Garap Bisnis Asuransi Jiwa, BCA Siapkan Dana Rp 100 Miliar

NERACA

Jakarta –Ekspansi bisnis PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tidak hanya berhenti mengakuisisi perusahaan pembiayaan, namun kini perseoan tengah berencana mengakuisisi perusahaan asuransi jiwa.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan, untuk ekspansi bisnis asuransi jiwa ini perseroan akan menyuntikkan modal sebesar Rp 70 miliar, “Gradually akan kita tingkatkan sampai Rp 100 miliar,” katanya di Jakarta, Senin (27/8).

Dia menjelaskan, untuk memuluskan bisnis asuransi jiwa perseroan tidak akan menggandeng perusahaan asuransi lain, melainkan membuat sendiri. “Lebih enak membuat sendiri supaya tidak direcoki perusahaan asuransi luar negeri, semuanya mau masuk. Mudah-mudahan bisa terwujud di akhir tahun ini,”ungkapnya.

Selain itu, perseroan juga menjelaskan alasan membikin perusahaan asuransi jiwa lantaran bisnis general insurance asuransi umum sudah dimiliki. Sebagaimana diketahui, pada tahun lalu BCA telah mengakuisisi PT Transpacific General Insurance. Nilai akuisisi perusahaan asuransi tersebut mencapai Rp 40 miliar atau setara dengan US$ 4,6 juta.

BCA Finance masuk dengan mengambil alih 25% sahamnya, sedangkan dana pensiun BCA memegang 75% saham asuransi tersebut. “Akuisisi asuransi umum ini akan mendukung bisnis penyaluran kredit seperti KPR dan kredit kendaraan,” katanya.

Sedangkan dalam bisnis asuransi jiwanya, BCA menginginkan ada produk seperti term insurance, hospitalization, lalu bancassurance. "Ini kerjasama dengan BCA. Kalau di life insurance, ada endowment, deposito plus asuransi. Asuransi di perusahaan asuransi, depositonya di bank (BCA)," paparnya.

Kemudian ketika ditanya soal nasabah bisnis asuransinya nanti, ia menjawab bahwa mereka bisa nasabah BCA sendiri atau baru (yang tadinya bukan nasabah BCA). "Nasabah bisa dua, BCA sendiri, bisa dari luar. Tapi cara penjualan, kita harapkan personal approach, bukan hard selling," jelasnya.

Soal target premi yang ingin dicapai dari bisnis baru ini, Jahja menjawab bahwa BCA tidak pernah mengejar jumlah target premi secara khusus.“Kita (BCA) tidak pernah mengejar target premi, jadi kita betul-betul ketika memulai sesuatu harus sabar, dikembangkan, kalau sudah besar dia akan “lari” sendiri. Kalau dari awal dia sudah ditarget, nanti mereka kejar target jadi (hasilnya) ngaco,” ujarnya.

Jahja menambahkan bahwa sebagai bank, BCA itu akan lebih memikirkan kualitas, bukan berapa besar premi yang akan diraih. “Yang saya concern dari awal adalah quality. Bank itu yang paling penting adalah quality, jangan kejar angka. Mengejar angka itu bahaya,” paparnya.

Bisnis asuransi ini nantinya tidak akan berada langsung di bawah BCA, melainkan di bawah anak usaha sekuritasnya, yaitu PT Dinamika Usaha Jaya (dalam perkembangannya nanti, kata Jahja, namanya akan diubah menjadi BCA Sekuritas). Hal ini karena terbentur peraturan Single Present Policy dari Bank Indonesia (BI).“Kita melihat peraturan, sepertinya ga boleh dimiliki BCA langsung, most likely melalui (anak usaha) sekuritas kita, karena masih kecil. Sekuritasnya bernama PT Dinamika Usaha Jaya, ini sudah jalan. Manajemen (sekuritas)nya baru. Jadi sesudah manajemen baru terbentuk, kita ganti nama jadi BCA Sekuritas.” imbuhnya.

Terkait aturan Single Present Policy, BCA masih merasa bahwa mereka masih akan memiliki anak usaha Bank BCA Syariah atau tidak akan melepasnya ke pihak lain.“Kita memang boleh memiliki bank syariah. Tidak ikut Single Present Policy. Sekarang belum; tahun depan juga pasti belum. Wong asetnya masih kecil, baru Rp 1,4 triliun,” ujarnya.

Untuk mengakuisisi bank-bank kecil yang bermasalah, menurut Jahja, pihak juga belum memikirkan ke sana. Bahkan menurutnya asing pun belum tentu mau mengambil alih bank-bank yang kesehatannya bermasalah seperti itu.“Untuk ekspansi ke bank-bank bermasalah menengah ke bawah saat ini belum. Bahwa kalau nanti ada kebutuhan, saya tidak tahu. Menurut saya, bank itu kalau dibikin jadi public company, kalau size-nya itu kecil, itu tidak laku. Kamu lihat itu di pasar modal, yang besar-besar mungkin tidak lebih dari enam yang betul-betul liquid dan banyak. Kalau udah bank kecil, siapa asing yang mau masuk bank kecil, mungkin pemilik modal dan owner-nya sendiri yang buy and sell,” pungkasnya. (ria)

BERITA TERKAIT

Merck Kantungi Dana Segar Rp 1,384 Triliun - Lepas Bisnis Consumer Health

NERACA Jakarta – Emiten farmasi, PT Merck Tbk (MERK) berencana menjual lini usaha consumer health kepada PT Procter & Gamble…

Trimuda Tetapkan Harga Rp 150 Persaham - Bidik Dana IPO Rp 30 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan yang bergerak di bidang kargo dan logistik PT Trimuda Nuansa Citra berencana untuk menjual saham ke…

Sriwahana Ekspansi di Bisnis Paper Mill - Hadapi Kendala Bahan Baku

NERACA Jakarta – Mensiasati kendala keterbatasan bahan baru produksi, khususnya kertas sebagai bisnisnya. PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) bakal melakukan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Profil Keuangan Dinilai Stabil - Moody’s Naikkan Peringkat XL Axiata

NERACA Jakarta – Meski pencapaian kinerja keuangan di kuartal pertama 2018 tidak terlalu positif dengan laba bersih terkoreksi 63% dari…

Laba Bersih BULL Melesat Tajam 109,72%

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2018, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 109,72% menjadi…

Indo Straits Incar Pendapatan US$ 20,91 Juta

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Indo Straits Tbk (PTIS) menargetkan total pendapatan sebesar US$ 20,91 juta. Operations Director PT…