Apindo Minta China Relokasi Pabrik ke Indonesia - Hentikan Ekspor Bahan Baku

NERACA

Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai Indonesia harus bisa memanfaatkan langkah China untuk merelokasi sejumlah industri padat karya dalam negeri karena bahan baku dari Indonesia tidak diekspor ke negeri tersebut.

“Peluang kerja sama Indonesia dengan China harus dimanfaatkan betul dengan merelokasi industri padat karya yang bahan bakunya tersedia di Indonesia sehingga kita tidak lagi mengekspor bahan baku ke mereka seperti rotan, kelapa sawit, dan kakao. Selain pengusaha, kita juga harus mengajak pemerintah China agar mendukung relokasi bisnis tersebut,” kata Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi di Jakarta, Kamis (2/8).

Sofjan mengatakan, proses realisasi relokasi industri China ke Indonesia memang membutuhkan waktu. Pemerintah bersama pelaku usaha bisa memanfaatkan momentum untuk bekerja sama dengan China. “Memang, harus mencapai skala ukuran yang sesuai dan ekonomis dulu. Butuh waktu dan kasih mereka kesempatan untuk mencapai skala ekonomis itu dan mengajak mereka masuk ke sini,” paparnya.

Sofjan menuturkan, Indonesia harus berbenah diri agar mampu berdaya saing dengan China, termasuk mengenai sistem logistik nasional yang tidak efisien. Bahkan, 10 sampai 15% dari biaya yang harus ditanggung produsen merupakan ongkos logistik.

“Pelaku usaha harus menegaskan ke pemerintah, prioritas-prioritas yang harus segera diselesaikan untuk mengefisiensikan logistik nasional. Misalnya, pembangunan jalur kereta api dari pelabuhan laut, menyelesaikan masalah pembebasan lahan, dan membangun pelabuhan, pemerintah jangan hanya fokus menerbitkan cetak biru logistik, tapi konsepnya tidak bisa dijalankan,” ujarnya.

Sedangkan Pengamat Ekonomi dari Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan, kompetitor industri padat karya seperti industri TPT nasional semakin banyak, khususnya dari negara yang bisa mengandalkan tenaga kerja murah seperti China, Vietnam, dan beberapa negara di Asia lainnya. Karena itu, keunggulan kompetitif industri TPT nasional mestinya tidak lagi berfokus pada tenaga kerja, tetapi melalui pendekatan teknologi yang lebih efisien dan signifikan menurunkan biaya operasional, dengan memberantas ekonomi biaya tinggi.

“Produk TPT Indonesia dikenal berkualitas dan memenuhi selera atau cita rasa konsumen di pasar internasional. Namun hal tersebut masih terhambat masalah perbaikan infrastruktur, efisiensi biaya pengadaan bahan baku dan energi serta proses produksi yang efisien akan memengaruhi daya saing industri TPT nasional, sehingga bisa berbicara di dunia, begitu pula industri sepatu nasional,” katanya.

Inovasi Industri

Sementara itu, pengamat pertekstilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Biranul Anas Zaman mengungkapkan kreatifitas dan inovasi industri tekstil nasional tersandera pasar akibat terpaku sebagai industri "job order" atau fokus memenuhi permintaan pihak ketiga. "Kreativitas industri tekstil nasional perlu digenjot dan lebih inovatif, sehingga memiliki peluang besar membuka pasar baru di pasar dalam maupun luar negeri," katanya.

Kelemahan dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam produknya, menjadi salah satu pemicu kurangnya daya saing di pasar. Selain itu menjadikan industri tekstil nasional secara utuh tergantung kepada pasar yang ada saat ini mulai dari produk hingga harga. "Dengan mengembangkan kreatif dan inovasi maka industri tekstil akan memiliki kemampuan dan posisi tawar yang lebih baik," katanya.

Kecenderungan terhadap produk pesanan pihak ketiga itu, cederung menjebak produk tekstil nasional menjadi sulit berkembang, bahkan sangat berisiko larinya pesan kepada produsen lain. Proses kreatif dan inovasi dalam industri tekstil nasional akan menentukan masa depan industri TPT di Indonesia. "Untuk menjadi pemimpin pasar, industri tekstil perlu ada terobosan, salah satunya kreativitas dan inovasi produk, sehingga pasar tidak jenuh. Peluang membuka pasar TPT masih cukup terbuka meski grafiknya ditentukan oleh kondisi perekonomian dunia," kata Biranul.

BERITA TERKAIT

Aksi Nyata Indonesia Mendukung Palestina

  Oleh: Agung Widjayanto, Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin Konflik Israel – Palestina atau bagian dari konflik Arab -…

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM

Sinergi Indonesia-Korea Tingkatkan Inovasi UKM NERACA Jakarta - Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro Hasan Jauhari mengungkapkan…

Investor Asing Masih Percaya Indonesia - Laris Manis Komodo Bond

NERACA Jakarta- Ludesnya penawaran PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Komodo Bond di Londo Stock Exchange, menunjukkan kepercayaan pelaku pasar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…