Konglomerat Mulai Incar Properti di 6 Koridor MP3EI

NERACA

Rencana Koridor pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan dengan adanya Master Plan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diharapkan membuat pembangunan infrastruktur di kawasan itu berkembang pesat.

Dengan adanya proyek infrastruktur yang membuka tabir konektivitas di koridor itu, diharapkan mendorong pembangunan properti di kawasan yang mulai berkembang tersebut.

Siapa sajakah konglomerat yang sudah siap melebarkan sayapnya untuk membangun properti di enam koridor percepatan dan perluasan ekonomi yang dilakukan pemerintah itu? Paling tidak ada tiga konglomerat yang sudah siap. Mereka adalah Sinar Mas Land, Ciputra dan Lippo Group.

Kesiapan Sinar Mas Land terungkap dalam acara workshop yang diadakan oleh SML di Bumi Serpong Damai.

Menurut Ishak Chandra, Managing Director Sinas Mas Land, pihaknya akan mulai merambah ke berbagai daerah yang termasuk enam koridor MP3EI.

”Kami sedang menyiapkan langkah besar untuk membangun properti di enam koridor itu,” katanya.

Menurut Ishak, dengan terbukanya konektivitas berbagai daerah yang terletak di enam koridor percepatan dan perluasan ekonomi itu, akan membuka pula peluang bagi pembangunan properti di sana.

”Sebab betapa pun daerah yang terbuka konektivitasnya itu, akan menyebabkan terjadinya pertumbuhan ekonomi. Bila ada pertumbuhan, berarti akan dibutuhkan properti baik berupa perkantoran, pertokoan, mal, maupun perumahan,” ujarnya.

Menurut Ishak, peluang besar yang terbuka dengan adanya pembangunan infrastruktur besar-besaran yang dilakukan pemerintah akan membuat pendapatan per kapita di negeri ini yang kini sekitar US$3.542 menjadi US$5.300 pada 2015, lalu meningkat menjadi US$14.900 (2025) dan pada 2045 diperkirakan menjadi US$46.900.

”Semua kemajuan ekonomi itu, tentu saja perlu didukung dengan pembangunan properti. Sebab dengan pendapatan yang terus meningkat tentu membutuhkan sandang, pangan dan papan (rumah) pula,” katanya.

Indonesia dengan segala fundamental ekonominya dianggap sebagai the raising star di Asia oleh para pengamat ekonomi.

Dalam kondisi itu, pendapatan per kapita Indonesia sedikit di bawah China (US$5.414), Thailand (US$5.394), sedangkan Malaysia sudah di atas Indonesia yaitu US$9.700. Sementara Brunei Darussalam sudah jauh mencapai US$36.584 dan Singapura US$49.271.

Sedangkan pendapatan per kapita Filipina US$2.223, lalu di bawahnya India (US$1.389), Vietnam (US$1.374), Laos (US$1.204), dan Myanmar US$832.

Pendapatan sewa gedung perkantoran, pertokoan dan mall di Indonesia dengan 9,31% masih dianggap terbaik di Asia.

“Negara lain hanya bisa memberikan angka pendapatan sewa yang lebih rendah daripada Indonesia. Filipina hanya memberikan 8,62%, Thailand (6,53%), Malaysia (6,21%), dan Jepang 4,46%,” katanya. Sedangkan Hongkong hanya memberikan 3,11% dan Singapura 2,94%.

Hal itu menunjukkan bahwa ke depannya properti Indonesia masih akan tetap cerah.

”Indonesia akan menjadi tujuan investasi pertama di antara negara di benua Asia,” ujarnya.

Perusahaan multinasional akan lebih fokus ke Indonesia dalam lima tahun ke depan, terutama berupa investasi langsung atau perusahaan patungan.

“Kota-kota di Indonesia yang termasuk dalam koridor master plan pertumbuhan ekonomi, akan mempunyai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada kota lainnya,” tambahnya.

Pertumbuhan masyarakat berpendapatan menengah akan mendorong pertumbuhan di properti residensial, mall, eceran, bisnis keluarga, makan dan minuman, serta pendidikan.

Untuk mengantisipasi segala kemajuan ekonomi itu, pihaknya sudah mulai berancang-ancang untuk masuk ke berbagai lokasi yang punya potensi strategis untuk dikembangkan sebagai tempat pengembangan properti di masa depan. (agus)

Related posts