Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Meningkatkan Investor

Industri reksa dana dalam negeri lambat tapi pasti mulai berkembang pesat, meskipun pertumbuhannya belum berlari kencang dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Ditengah ancaman krisis ekonomi Eropa, Presiden Direktur Mandiri Aset Management Abipriyadi Riyanto meyakini pasar reksa dana dalam negeri masih menjanjikan. Alumnus teknik sipil Universitas Gaja Mada (UGM) yang juga Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) juga mempunyai strategi memasyarakatkan masyarakat untuk rajin beinvestasi di reksa dana. Berikut petikan wawancara Neraca dengannya.

T. Bisa diceritakan awal ketertarikan terjun ke industri keuangan non bank hingga menjadi Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) ?

J. Karir saya di Mandiri Aset Manajemen diawali dengan bekerja di manajer investasi perusahaan asing selama 12 tahun. Enam tahun pertama bekerja di Manajer Investasi (MI) MeesPierson Finas dan enam tahun berikutnya di ABN Namor Aset Manajemen. Keahlian yang saya didapatkan tidak hanya berbekal dari pengalaman tetapi juga konsultasi dengan dosen saat kuliah di Lembaga Pengembangan Manajemen Indonesia (LPMI).

Kala itu, dosen saya kebanyakan dari Inggris dan menyarankan saya masuk ke sektor investment manajemen yang terbilang baru di Indonesia pada tahun 1990. Alasannya, di luar negeri saja industri ini sangat berprospek. Lalu dosen saya bilang, bila kamu ada disektor itu dari awal berarti kamu pionir dan nantinya 10 tahun kemudian akan menjadi ahlinya. Akhirnya, masuklah saya ke industri manajer investasi selama 22 tahun hingga saat ini. Padahal waktu itu, saya tidak tahu bakal jadi apa industri yang saya geluti ini.

T. Sepanjang perjalanan terjun di industri reksa dana, pengalaman menarik apa yang didapatkan?

J. Pastinya banyak pelajaran yang saya dapatkan, karena tahun 1990 industri reksa dana belum ada dan baru manajer investasi. Saat itu, saya diajak Bapepam-LK bikin aturan dan kebetulan bos saya orang asing dan sudah 15 tahun menggeluti MI di London, mereka ikut sharing di market praktis. Intinya, saya belajar lagi atau ada brain wash dari lulusan teknil sipil ke hingga meraih gelar master Master of Busnies Administrasion (MBA).

T. Kemudian sejauhmana ketertarikan masyarakat kita berinvestasi di reksa dana. Jika besar minatnya apa penyebabnya dan sebaliknya bila kurang apa yang jadi hambatan ?

J. Pejalanan industri reksa dana bisa kita refleksikan, seperti zaman dulu perbankan mulai di Indonesia. Saat itu, edukasi pemerintah cukup luar biasa, karena butuh waktu yang tidak sebentar merubah prilaku orang yang biasa simpan duit dilemari dan di bawah bantah beralih. simpan uang dibank pasti aman. Mungkin butuh waktu 5 tahun atau 10 tahun kita tidak tahu, hingga pemerintah terus mengedukasi dengan duit dibank aman, ngambil dan nyetor juga gampang. Hal yang sama juga dengan reksa dana sebagai instrument investasi yang relatif baru bagi masyarakat secara keseluruhan dan tidak heran populasi investor reksa dana baru capai 400 ribu. Cara perluas sosialisasi reksa dana harus komitmen sama-sama tidak hanya asosiasi tapi seluruh pihak, baik itu asosiasi, fund manager, bank kustodian, bank distributor dan regulator. Semua stakeholder harus sama-sama membawa produk ini secara masif. Karena selama ini orang masih sporadis, bank tertentu bikin, MI juga bikin dan hasilnya efektifnya kurang. Kondisi ini bereda dengan sosialisasi pemerintah dan juga bank saat perkenalkan industri perbankan, hingga anak kecil diajarin nabung dan punya rekenig. Kita ingin reksa dana juga seperti itu diperkenalkan secara luas.

Artinya, minat masyarakat di reksa dana naik tapi bergerak lambat. Kendalanya karena sosialisasi kurang optimal. Seharusnya bisa disosialisasikan dari mulut ke mulut. Bila mau didik masyarakat tidak bisa sendiri, karena sendiri-sendiri kita cape tapi jika ajak sama-sama baik dari fund manajernya, bank kustodian, bank penjual, regulator, bank distributor bikin edukasi pasar. Tentunya bisa dipetik mungkin 5 tahun dan tidak bisa instant setahun atau dua tahun.

T. Konon minat investasi produk reksa dana di dalam negeri kalah bersaing dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura, bagaimana bapak menyikapinya ?

J Malaysia dan Singapura mungkin 15 tahun lebih dulu mengenal reksa dana. Kebetulan kedua negara itu di jajah oleh Inggris, dimana industri mutual fund dimulai dari Inggris dan bukan dari Amerika. Jadi mereka mereka sudah mengenal instrument ini jauh lebih dulu dari kita dan populasi Malaysia cuma 40 juta jiwa sementara Singapura lebih kecil lagi. Jadi konsentrasi masyarakat yang punya reksa dana mungkin lebih besar dari populasinya. Tapi tidak usah berkecil hati, tidak ada kata terlambat. Mari kita sama-sama edukasi masyarakat dan bila cuma lihat kalah, tanpa tidak berbuat sesuatu bagaimana caranya maju ya percuma saja.

