Investment Grade untuk Pacu Infrastruktur

Asing Diharapkan Masuk

Sabtu, 01/09/2012

Pemerintah menggelar Indonesia International Infrastructure Conference and Exhibition 2012. Dengan event akbar di bidang infrastruktur ini, diharapkan investor asing mau menanamkan modalnya di Indonesia, guna mempercepat pembangunan prasarana yang relatif tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga. Padahal Indonesia sudah mempunyai modal yang kuat dengan diraihnya peringkat investment grade dari Fitch dan Moody's.

NERACA

Asisten Deputy Perumahan Kementerian Perekonomian Bidang Perekonomian Wahyu Utomo mengatakan dengan diraihnya peringkat investment grade dari lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s oleh Indonesia, menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur.

Dia mengatakan hal itu belum lama ini di Kementerian Pekerjaan Umum didampingi oleh Kepala Pusat Kajian Strategis Kemenpu Hediyanto W. Husaini.

Menurut Wahyu, dengan diperolehnya peringkat tersebut, dia mendapat laporan bahwa setiap hari semakin banyak orang yang datang ke BKPM untuk mengajukan aplikasi penanaman modal. Namun dia tidak tahu persis berapa peningkatan investasi yang terjadi sebagai dampak kenaikan peringkat tersebut.

“Yang jelas kini Indonesia sudah masuk ke dalam radar para investor di luar negeri sebagai negara yang kondusif untuk penanaman modal, di tengah merosotnya kondisi ekonomi di Amerika dan Eropa,” katanya.

Menurut Wahyu, dengan kondisi investment grade tersebut diharapkan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) menjadi momentum yang tepat untuk membangun negeri ini.

“Bila sesuai rencana, dan kemajuan ekonomi itu bisa berkelanjutan, maka diharapkan pada 2025 Indonesia bisa menjadi negara maju pada peringkat ke-12 ekonomi dunia,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, semua pihak—baik pemerintah, BUMN, swasta maupun masyarakat—harus bekerja dengan cara yang luar biasa, not business as usual.

Dia mengatakan sepakat dengan seorang pengamat yang berpendapat bahwa investor asing bila masuk ke Indonesia ibarat menyeberangi sebuah jembatan. Setelah melewati jembatan itu, maka akan banyak aral melintang dalam berinvestasi.

“Namun pemerintah dalam hal ini BKPM telah menyatakan akan menyelesaikan proses perizinan paling lama 60 hari,” katanya.

Apabila hal itu bisa dilaksanakan dan kendala-kendala lainnya bisa dihilangkan, dia yakin bahwa hal itu akan semakin mendorong perekonomian nasional.

“Yang penting semua pihak berkemauan politik yang kuat untuk memajukan perekonomian nasional,” katanya.

Menurut Wahyu, memang kendala yang dihadapi oleh investor untuk masuk ke Indonesia masih cukup banyak, a.l. bidang perizinan, penyediaan lahan, birokrasi, pungutan liar dan daerah-daerah yang berlomba-lomba mengejar PAD.

Apabila semua kendala itu bias diatasi, katanya, maka Indonesia bisa menjadi Negara tujuan investasi melalui skema foreign direct investment (FDI).

Menurut dia, sebenarnya dana-dana yang ada baik di pemerintah, BUMN, swasta maupun masyarakat, sangat banyak. Namun tidak ada salurannya. Namun kini dengan skema public-private partnership (PPP), maka dana BUMN, atau swasta yang banyak bisa disinergikan untuk mempercepat pembangunan.

Kepercayaan Meningkat

Guru besar Universitas Brawijaya Malang Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengatakan dengan dinaikkannya peringkat Indonesia dari Ba1 menjadi Baa3 oleh Moody’s Rating, sebenarnya merupakan berita gembira yang harus disambut baik.

“Hal itu berarti kepercayaan asing untuk berinvestasi di Indonesia semakin tinggi,” katanya, belum lama ini.

Dia mengatakan analis juga akan memperhatikan stabilitas ekonomi, keuntungan yang bisa diraih maupun kebijakan anggaran dari pemerintah dalam perencanaan pembangunan.

Namun, menurut dia, pemerintah masih harus bekerja keras dalam menyikapi rating Moody’s tersebut.

Karena dengan peringkat itu, seolah-olah para investor jika berminat untuk berinvestasi di negeri ini, harus menyeberangi sebuah jembatan. Namun apabila setelah melewati jembatan tersebut mereka menghadapi banyak rintangan seperti izin investasi yang sulit dan memerlukan biaya yang besar, infrastruktur yang tidak mendukung, penyediaan lahan yang sering bermasalah, birokrasi yang korup, maka mereka akan balik kanan.

“Celakanya, kondisi iklim investasi di negeri kita ini jauh lebih tertinggal apabila dibandingkan dengan Vietnam,” katanya.

Menurut dia, kalau peringkat yang bagus tidak diimbangi dengan perbaikan di segala bidang itu, akan sulit bisa mengharapkan investor asing mau datang ke sini.

Dia mengatakan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tidak dengan serta merta bisa mendukung predikat investment grade yang diperoleh Indonesia setelah Fitch Rating yang merupakan salah satu perusahaan pemeringkat dunia yang menaikkan peringkat Indonesia dari BB+ menjadi BBB-. Kini peringkat itu diperkuat lagi dengan peningkatan peringkat dari Moody’s yang menaikkan posisi Indonesia dari Ba1 menjadi Baa3 dengan outlook stabil.

Erani mengatakan MP3EI baru memasuki fase pertama dari program jangka panjang itu. “Kini pemerintah baru dalam tahap to pick up the winner, guna menentukan prakualifikasi, penyiapan detail plan, proses tender sampai dengan kontrak berbagai proyek infrastruktur.”

Menurut dia, MP3Ei baru akan kelihatan hasilnya pada 2015. “Kalau perjalanan MP3EI lancar sampai 2015, baru kita akan menuai hasilnya,” katanya.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah harus bekerja keras untuk mewujudkan kondisi infrastruktur yang mantap itu.

Menurut dia, dua peringkat investment grade yang diberikan oleh Fitch dan Moody’s itu harus menjadi cemeti bagi pemerintah untuk bersungguh-sungguh melaksanakan pembangunan infrastruktur itu. Sehingga prasyarat untuk mencapai kemajuan ekonomi yang signifikan di masa depan bisa terpenuhi. (agus)