IKM Batik Mulai Kesulitan Bahan Baku

NERACA

Jakarta - Industri Kecil dan Menengah (IKM) khususnya produsen batik mulai kesulitan mendapatkan bahan baku. Selama ini, pasokan gondorukem atau getah pohon pinus yang merupakan salah satu bahan penguat warna dalam pembuatan batik, banyak yang diekspor.

“Banyaknya negara yang memproduksi batik menyebabkan pasokan gondorukem semakin sulit didapatkan. Saat ini produksi gondorukem nasional hanya 80.000 ton per tahun dan dipasok dari PT Inhutani I dan III di Sumatera dan Sulawesi. Sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 70 ribu ton per tahun, namun ada kekurangan sekitar 20.000 ton per tahun karena bahan baku tersebut banyak diekspor,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah, di Jakarta, Rabu (1/8).

Euis mengatakan saat ini batik sudah mulai mendunia dan banyak negara yang ikut memproduksi batik seperti Indonesia. Sejumlah negara yang memproduksi batik antara lain Malaysia, Turki, China serta negara di Afrika dan Eropa Timur. “Saat ini sudah ada 15 negara yang ikut membuat batik seperti Indonesia. Mereka memproduksi batik sendiri sesuai dengan corak alam dan lingkungan mereka,” ujarnya.

Kemenperin melalui Direktorat Jenderal IKM akan melakukan penambahan mesin produksi gondorukem. Selain itu pemerintah juga berharap Inhutani mengurangi ekspor dan memprioritaskan kebutuhan gondorukem dalam negeri. “Untuk meningkatkan produksi gondorukem, pemerintah akan membeli satu mesin produksi gondorukem seharga US$300 juta. Untuk menambah kekurangan gondorukem, produsen batik banyak mengimpor dari China,” tuturnya.

Euis menambahkan, masalah pendanaan di sektor IKM masih menjadi kendala. Selama ini pihak perbankan kurang tertarik untuk mengeluarkan dananya untuk IKM. “Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada sector IKM masih sangat minim. Pemerintah berharap perbankan bisa membantu pendanaan bagi pelaku IKM,” ujarnya.

Pasar Ekspor

Sementara itu, Menteri Perdagangan, Gita Wiryawan menyebut bahwa pasar ekspor terbesar batik Indonesia adalah Amerika, Eropa dan Jepang. “Pasar utama kita Amerika, Jepang dan Eropa,” sebut Gita.

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Perdagangan (Kemendag), dari tahun 2006 hingga 2011, pangsa pasar eskpor Batik ke Amerika menduduki peringkat pertama. Tercatat pada tahun 2011, pangsa pasar ekspor Batik ke Amerika sebesar 35,63 dengan nilai US$ 24,668 juta. Sementara pangsa pasar Eropa secara komunal berada pada urutan kedua. Kemudian diikuti Jepang dengan pangsa pasar sebsar 10,90 % dan nilai US$ 7,547 juta.

Lebih lanjut, Gita menguraikan bahwa nilai ekspor Batik ke semua Negara tujuan, sempat mengalami puncak di tahun 2008 hampir 100 juta dolar AS, tepatnya US$ 93,09 juta.Setelah itu, turun seiring pengaruh dari krisis global. “Karena pasar utama kita Amerika, Jepang dan Eropa, yang tiga-tiganya mengalami penurunan dari pertumbuhan ekonominya, mengalami berbagai macam masalah ekonomi. Hingga dapat dikatakan batik itu menjadi item yang mereka akan kurangi pembeliannya,” kata dia.

Karenanya, pemerintah akan melakukan strategi diversifikasi pasar (buka pasar) baru ekspor Batik. Tidak lagi mengenjot ekspor Batik ke tiga negara yang mulai lesu. Seiring dengan itu, diversifikasi produk pun akan dilakukan untuk memenuhi permintaan pasar yang baru. “Karena mungkin tiap pasar permintaannya berbeda,” ucapnya.

Namun ditegaskannya, jangan hanya melihat pada nilai ekspor yang US$ 100 juta , tetapi lebih dari itu yakni nilai fashion branding yang bisa diperoleh dengan keberadaan Batik di luar negeri. “Sebagai tools, untuk promosi dan diplomasi, Batik itu bisa memiliki nilai yang lebih tinggi daripada nilai yang tercermin dari angka ekspor,” pungkas Gita.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Beri Masukan Kebijakan KITE Bagi IKM - Kemudahan Impor Tujuan Ekspor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mendukung pelaksanaan…

Kampung Batik Semarang Terus Bersolek Untuk Sambut Wisatawan

Pemerintah Kota Semarang terus mempercantik Kampung Batik dengan menjadikannya kampung tematik agar semakin menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara…

UKM Berharap Ada Aturan Baku e-Commerce

Sejumlah pelaku usaha mikro kecil dan menengah berharap pemerintah segera membuat aturan baku perdagangan barang/jasa secara elektronik (sistem daring) demi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Penanaman Modal di Sektor Riil - Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

Mencari Alternatif Langkah Penyelamatan Perusahaan Negara

NERACA Jakarta - Rencana pemerintah membentuk induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mendapat kritik dari sejumlah akademisi…

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Gencarkan Implementasi Program e-Smart IKM

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil dan Menengah (IKM) kembali menggelar Workshop e-Smart IKM…