T. Soal regulasi, apakah didalam negeri sudah bersahabat mendukung pertumbuhan reksa dana dan termasuk soal pajaknya ?

J. Saya bilang Bapepam-LK lebih market friendly, mereka benar-benar mau bersama-sama mengembangkan industri reksa dana. Kita bersama regulator sudah sosialisasi kemana-mana, ke Medan, Makasar dan Riau. Cuma memang frekuensinya kurang banyak dan ini bukan problem Bapepam-LK tapi kita semua dan termasuk soal dana. Kalau tidak mau, ya akhirnya industri hanya tumbuh segitu saja.

Kembali lagi soal regulasi, Bapepam-LK market friendly mau dengar market butuh apa, selama itu dijalankan secara governance. Masalahnya kordinasi sesama stakeholder selama ini belum mulus atau optimal. Soal pajak, justru apa yang kita minta aspirasi diterima dan ini support yang besar. Misalnya harusnya di tahun 2014 pajak reksa dana naik jadi 15%, namun karena Menteri Keuangan menerima aspirasi, akhirnya pajak reksa dana tetap 5% hingga seterusnya. Kita bilang reksa dana instrument investasi jangka panjang, obligasi pemerintah juga ada disana. Ngga fair dong, masa instrument 30 tahun dengan instrument deposito 3 bulan pajaknya sama. 30 tahun banyak risiko dan ketidak pastian dan biasanya dapat insentif supaya orang lebih mau berinvestasi.

T. Strategi dan cara apa yang bapak lakukan agar masyarakat kita melek dalam berinvestasi di pasar modal, baik saham, obligasi ataupun reksa dana ?

J. Strategi, kita sebetulnya sedang kerjasama dengan konsultan untuk buat blueprint manajemen investasi. Kita bekerjasama dengan teman-teman dari LMFE UI dan itu lagi digodok dengan melibatkan semua stakeholder baik player, regulator, orang pajak dan semua pihak. Kita bikin arahan untuk titik yang akan dicapai dan mau dibawa kemana manajer investasi, termasuk reksa dana. Ada tiga topik dalam blueprint, pertama produk MI dan reksa dana, kedua distribusi bagaimana caranya menyebar (distribusi chanel) dan ketiga kelembagaan MI yang didalamnya, kualifikasi apa saja yang harus dimiliki MI, SDM hingga IT. Intinya blueprint manajer investasi ini seperti arsitektur perbankan.

T. Lalu bagaimana prospek pasar industri reksa dana kedepan ditengah krisis ekonomi Eropa ?

J. Kedepan harusnya investasi reksa dana tidak melihat situasi ekonomi, mau krisis atau tidak, tetap berinvestasi dan justru saat market turun kita masuk karena lagi murah. Kita percaya Indonesia bagus dan orang luar juga bilang begitu. Jangan berhenti investsasi hanya menunggu indeks tembus 10 ribu. Indonesia cukup solid dan tahan banting terhadap krisis Eropa 2008. Siapa yang tahan banting, ya kita-kita ini karena Indonesia punya demografis bonus. Dimana Indonesia bisa hidupi diri sendiri dari domestik demain.

T. Kemudian ditengah banyaknya produk reksa dana baru, banyak pula produk reksa dana yang ditutup oleh Bapepam-LK, bagaimana menyikapinya ?

J. Ini seleksi alam, yang bagus akan survive dan yang tidak bagus mati sendiri. Produk yang tidak menarik, biasanya komitmen MI yang tidak mau mengembangkan produk. Tapi lebih baik 400 produk reksa dana tapi bagus, dibandingkan 600 tidak bagus. India yang populasi 1,2 miliar jiwa, hanya punya 50 juta investor dan reksa dananya lebih sedikit dari kita. Paling 300 dan kita 400.

T. Terakhir apa saran dan kiat bapak bagi investor pemula yang ingin berinvestasi direksa dana agar untung tetapi risiko rendah ?

J. Mulailah berinvestas dan tidak harus dari yang besar, tetapi dari nilai kecil tanpa harus mengganggu lifestyle. Kenapa saya usulkan tidak usah besar, karena berpikir investasi tapi ganggu life style itu tidak akan berlangsung lama. Pilihlan reksa dana yang sesuai dengan kebutuhan dan reksa dana saham adalah pilihan yang tepat untuk jangka panjang dan terakhir disiplin dalam berinvestasi tiap bulan dan jangan diambil karena nantinya akan terkejut eqn menikmati hasilnya.

BERITA TERKAIT

BEI Gelar Roadshow Pasar Modal Ke Tiongkok - Bidik Lebih Banyak Investor Asing

NERACA Jakarta  - Meskipun penetrasi pasar modal di dalam negeri masih rendah, hal tersebut tidak membuat PT Bursa Efek Indonesia…

Minat Investasi di Pasar Modal Meningkat - Investor di Kalsel Tumbuh

NERACA Banjarmasin – Besarnya tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham dengan menggandeng beberapa perusahaan…

Siap Menang Tidak Siap Kalah

Oleh: Budi Setiawanto Perusakan kantor dan kendaraan yang ada di Kementerian Dalam Negeri serta penganiayaan terhadap 15 karyawan kementerian itu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…