya," kata Lily.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan BEI, Friderica Widyasari Dewi memperkirakan dana yang dijamin oleh IPF bagi investor ritel di pasar modal sekitar Rp50 juta. (lia)