Payah, Daya Saing Indonesia

Jumat, 07/09/2012

Di tengah keprihatinan kita menghadapi dampak krisis Eropa, peringkat daya saing Indonesia menurut World Economic Forum (WEF) kembali merosot empat tingkat dibanding setahun sebelumnya, yaitu dari urutan ke-46 menjadi ke-50. Kondisi ini jelas sangat mengganggu perekonomian Indonesia di mata internasional.

”Kalau dari urutan 46 ke 50 itu berarti makin buruk.Saya menduga ini masih terkait faktor regulasi dan kepastian hukum,” ujar pengamat ekonomi Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika menanggapi laporan lembaga internasional itu. Karena hasil survei WEF tersebut berpengaruh besar terhadap dunia usaha.

Laporan terbaru Global Competitiveness WEF menyatakan, daya saing Indonesia untuk 2012–2013 menempati peringkat ke-50 dari 144 negara, turun dibanding tahun lalu di posisi ke-46. Peringkat tersebut jauh jika dibandingkan dengan Malaysia yang menduduki peringkat ke-25, Brunei Darussalam (28),China(29),dan Thailand(38). Survei ini berdasarkan data responden yang berasal dari 15.000 pemimpin bisnis di 144 negara.

Ironis memang, Indonesia hanya unggul dari Filipina yang menempati posisi 65. Penyebabnya adalah, masalah korupsi yang masih dianggap persoalan utama para pebisnis. Begitu juga tingkat keamanan dinilai masih sama dengan kondisi tahun 2005.

Nilai Indonesia hanya yang baik berada di aspek makroekonomi. Dari peringkat 39 di tahun 2007, naik ke posisi 12. Manajemen fiskal Indonesia juga dinilai bagus sehingga defisit anggaran dan utang pemerintah berkurang.

Peringkat indeks daya saing global disusun berdasarkan Global Competitiveness Index (GCI) dikembangkan oleh Universitas Columbia, AS, dan mulai diterapkan 2004. Ada 12 aspek yang turut dipertimbangkan. Antara lain infrastruktur, stabilitas makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, lapangan kerja, derajat perkembangan teknologi, dan besarnya pasar.

Adapun secara global, Swiss dinilai sebagai negara dengan ekonomi paling kompetitif dan inovatif di dunia. Setelah Swiss, Singapura berada di posisi kedua,disusul Finlandia, Swedia, Belanda, dan Jerman. Swiss dinilai menduduki tempat teratas dalam inovasi karena keunggulan sistem pendidikan, tingginya pengeluaran perusahaan pada penelitian dan pengembangan, serta memiliki kolaborasi yang kuat antara dunia akademis dan dunia usaha.

Berbeda dengan kondisi Eropa. Walau mata uang Euro lagi menghadapi krisis, enam negara Eropa tetap menempati daftar 10 negara teratas dengan daya saing global terbesar di dunia.

Posisi 10 besar didominasi oleh negara-negara Eropa Utara dan Barat. Selain Swiss dan Finlandia, ada Swedia di peringkat ke-4, Belanda peringkat ke-5, Jerman di enam dan Inggris yang tahun lalu berada di posisi ke 10 kini naik dua posisi ke-8.

Sementara Swedia dan Finlandia bertukar tempat, Denmark merosot ke peringkat 12 dari delapan, Perancis jatuh dari 18 ke 21. Austria bisa memperbaiki diri tiga peringkat ke posisi 16. Di Eropa Selatan, Italia naik ke peringkat 42 dan Spanyol 36. Sementara Portugal merosot empat peringkat ke 49 dan Yunani jatuh ke peringkat 96.

Kemerosotan peringkat daya saing Indonesia tentu tidak lepas akibat pengaruh perdagangan bebas China-Asean Free Trade Area (CAFTA) yang telah memberikan sinyal melemahnya sejumlah produk Indonesia. Artinya, ada sejumlah produk ekspor yang memiliki daya saing lemah, sehingga meminta adanya perhatian serius pemerintah. Hal ini perlu segera ditindaklanjuti dengan melakukan perbaikan, baik di sisi internal industri bersangkutan maupun sarana dan prasarana pendukung industri tersebut. Semoga!