Perbankan Mampu Tingkatkan Likuiditas SUN di Pasar Modal - Dampak Positif Jadi AB

NERACA

Jakarta - Rencana Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk menjadikan bank umum sebagai anggota bursa (AB) diyakini akan berimbas pada peningkatan likuiditas pada efek surat utang Negara (SUN).

Kata pengamat pasar modal, David Ferdinandus, dengan terdaftar sebagai AB, kalangan perbankan nantinya bakal bisa lebih leluasa dalam bertransaksi surat obligasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Tentunya dengan demikian, pasar obligasi diyakini bakal semakin likuid dan lebih banyak ditransaksikan di lantai pasar modal nasional,”katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, lantaran perbankan belum terdaftar sebagai AB, sehingga belum bisa bertransaksi obligasi di dalam bursa. Pasalnya, transaksi obligasi perbankan selama ini dilakukan di luar bursa (over the counter/OTC). Oleh karena itu, bila nanti perbankan sudah bisa transaksi di dalam bursa, tentunya itu positif bagi pasar obligasi.

Selama ini, menurut David, transaksi obligasi di dalam bursa memang cenderung minim dengan volume transaksi yang masih dalam kisaran miliar rupiah. Sementara volume transaksi yang kerap kali dilakukan perbankan di luar bursa cenderung lebih besar.

Sehingga, kehadiran perbankan diharapkan bisa memicu lonjakan transaksi surat utang di BEI. Masuknya perbankan menjadi AB merupakan bagian rencana Bapepam-LK dengan menambahkan poin perluasan keanggotaan bursa di dalam resume rancangan Undang-Undang tentang Pasar Modal Juli 2012.

Menurut Kepala Biro Perundang-Undangan dan Bantuan Hukum Bapepam-LK, Robinson Simbolon, selama ini pelaku perdagangan SUN banyak dilakukan oleh Bank maupun perusahaan efek namun terjadi secara OTC.

Sehingga diperlukan adanya infrastruktur hukum yang memungkinkan transaksi dilakukan langsung di bursa, dengan dukungan partisipasi Bank sebagai anggota AB, “Ini untuk memajukan pasar SUN saja supaya lebih likuid, pasalnya selama ini transaksi yang perbankan lakukan tidak langsung karena bukan anggota bursa. Jadi melalui pihak perantara atau pihak ketiga,” ujar Robinson.

Sementara Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Samsul Hidayat mengatakan, BEI telah memiliki sistem perdagangan obligasi di pasar sekunder yang pernah digunakan oleh Bursa Efek Surabaya (BES) yang bernama Fixed Income Trading System (FITS). Sistem transaksi perdagangan BEI yaitu Jakarta Automated Trading System Next Generation (JATS Next G), pada dasarnya sudah terintegrasi dengan sistem FITS tersebut namun saat ini belum dapat dijalankan karena belum memiliki payung hukum.

Lebih Transparan

Pengamat perbankan Ahmad Deni Daruri, juga menyatakan dukungannya terhadap rencana masuknya kalangan perbankan sebagai AB di pasar modal. Menurutnya, ada beragam keuntungan yang bakal didapat oleh pihak perbankan bila memang rencana tersebut benar-benar bisa direalisasikan. “Langkah tersebut akan membuat proses transaksi menjadi lebih baik, lebih transparan serta mengurangi adanya hot money. Keuntungan juga bisa didapat dari penambahan transaksi perbankan dalam hal pendanaan,” ujar Deni.

Salah satunya adalah penetapan harga, dengan ditransaksikan di bursa, maka harga obligasi menjadi lebih transparan. Dengan demikian, pendapatan berbasis biaya (fee based income) yang bakal didapatkan oleh pihak bank umum diyakini juga akan lebih besar dibanding dengan perdagangan yang dilakukan di luar bursa (OTC).

Menurut Deni, masuknya perbankan menjadi AB sudah banyak diterapkan oleh industri pasar modal di sejumlah negara. Namun penting untuk diperhatikan adalah kejelasan regulasi sekaligus sistem sanksi (punishment) yang bakal diterapkan di lapangan. “Punishment yang ada harus benar-benar dipertimbangkan. Jangan terlalu longgar, namun juga jangan terlalu ketat. Yang penting bisa fleksibel lah, sehingga banyak bank yang tertarik masuk jadi anggota bursa,” tegas dia.

Selama ini, keseluruhan transaksi SUN maupun surat utang (obligasi) lainnya memang tidak dapat dilepaskan dari andil besar kalangan perbankan. Data perdagangan mencatat bahwa hampir 90% transaksi SUN didominasi oleh pelaku industri perbankan. (bani)

BERITA TERKAIT

DAMPAK IMPOR GARAM

Pekerja menyelesaikan pembuatan garam gandu tradisional di Kampung Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/2). Akibat Pemerintah memutuskan impor garam sebanyak…

Investasi Pasar Modal di Kalbar Meningkat - Catatkan 9.566 Jumlah Investor

NERACA Pontianak - Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) cabang Pontianak, Taufan Febiola mengatakan, per 31 Januari 2018 sudah…

Pasar Modal Indonesia Sudah Teruji dan Kebal - Dihantui Sentimen Tahun Politik

NERACA Jakarta – Tahun 2018 masih memberikan harapan positif bagi kinerja Bursa Efek Indonesia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…