Sekolah Berkualitas Tidak Harus Mahal

NERACA Bermutu-tidaknya suatu institusi pendidikan, tidak bisa diukur dari mahal-tidaknya institusi tersebut. Sayangnya, pandangan itu sudah menjadi keyakinan yang terpatri kuat di dalam benak masyarakat seiring dengan mahalnya biaya pendidikan. Semua orangtua tentu menginginkan yang terbaik untuk perkembangan anak-anak mereka. Dan pendidikan anak adalah salah satu hal yang jadi perhatian utama orangtua. Ada banyak faktor yang biasa kita pertimbangkan ketika hendak memilih sekolah untuk anak, salah satunya adalah kualitas sekolah. Sebagai orang tua yang peduli terhadap masa depan anak-anaknya haruslah selektif memilihkan sekolah yang berkualitas untuk anak, karena pendidikan itu penting buat masa depan. Menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang memiliki kurikulum, bahan ajar, metodologi, sistem dan infrastruktur yang sesuai dengan perkembangan dalam era informasi saat ini. Akan tetapi, pendidikan kini telah masuk ranah bisnis. Seberapa besar biaya produksi suatu barang, sebesar itu pula konsumen dibebankan harganya. Terlebih lagi dalam teori pasar, jika barang sedikit atau cenderung tidak ada, semahal apapun itu pasti konsumen akan membayarnya. Oleh karena itu, menjadi “PR” besar bagi bangsa Indonesia untuk menghapus ironi pendidikan yang tidak berpihak kepada rakyat pada umumnya. Masyarakat yang saat ini memerlukan kualitas, namun masih dihantui oleh biaya mahal. Seorang pakar pendidikan pernah berujar “untuk menciptakan pendidikan bermutu, anggaran pendidikan harus ditingkatkan”. Namun, benarkah sekolah terbaik harus selalu identik dengan sekolah yang mahal dan favorit? Atau, apakah sekolah berkualitas harus dengan biaya mahal? Memang, untuk membangun gedung dan melengkapi sarana membutuhkan dana yang tidak sedikit. Belum lagi menggaji guru dan karyawan dengan jumlah memadai agar mereka bekerja sungguh-sungguh. Apakah dengan mahalnya biaya bisa menjamin kualitas pendidikannya? Sudah menjadi semacam kredo bahwa sesuatu yang bermutu harus mahal. berbagai kasus tentang keinginan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan formal yang sering kali terganjal oleh biaya yang mahal. Ada yang terpaksa menjaminkan sertifikat tanahnya agar bisa sekolah. Padahal Sekolah berkualitas tidak harus mahal, dan sekolah mahalpun belum tentu berkualitas. Untuk mewujudkan sekolah yang berkualitas, sangat tergantung pada perencanaan satuan pendidikan yang matang, pengelolaan, daya dukung, dan manajerial pemimpin yang bermutu. Sekolah yang dikelola acak-acakan dan program tidak jelas, hanya akan memperbesar pemborosan. Mewujudkan sekolah maju membutuhkan komitmen stakeholders satuan pendidikan. Akan tetapi, adakah kemasan suatu sekolah yang didesain dapat maju sekaligus bermutu dengan ongkos pendidikan tidak mahal? Upaya Pemerintah Agar putra-putri Indonesia memiliki kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan, pemerintah membuat sebuah program yang dicanangkan untuk mendorong lahirnya satu sistem alternatif untuk pendidikan di Indonesia. Harapannya akan tercipta sebuah institusi pendidikan yang bermutu tetapi tidak mahal. Biaya pendidikan dapat terjangkau bagi masyarakat, sekalipun untuk kelompok-kelompok yang belum mampu. Untuk itu pemerintah telah memiliki sistem khusus untuk membebaskan biaya pendidikan wajib. Program tersebut aadalah pendidikan gratis untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Fenomena pendidikan gratis ini memang sangat ditunggu-tunggu, pasalnya Pemerintah mengeluarkan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) untuk menutupi harga-harga buku yang kian hari kian melambung, sumbangan ini itu, gaji guru yang tidak cukup dan biaya-biaya lainnya. Adanya sekolah murah yang dana aktivitas pendidikannya terbanyak atau sepenuhnya ditanggung pemerintah, bisa menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan peran dan keberadaan pemerintah. Kebijakan-kebijakan pemerintah akan segera didengar dan dipatuhi masyarakat selagi masyarakat benar-benar merasa pemerintah berada di pihak mereka dan berusaha menyejahterahkan masyarakatnya. Sebaliknya, pemerintah pun akan memiliki bargaining politik yang kuat. Salah satu prasyarat pemerintahan yang kuat dan berdaulat adalah harus mendapatkan cinta dari rakyatnya.

BERITA TERKAIT

Siap Menang Tidak Siap Kalah

Oleh: Budi Setiawanto Perusakan kantor dan kendaraan yang ada di Kementerian Dalam Negeri serta penganiayaan terhadap 15 karyawan kementerian itu…

Anak Sekolah Paling Rentan Terkena DBD

Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit demam berdarah dengue."Anak-anak dari pagi dan siang duduk dalam ruang kelas…

Proses Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya Harus Selaras

Fauzi Aziz, Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri Transformasi Indonesia memang tidak bisa lepas dari proses politik, proses ekonomi dan proses…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Kebohongan dalam Dunia Pendidikan

      Skandal kebohongan Dwi Hartanto mengejutkan Indonesia. Namun perilaku menyimpang itu bukan tidak lazim di dunia sains. Tapi…

Penguatan Karakter Tak Melulu Soal Akademis

      Usai ujian akhir semester, Martin seorang guru mata pelajaran sibuk menyiapkan nilai para siswanya. Selain nilai akademis,…

2020, Tak Ada Lagi Mata Pelajaran Matematika Di Negara Ini

      Matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang menakutkan bagi siswa di Indonesia. Tinta merah acap kali tersemat…