Impor Bahan Baku Terus Meningkat - Sudah 40 Tahun Jadi Masalah Sektor Industri

NERACA

Jakarta - Sampai dengan semester I tahun ini, impor bahan baku dan penolong naik 7,48% seiring dengan meningkatnya investasi di sektor industri manufaktur. Periode Januari sampai dengan Juni 2012, impor bahan baku dan penolong mencapai US$12,10 miliar, naik 7,48% dan impor barang modal sebesar US$3,43 miliar, meningkat 25,26%.

“Sedangkan impor barang konsumsi sekitar US$1,16 miliar, tumbuh 7,56%,” kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat, saat buka bersama di kediamannya di Jakarta, kemarin malam.

Selain memberikan sinyal positif, menurut Hidayat, impor bahan baku dan penolong merupakan persoalan yang sudah lebih dari 40 tahun menjadi masalah dalam memacu perkembangan industri dalam negeri.

“Ketergantungan impor bahan baku dan penolong serta barang modal dan permesinan sangat dibutuhkan dalam industrialisasi. Pemerintah juga mendorong investasi di sektor permesinan,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama,Hidayat juga memaparkan bahwa pihaknya,akan mengawal ketat proyek-proyek industri dasar untuk memacu tumbuhnya industri hulu baik logam dasar maupun industri kimia dasar.

“Agar sektor industri hulu baik logam dasar seperti baja, alumunium, nikel dan tembaga, maupun industri kimia dasar seperti industri petrokimia mengalami pertumbuhan yang pesat, pemerintah telah mengeluarkan berbagai insentif seperti tax holiday, tax incentive dan pembebasan bea masuk barang modal bagi pengembangan industri,” tukasnya.

Proyek-proyek strategis yang sedang berjalan menurut Hidayat, terdapat pada industri besi baja, industri petrokimia dan pupuk. “Pada sektor besi baja, PT Krakatau Posco telah memulai pembangunan tahap I pabrik di Cilegon dengan kapasitas 3 juta ton per tahun dengan investasi US$2,8 miliar, PT Batulicin Steel telah memulai pembangunan pabrik tahap I berkapasitas 1 juta ton per tahun dan PT Ferronikel Halmahera Timur sudah menanamkan modalnya sebesar US$1,6 miliar dengan kapasitas produksi mencapai 27.000 ton per tahun,” paparnya.

Pada industri petrokimia, lanjut Hidayat, PT Petrokimia Butadiene Indonesia telah berinvestasi sebesar Rp1,5 triliun dan PT Chandra Asri menanamkan modalnya sebesar Rp1,7 triliun. Selain itu, pemerintah akan merevitalisasi lima pabrik pupuk urea milik BUMN dengan investasi US$3,7 miliar.

“PT Petrokimia Butadiene Indonesia memiliki kapasitas 150.000 ton per tahun, PT Chandra Asri kapasitasnya 1 juta ton per tahun dan lima pabrik pupuk urea BUMN memiliki kapasitas 3,5 juta ton per tahun. Proyek-proyek tersebut akan selesai pada 2014,” tuturnya.

Hidayat menambahkan, dengan realisasi pembangunan di sektor industri logam dasar maupun industri kimia dasar, maka sektor tersebut tidak akan kesulitan bahan baku. “Selama ini, bahan baku untuk sektor logam dasar dan kimia dasar masih diimpor dan membuat biaya produksi semakin tinggi,” tandasnya.

Belum Bisa Diproduksi

Di tempat yang sama, Sofjan Wanandi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan, impor melonjak karena masih banyak komponen otomotif yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Penyebabkan impor komponen ikut naik, khusus bahan baku dan penolong barang modal (mesin) pada Juni lalu.

Di satu sisi, perkembangan ini dinilai positif karena bisa menggerakkan perekonomian nasional dan menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi, bila tidak dijaga keseimbangannya, akan mengancam devisit devisa negara. Pasalnya, ekspor Indonesia turun, khusus ke Eropa yang mengalami krisis.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), bulan keenam impor bahan baku dan penolong tercatat US$ 12,10 miliar naik 7,48 %dan barang modal 3,43 miliar dollar AS (naik 25,26 %) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dijelaskan, kondisi ini menunjukkan industri otomotif nasional masih besar ketergantungannya kepada impor. Pemerintah diminta segera menyediakan kebijakan untuk mengurangi impor dan meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri untuk produk-produk otomotif.

Pemerintah sebenarnya berusaha menarik investor untuk menanamkan modalnya di bidang industri komponen kendaraan bermotor melalui program mobil murah dan ramah lingkungan (low cost and green car).

"Kami ingin LGCG mewajibkan 80% diproduksi secara lokal. Untuk menghubungkan industri komponen yang selama ini sempat terputus, yaitu powertrain (mesin dan, transmisi)," ungkap Budi Darmadi, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, Menurut data GAIKINDO, kapasitas produksi bulanan industri otomotif nasional sudah menyentuh titik tertinggi, yaitu level 94.300 unit pada Juni 2012. Total produksi mobil di Indonesia pada semester pertama 2012 sudah mencapai 524.738 unit. "Saya optimis tahun ini Indonesia akan menembus pasar 1 juta unit, jika melihat total pasar sampai Juli sudah menembus 600.000 unit lebih," beber Johnny Darmawan, Ketua III GAIKINDO.

BERITA TERKAIT

GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari - Permintaan Ban TBR Meningkat

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…

Produk Impor dan Produk Domestik

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dari sisi pasokan, baik produk impor maupun produk dalam negeri keduanya…

Genjot Belanja APBN Alkes Dalam Negeri - Tekan Kebutuhan Impor Alkes

NERACA Jakarta - Ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan (alkes) impor masih relatif tinggi. Berdasarkan data izin edar yang diterbitkan oleh…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…