Indosat Alami Rugi Rp 131,8 Miliar

NERACA

Jakarta - Emiten telekomunikasi seluler, PT Indosat Tbk (ISAT) mencatat rugi bersih Rp 131,8 miliar pada semester I-2012. Angka tersebut anjlok sebesar 118,2% dari periode yang sama sebelumnya yaitu menghasilkan laba Rp 724,5 miliar. Perseroan beralasan penurunan kinerja ini akibat nilai tukar mata uang. "Penurunan ini disebabkan penurunan nilai tukar mata uang sepanjang semester I-2012," kata Direktur Utama Indosat, Harry Sasangko di Jakarta, Selasa (31/7).

Kinerja buruk kini disebabkan rugi selisih kurs yang diderita ISAT dengan nilai Rp 522,3 miliar. Padahal pada semester I-2011 perseroan meraih untung kurs Rp 677,7 miliar.

Hitungan rugi kurs itu dihitung dari posisi penutupan rupiah akhir 2011 Rp 9.480 per dollar AS, dibandingkan valas per Juni 2012 Rp 9.068 per dollar AS. Selisih rugi kurs ini menjadi tanggungan perseroan terhadap utang valas yang mencapai US$ 11,96 juta.

Laba bersih ber saham juga anjlok dari Rp 133,33 per lembat menjadi Rp 24,26 per lembar. Kendati demikian, pendapatan perseroan sebenarnya naik 3,3% dari Rp 10,041 triliun menjadi Rp 10,37 triliun. Pendapatan selular naik 3,7% menjadi Rp 8,52 triliun dari sebelumnya Rp 8,21 triliun.

Khusus pendapatan non selular naik 1,5% dari Rp 1,82 triliun menjadi Rp 1,85 triliun. Usai terpangkas beban usaha Rp 8,92 triliun, laba usaha ISAT hanya mencapai Rp 1,44 triliun. Laba usaha naikk tipis dari sebelumnya Rp 1,41 triliun.

Namun beban lain-lain justru membengkak dari hanya Rp 350,2 miliar menjadi Rp 1,44 triliun. EBITDA naik tipis menjadi Rp 4,87 triliun dari periode sebelumnya Rp 4,56 triliun. Hingga Juni jumlah pelanggan selular perseroan mencapai 50,9 juta naik dari sebelumnya 47,3 juta. Sementara pelanggan internet naik dari 506,8 ribu menjadi 558,5 ribu.

Sementara ARPU Selular mencapai Rp 26 ribu, turun dari posisi sebelumnya Rp 29,3 ribu. ARPU FWA malah naik dari Rp 29,3 ribu menjadi Rp 32,3 ribu.

Utang Rp 26 Triliun

Indosat berniat mengurangi utang Rp 26 triliun yang mereka punya. Menurut Harry, khusus tahun ini Rp 2,9 triliun siap perseroan lunasi ke bebarapa bank, yang terdiri dari rupiah dan dolar AS. "Total utang kita Rp 26 triliun, di mana 54% dalam rupiah dan 46% dolar AS," jelasnya

Harry berencana mengurangi utang sekitar Rp 2,9 triliun tersebut demi mengurangi beban operasional perusahaan. Dia mengungkapkan, sebesar Rp 2,2 triliun merupakan utang dalam denominasi rupiah yang ISAT dapat dari tiga bank, cicilan pinjaman BCA 1 Rp 1 triliun, cicilan pinjaman Mandiri 1 Rp 1 triliun.

Masih terdapat pembayaran lebih awal obligasi II yang jatuh tempo di triwulan IV-2012 sekitar Rp 200 miliar. Sisanya sekitar Rp 700 miliar merupakan utang dalam denominasi dollar AS.

Sementara itu, Indosat masih menanti transaksi penjualan 2.500 menaranya kepada PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) senilai US$ 519 juta (Rp 4,671 triliun). Dari dana tersebut, sekitar US$ 406 juta (Rp 3,654 triliun) hasil penjualan menara digunakan Indosat untuk mengurangi utang sekaligus melakukan lindung nilai (hedging).

Diungkapkan Harry, hedging memang tidak bisa dilakukan 100%. “Maka kita bisa lakukan natural hedging melalui penjualan menara ke Tower Bersama, karena transaksinya dalam dolar AS hingga tidak ada loss," ungkapnya.

Harry berharap agar dana US$ 406 juta dari total penjualan menara US$ 519 juta bisa dijadikan dana pengurang utang Indosat yang total mencapai Rp 26 triliun. "Transaksi Tower untuk kurangi (utang) dollar AS. Untuk transaksi per menara US$ 164 ribu. Terlebih kita dapat saham 5% TBIG," pungkasnya.

Seperti diketahui, perjanjian jual beli menara antara perseroan dengan Indosat sejatinya telah terjadi Februari lalu. Dimana Tower Bersama membeli 2.500 tower milik Indosat senilai US$ 519 juta atau sekitar Rp 4,7 triliun.

Tower Bersama akan mengeluarkan saham baru sekitar 239,826 juta saham atau setara 5% dari modal ditempatkan. ISAT bertindak sebagai pembeli siaga. (didi)

BERITA TERKAIT

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen

Banten November Alami Inflasi 0,35 Persen NERACA Serang - Provinsi Banten pada bulan November 2017 mengalami inflasi 0,35 persen dibandingkan…

Mega Manunggal Targetkan Laba Rp 200 Miliar - Proyeksi Kinerja 2018

NERACA Jakarta - PT Mega Manunggal Properti Tbk (MMLP) akan membangun dua sampai tiga gudang di tahun depan. Dengan begitu perusahaan ini…

Banten Triwulan-III/2017 Alami Inflasi 4,17 Persen

Banten Triwulan-III/2017 Alami Inflasi 4,17 Persen NERACA Serang - Provinsi Banten pada triwulan-III/2017 mengalami inflasi 4,17 persen (yoy), lebih rendah…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasok Permintaan PLN - DWGL Kejar Produksi 8 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal pada perdagangan Rabu (13/12), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)…

Samindo Anggarkan Capex US$ 13,8 Juta

NERACA Jakrta - Tahun depan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) perusahaan penyedia jasa pertambangan batu mengalokasikan capex sebesar US$ 13,8…

Permintaan Ban TBR Meningkat - GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…