Beban Tinggi, Davomas Rugi Rp 276,21 Miliar

NERACA

Jakarta - Emiten yang akhir-akhir ini banyak diberitakan karena tidak memperlihatkan tanggung jawab sebagai perusahaan publik dan juga mengalami gagal bayar atau default obligasi yaitu PT Davomas Abadi Tbk (DAVO) akhirnya mengeluarkan laporan keuangan per semester I-2012 ini.

Seperti dijelaskan perseroan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/8), Davomas mencatatkan rugi menjadi Rp 276,21 miliar pada semester pertama 2012, atau naik dari periode yang sama 2011 sebesar Rp 14,55 miliar.

Pendapatan usaha perseroan naik menjadi Rp 660,05 miliar pada semester pertama 2012 YoY dari Rp 588,93 miliar. Namun, beban pokok penjualan perseroan naik menjadi Rp 710 miliar pada semester pertama 2012 YoY dari Rp 482,25 miliar. Alhasil, laba kotor perseroan pun turun menjadi Rp 49,94 miliar dari sebelumnya Rp 106,68 miliar. Rugi bersih per saham menjadi Rp 22.

Kewajiban DAVO naik menjadi Rp 4,89 triliun pada 30 Juni 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp 1,88 triliun. Ekuitas perseron turun menjadi Rp 349 miliar pada 30 Juni 2012 dari posisi akhir 2011 sebesar Rp 693,76 miliar. Kas dan bank perseroan naik menjadi Rp 82,55 miliar pada 30 Juni 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp 79,35 miliar.

Sebelumnya pihak perseroan memberikan pernyataan mengenai kelalaian pembayaran kupon obligasi pada 7 Maret 2012. Faktornya adalah karena kas keuangan perseroan yang minim. Dimana berdasarkan laporan keuangan auditan 31 Desember 2011 kondisi kas dan bank perseroan ternyata hanya sebesar Rp 79,35 miliar.

Direktur Utama Davomas Abadi Berliana Sukarmadijaja mengatakan, keterlambatan pembayaran obligasi karena kas perseroan sedang tipis. Maka dengan keadaan tersebut, perseroan tidak dapat melalukan pembayaran bunga obligasi pada Maret lalu. ”Kami tidak dapat menyelesaikan pembayaran bunga obligasi, dikarenakan kegiatan usaha yang sedang menurun, sehingga pihak munajemen harus mengambil keputusan untuk tidak membayar dengan maksud untuk lebih mementingkan kondisi keuangan intern perusahaan, demi kelangsungan hidup perusahaan,” katanya.

Menurutnya, penyampaian alasan tersebut juga bagian penjelasan perseroan kepada BEI yang selama ini mempertanyakan kondisi kas dan bank yang tertera pada laporan keuangan auditan 31 Desember 2011 sebesar Rp 334,84 miliar, dimana BEI meminta penjelasan mengapa Perseroan tidak dapat melakukan penyelesaian bunga obligasi yang jatuh tempo pada Maret 2012.

Sebelumnya, emiten berkode saham DAVO sulit dimintai keterangan oleh BEI. Manajemen perseroan berkilah, penggunaan kas akan diprioritaskan untuk kepentingan internal perseroan yang kinerjanya memang sedang menurun.

Namun demikian, Davomas telah melakukan restrukturisasi utang untuk melakukan penyelesaian dalam pelunasan obligasi tersebut yang rampung pada Juni lalu. Akan tetapi, untuk detail dari aksi korporasi tersebut, masih dalam pembahasan oleh pihak perseroan.

Terkait kabar bahwa perusahaan tengah berhenti beroperasi, Berliana membantah tersebut. Menurutnya, perusahaan masih beraktifitas kendati aktifitasnya kecil. “Perseroan tidak pernah berhenti beroperasi, namun aktifitas pabrik memang relatif kecil dengan kondisi utilitas di bawah 30% dari kapasitas produksi yang terpasang, dan konsidi kegiatan perseroan saat ini sudah mencapai di atas 30% dari kapasitas produksi yang terpasang,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Davomas gagal membayar kupon obligasi pada 7 Maret 2012 lalu. Obligasi yang tercatat di Bursa Efek Singapura ini jatuh tempo pada 2014 dengan nilai US$119 juta dengan kupon 11%. Akibatnya, perdagangan saham Davomas dihentikan (disuspensi) oleh BEI sejak 9 Maret 2012. Semenjak itu, BEI mengaku kesulitan meminta penjelasan dari pihak Davomas sendiri. (didi)

BERITA TERKAIT

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp200 miliar

      NERACA   Jakarta – PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) telah menyalurkan pembiayaan dengan model financial technology (fintech)…

KARW Incar Pendapatan Tumbuh 5% di 2018 - Beban Yang Ditanggung Membengkak

NERACA Jakarta - PT ICTSI Jasa Prima Indonesia Tbk (KARW) menargetkan pertumbuhan laba yang konservatif untuk tahun 2018. Besarnya beban…

Mega Manunggal Targetkan Laba Rp 200 Miliar - Proyeksi Kinerja 2018

NERACA Jakarta - PT Mega Manunggal Properti Tbk (MMLP) akan membangun dua sampai tiga gudang di tahun depan. Dengan begitu perusahaan ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…