Emiten Ganti Usaha Dituding Jadi Aksi Spekulasi

Bangunkan Saham Tidur

Selasa, 31/07/2012

NERACA

Jakarta – Maraknya emiten beralihnya sektor lini usaha baru, dinilai analis adalah untuk memperbaiki kinerja dan fundamental sahamnya. Alasannya, lini usaha yang lama dinilai tidak memiliki prospek karena banyaknya persaingan sehingga ruang untuk bertumbuh sudah tidak memungkinkan lagi. Namun demikian, hal tersebut bukanlah jaminan karena belum tentu lini usaha yang baru akan berhasil mengerek kinerja suatu emiten.

Kata analis pasar modal dari Indosurya Asset Management, Reza Priyambada, emiten yang melakukan pergantian lini usaha ini adalah emiten yang pergerakan sahamnya stagnan dan bahkan diindikasikan saham tidur. “Ada indikasi saham mereka stagnan. Kalau lihat chartnya sebelumnya mereka kan memang gak banyak berubah harganya. Lebih banyak stagnannya,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (29/7).

Menurut Reza, perubahan usaha dijadikan cara untuk menggerakkan saham tidur itu hanya salah satu cara saja agar menarik pelaku pasar masuk ke dalam saham tersebut. Namun berbicara aktif tidaknya saham, sambung Reza berkaitan dengan likuiditas. Dimana likuiditas berkaitan dengan banyaknya saham yang beredar di publik.

Jadi kata Reza, biarpun sudah ganti usaha tapi tidak disertai dengan berubahnya jumlah saham maka akan sama aja.“Justru dengan ganti usaha malah bisa dijadikan ajang spekulasi agar terlihat seolah-olah menarik sahamnya. Saham-saham tersebut atraktif pada saat berita pergantian usaha kian santer. Tapi, setelah itu, biasa-biasa aja saham nya. Kalaupun atraktif maka ada pihak yang sengaja menggerakkan saham-saham tersebut agar terlihat menarik,”ungkapnya.

Lebih lanjut Reza menjelaskan, beberapa emiten tersebut memutuskan untuk berganti haluan karena bagi mereka usaha sebelumnya tidak banyak berkontribusi pada pendapatan mereka sementara mereka masih ingin mempertahankan berdirinya perusahaan.

Tidak Jamin Likuid

Kendatipun demikian, lanjut Reza, adanya perubahan usaha dari satu usaha satu ke usaha lainnya memang kerap terjadi dalam dunia usaha. Perubahan ini tak lain memang untuk kemajuan perusahaan tersebut bila perusahaan tersebut masih ingin dipertahankan.

Dalam manajemen bisnis, berbagai aspek maupun pertimbangan kerap terjadi untuk berubahnya usaha dari suatu perusahaan, “Pergantian lini usaha biasanya disebabkan oleh lini bisnis usaha yang lama sudah mulai di ambang kejenuhan karena banyaknya persaingan sehingga ruang untuk bertumbuh sudah tidak memungkinkan lagi,”ungkapnya.

Kendati demikian, emiten-emiten yang berganti haluan tidak bisa langsung mencatatkan kinerja yang cemerlang. Pasalnya, mereka baru pindah usaha dan klalaupun mereka telah melakukan akuisisi terhadap perusahaan untuk menunjang perpindahan usaha juga memerlukan waktu untuk mengkonsolidasikan kinerjanya.

Sementara analis pasar modal dari Universal Broker, Satrio Utomo menambahkan, emiten yang melakuakan pergantian lini usaha ini banyak yang pindah ke sektor pertambangan terutama pertambangan batubara.

