Gerbong MRT Bakal Diimpor dari Jepang

Mulai Dibangun 2013

Senin, 03/09/2012

NERACA

Jakarta - Proyek Mass Rapid Transportation (MRT) akan segera dibangun di Jakarta mulai 2013 untuk trayek Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI). Infrastruktur proyek seperti gerbong dan sistem MRT ini bakal diimpor dari Jepang.

"Untuk gerbong dan penunjang sistem MRT akan didatangkan langsung dari Jepang. Ini buatan Jepang, bukan berasal China," jelas Kepala Biro Humas PT MRT Jakarta, Manpala Rega Chandra Gupta Sitorus, pekan lalu.

Menurut Manpala, MRT adalah transportasi hasil gabungan dari BRT (Bus Rapid Transit) dengan Light Rail Transit (kereta api rel listrik). "Ini adalah penggabungan sistem BRT dengan LRT, di mana dioperasikan kereta dengan gerbong pendek seperti monorel dan heavy rail transit yang memiliki kapasitas besar seperti KRL yang ada saat ini," katanya.

Manpala, MRT yang berbasis rel listrik ini akan membentang sepanjang 108,7 km dari Lebak Bulus ke Bundaran HI dengan lebar rel 3 meter."Jaringan listriknya bukan menggunakan jaringan listrik atas, tetapi jaringan listrik bawah," tuturnya.

Selain itu, jarak tempuh yang sangat cepat dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI dengan moda transportasi ini hanya membutuhkan waktu 30 menit. "Ada 6 stasiun bawah tanah, kehidupan baru bagi warga Jakarta, yang biasa menunggu transportasi dari terminal dan stasiun yang biasa," terangnya.

Menurut rencana, akan ada 12 unit MRT yang masing-masing unit terdiri dari 6 gerbong dengan daya angkut per gerbong maksimal 200 orang. Sebanyak 12 unit MRT ini akan dioperasikan untuk yang pertama kalinya mulai 2016.

PT MRT juga menyatakan untuk pembangunan proyek MRT tahap pertama (Lebak Bulus-Bundaran HI) sepanjang 15,1 Kilometer menghabiskan total dana sebesar Rp 15 triliun dengan masa pembangunan 4 tahun sampai 4,5 tahun. Dana pembangunan tersebut untuk pembangunan fisik, kereta, elektrikal, mekanikal, dan konsultan. Secara total proyek pembangunan MRT akan menghabiskan dana sebesar Rp 40 triliun.

Dana tersebut berasal pinjaman luar negeri dari pemerintah Jepang yaitu Japan International Corporation Agency (JICA). Pinjaman tersebut ditanggung 42% oleh Pemerintah Pusat dan 58% oleh Pemerintah Provinsi.

Menurut Manpala, selain pinjaman dari JICA juga terdapat pendanaan dari APBN dan APBD untuk value added tax, commitment fee, pembebasan tanah serta traffic selama pembangunan. "Tentunya juga disertakan administrasi lainnya," ujar Manpala.

Manpala menjelaskan untuk pembangunan MRT Jakarta tahap pertama, pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah memulai beberapa pekerjaan fisik berupa pelebaran jalan Fatmawati, pemindahan utilitas, pemindahan Terminal Lebak Bulus dan pemindahan Stadion Lebak Bulus. "Diharapkan selesai sebelum pembangunan dimulai," ujar Manpala.

Manpala mengatakan MRT Jakarta tahap pertama membutuhkan pasokan listrik sebesar 60MVA. Menurutnya untuk menjamin ketersediaan pasokan listrik pihaknya sudah bekerjasama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero. "Kami sudah menandatangani MoU dengan PLN untuk jaminan ketersediaan listrik. MRT juga akan didukung oleh supply dari dua sumber berbeda," ujar Manpala.

Dia mengharapkan untuk groundbreaking (pemancangan tiang pertama) proyek pembangunan MRT di akhir 2012 dan juga pada pertengahan September sampai Oktober 2012 untuk pengumuman pemenang tender diterbitkan dan sudah memperoleh tanda tangan dengan kontraktor. "Diharapkan groundbreaking bisa dilakukan akhir 2012 atau awal 2013," ujar Manpala.

Sementara itu, Tundjung Inderawan, Direktur Jenderal Kereta Api Kementerian Perhubungan pembangunan MRT di Jakarta bertujuan untuk mengurangi kemacetan jalan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Jakarta. "Tentunya juga meningkatkan kualitas lingkungan hidup," kata Tundjung.

Tundjung menjelaskan untuk investasi total pembangunan proyek MRT akan menelan dana sebesar Rp40 triliun yang berasal dari pendanaan APBN. "Peran Pemerintah Provinsi sebagai pelaksana proyek tersebut," ujar Tundjung.