Waspadai Permasalahan di Saluran Cerna

Mengakibatkan Pendarahan Akut atau Kronis

Sabtu, 08/09/2012

Sering terjadinya pendarahan pada saluran pencernaan, mungkin saja pertanda adanya pendarahan saluran percernaan yang akut atau kronik, gejala ini tidak bisa dianggap remeh, karena penyakit ini semakin serius jika berdampak ke organ tubuh yang lain.

NERACA

Timbulnya gangguan pada saluran cerna cukup sering dikeluhkan dan menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat. Nyeri ulu hati, mual, muntah darah hitam atau seringnya sembelit dan buang air besar berwarna hitam atau mungkin saja menjadi pertanda adanya pendarahan saluran pencernaan yang akut maupun kronik. Hal ini juga semakin serius jika berdampak ke organ tubuh yang lain.

Ketua PAPDI JAYA. Prof. DR. Dr, Idrus Alwi, SpPD mengatakan, pendarahan bisa terjadi di mana saja di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Perdarahan dapat oleh satu atau lebih penyebab sehingga dengan diketahui pasti penyebabnya maka penanganannya dapat lebih optimal.

Penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas sebenarnya terbagi atas pecah varises esophagus dan non varises seperti tukak peptikum (tukak duodenum dan tukak gaster). Tukak peptikum disebabkan adanya kerusakan pada mukosa lambung atau usus dua belas jari akibat adanya asam lambung yang normalnya ada di dalam lambung pada proporsi tertentu. Perdarahan ini juga dapat disebabkan infeksi Helicobacter Pylori yang mungkin ditularkan dari orang lain melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

Gejalanya pun bisa berbeda-beda, misalnya perdarahan di saluran cerna bagian atas seperti lambung atau usus dua belas jari memiliki gejala di antaranya muntah darah hitam di mana darah yang keluar bercampur dengan asam lambung (hematemesis) dan buang air besar yang kehitaman (melena), tuturnya.

Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Chaidir Aulia, Sp. PD KGEH FINASIM mengatakan, pada perdarahan tukak peptikum dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan alat endoscopy (gastroscopy) sehingga luka atau sumber perdarahan dapat dideteksi dan dihentikan dengan hemoklip.

“Sementara pada sebagian besar kasus dispepsia (nyeri ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang, dan kembung), pengobatan dapat dilakukan dengan empirik terapi dari golongan antasida sampai golongan Proton Pump Inhibitor (PPI),” tuturnya.

Empirik terapi ini dapat dilakukan 4-6 minggu. Bila keluhan berlanjut maka disarankan untuk dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Apalagi bila terdapat alarm symptom seperti turunnya berat badan, anemia, hematemesis, melena, atau bila berusia di atas 45 tahun dapat dirujuk langsung ke dokter spesialis penyakit dalam atau gastroenterologi.

Di Indonesia, penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas selain tukak peptikum juga disebabkan pecahnya varises esophagus. Varises esophagus adalah penyakit yang ditandai dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esophagus bagian bawah. Esophagus adalah saluran yang menghubungkan antara kerongkongan dan lambung, tuturnya.

Dia menjelaskan, metode penanganan varises esophagus cukup bervariasi, mulai dari konservatif (obat vasopresin, somatosatin, dan sebagainya), terapi injeksi endoscopy yaitu menyuntik pembuluh darah dengan larutan tertentu agar pembuluh darah berhenti berdarah sampai ligasi varises esophagus.

Bisah terjadi komplikasi

Sejalan dengan topik varises esophagus yang merupakan komplikasi penyakit sirosis yang masih banyak disebabkan infeksi virus Hepatitis B. Ini yang harus diwaspadai agar tidak terjadinya komplikasi, tuturnya.

Sekitar dua miliar penduduk dunia pernah terinfeksi virus Hepatitis B dan 360 juta orang di antaranya terinfeksi kronis yang akan berpotensi menjadi sirosis disertai gangguan fungsi hati berat dan karsinoma hepatoselular dengan angka kematian sebesar 250.000 per tahun.

Mengingat besarnya permasalahan yang dapat ditimbulkan, maka pencegahan dini penularannya menjadi penting dilakukan. Perlu diketahui, Hepatitis B ditularkan melalui penggunaan jarum injeksi yang tidak steril, hubungan seks, dan transmisi dari ibu ke anak di dalam kandungan.

Berdasarkan rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) pada 2008/ 2009, vaksinasi Hepatitis B dilakukan pada individu-individu yang berisiko tinggi terkena penularan Hepatitis B. Mereka adalah pekerja-pekerja kesehatan yang sering bekerja dengan jarum suntik, atau hubungan seks yang tidak sehat, seperti pasangannya mengidap Hepatitis B kronik.

Dokter spesialis penyakit dalam, Konsultan Gastroenterologi & Hepatologi, RS Pondok Indah-Pondok Indah. Dr. Femmy Nurul Akbar, Sp.PD-KGEH menerangkan, “Dari hasil pemeriksaan biomedis menunjukkan prevalensi HBsAg sebesar 9,7% pada pria dan 9,3% pada wanita, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 45-49 tahun sebesar 11,9%,” tuturnya.

Sementara itu, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi virus hepatitis B ditunjukkan dengan angka Anti-HBc sebesar 34%, dan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Ini berarti penularan horizontal memegang peran yang penting dalam penyebaran Hepatitis B.

Dia mengatakan, efek samping yang sering timbul setelah penyuntikan vaksin Hepatitis B dapat berupa demam, malaise (lemas), fatigue (gejala kelelahan), atau juga nyeri dan bengkak pada daerah penyuntikan. Namun umumnya, efek tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur-angsur hilang dengan sendirinya.

Obat antidemam dapat dikonsumsi bila terdapat kenaikan suhu tubuh yang signifikan. Seorang yang hendak divaksin Hepatitis B juga harus berada dalam keadaan sehat total saat divaksin. Apabila individu yang hendak divaksin sedang mengalami flu atau infeksi virus lain, maka sebaiknya vaksinasi Hepatitis B ditunda.

Vaksinasi Hepatitis B diberikan 3 kali suntikan. Suntikan kedua, berjarak waktu satu bulan dari suntikan pertama. Suntikan ketiga, berjarak waktu 6 bulan dari suntikan pertama. Pasca pemberian suntikan, HBSAg bisa menjadi positif sementara. Namun hal ini segera disusul oleh meningkatnya kadar anti-HBS. Timbulnya antibodi inilah yang diharapkan mampu mencegah seseorang dari penularan virus Hepatitis B.