Menurutnya, emiten ini mengaca pada harga batubara yang booming di tahun kemarin, sehingga banyak yang beralih ke sektor ini. Dia menambahkan, dengan pergantian usaha ke batubara tersebut, belum tentu akan memperbaiki kinerja suatu emiten. “Apalagi harga batubara sedang turun drastis tahun ini, yang jelas-jelas akan mempengaruhi kinerja suatu emiten yang usahanya di sektor itu. Harus dipantau terus itu 2-3 tahun kinerjanya seperti apa. Jangan sampai seperti BUMI yang akhirnya banyak utang dan gali lobang tutup lobang,” tutupnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengungkapkan, saat ini tengah ada tren banyak perusahaan terbuka atau emiten yang akan melakukan pergantian bisnis. Pergantian bisnis tersebut, lanjut Ito memiliki latar belakang alasan yang bermacam-macam, namun mayoritas dari perusahaan tersebut beralasan melakukan pergantian bisnis untuk mencari peluang yang lebih baik agar dapat mendorong kinerja keuangan perusahaan.“Ada beberapa perusahaan yang mengajukan dokumen untuk melakukan pergantian core business, ada manufaktur, ada sektor properti,”ujarnya.

Dia menuturkan, beberapa perusahaan yang ingin melakukan pergantian bisnis tersebut saat ini mengalami keterpurukan karena dampak dari krisis keuangan. Namun, pergantian bisnis ini juga membutuhkan proses yang panjang, oleh karena itu pihaknya masih enggan menyebutkan perusahaan-perusahaan mana yang melakukan pergantian bisnis.

Tren Pergantian Bisnis Utama

Seperti diketahui ada beberapa emiten yang melakukan pergantian lini usaha. Mereka ini diantaranya PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) yang awalnya perusahaan di bidang pembiayaan, lalu memutuskan untuk mengubah bisnis intinya ke bidang perdagangan dan pertambangan nikel. Upaya itu dilakukan setelah mayoritas sahamnya dibeli oleh PT Jinsheng Mining yang berkonsentrasi pada bisnis perdagangan tembaga, nikel, seng, serta besi.

Perusahaan properti PT Laguna Cipta Griya Tbk (LCGP) yang beralih usaha ke sektor tambang. Peralihan bisnis ini terjadi setelah mayoritas saham Laguna dibeli PT Saga Petroleum Indonesia, anak usaha dari perusahaan asal Amerika Serikat, Saga Group. Grup perusahaan ini memiliki izin untuk mengeksplorasi sumur minyak yang berkapasitas 1.000 barel per hari di Sumatera Utara.

Selanjutnya, terdapat PT Eatertainment Internasional Tbk (SMMT) yang bergerak di sektor jasa. Perusahaan ini juga mengalihkan bisnisnya ke sektor pertambangan dengan mengakuisisi dua perusahaan tambang di Sumatera dan Kalimantan.

Kemudian, PT Agis Tbk (TMPI) yang pada kuartal pertama kemarin sudah dalam proses untuk mengembangkan bisnisnya di sektor pertambangan. Rupanya manajemen TMPI melihat peluang yang cemerlang untuk sektor pertambangan dibandingkan menjalankan bisnis di perdagangan ritel barang elektronik.

Pihak manajemen TMPI mengungkapkan bahwa latar belakang perubahan haluan bisnis ini, didasari kerugian-kerugian yang selalu didapatkan TMPI dalam menjalankan bisnis yang lama. Asal tahu saja, sampai kuartal III 2011, TMPI mengalami rugi 56.34%.

Presiden Direktur TMPI, Steven Kesuma pernah mengatakan, pihaknya mengubah haluan bisnis karena pertimbangan bisnis ritel yang dirasakan tidak berkembang baik selama 2011 kemarin. Oleh karena itu, menurutnya perlu ada diversifikasi ke bisnis lainnya seperti pertambangan yang sepertinya memiliki prospek yang cerah di tahun 2012 ini.

Lalu juga ada PT Myoh Technology Tbk (MYOH), yang membuka lembaran baru di tahun Naga ini dengan menjalani usaha di sektor pertambangan batubara. Bahkan pihak manajemen MYOH optimistis dengan haluan bisnis barunya bisa mendongkrak laba bersih mencapai Rp 38 miliar di 2012. (didi)