Perlindungan Investor di Atas Segala-galanya - Maraknya Analis Bodong

NERACA

Jakarta - Banyaknya oknum yang mengaku analis atau perekomendasi saham (analis bodong) disebabkan karena tidak semua pelaku pasar modal, khususnya investor pemula, memiliki peluang yang sama untuk mengakses informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini yang menyebabkan investor pemula sangat minim menerima keterbukaan informasi, khususnya kinerja emiten.

“Dengan begitu maka dapat menimbulkan apa yang dinamakan asymmetric information. Artinya, si penjual (analis bodong) lebih menguasai produk investasi yang akan dijual kepada si pembeli (investor pemula). Akibatnya si pembeli menjadi pihak yang sangat dirugikan karena telah ditipu,” kata Lektor Kepala FE Universitas Pancasila, Agus S Irfani, kepada Neraca di Jakarta, Jumat (27/7), pekan lalu.

Lebih lanjut Agus menuturkan, sisi lain, para investor pemula ini yang umumnya tidak mendapatkan akses informasi cenderung menggantungkan keputusan investasinya kepada analis bodong tersebut, sehingga sangat terbuka lebar untuk melakukan hidden information dan hidden action yang mengeksploitasi investor pemula.

“Ini lebih ke moral hazzard. Oleh karena itu, perlu upaya perlindungan investor yang lebih serius termasuk pemberian konsultasi investasi oleh Bapepam-LK serta asosiasi investor,” tukas dia.

Sementara itu, Isakayoga, selaku Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), berpendapat, untuk memperoleh sertifikasi, harus melalui pendidikan dan uji profesi. Tujuannya untuk pengawasan, baik kualitas dan kuantitas maupun kode etik, analis pasar modal itu sendiri.

“Tidak semua orang dapat memberikan data serta analisa saham. Dengan sertifikasi ini maka investor pun bisa dilindungi,” tutur dia kepada Neraca, kemarin.

Dibekukan

Dia mencontohkan, apabila sang analis salah memprediksi pasar, secara otomatis harus bertanggung jawab secara profesional. Sebaliknya, jika analis tidak memiliki sertifikasi, maka tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau bersertifikasi, seandainya mereka melanggar kode etik maka Bapepam akan memanggil dan sertifikatnya bisa dibekukan,” tegas dia. Dengan demikian, potensi kerugian terbesar jika berhubungan dengan analis bodong adalah investor dan emiten sendiri. Pasalnya, data yang didapat sang oknum tersebut bersifat ilegal.

Namun dirinya mengaku belum pernah mendengar tentang sertifikasi untuk analis pasar modal, namun untuk profesi yang lain seperti broker dealer dan akuntan publik memang sudah ada sertifikasinya.

“Untuk analis pasar modal, saya belum pernah dengar. Tapi kalaupun ada, misalnya, dari sebuah lembaga pendidikan. Apakah resmi dan diakui Bapepam-LK? Khusus sertifikasi broker dealer sudah ada lebih dari 15 tahun. Selain itu, ada juga sertifikasi untuk penjamin emisi (underwriter), manajer investasi, dan wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD). Ini semua dari Bapepam,” tandasnya.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Capital Bridge Indonesia, Aji Martono menilai, pihaknya bersama para analis, baik berasal dari perusahaan sekuritas maupun independen, akan membuat certificate securities analyze (CSA). Tujuannya memobilitas para analis untuk bisa mengarahkan investor dengan benar.

“Jadi kalau masih ada oknum yang menggiring investor pemula untuk membeli saham yang tidak bagus, bisa diminimalisir. Ini supaya investor bisa mengetahui secara teknikal dan fundamental, tidak asal beli saham. Program ini akan berjalan bulan September 2012,” kata Aji, pekan lalu. [ria/ardi]

BERITA TERKAIT

BEI Beri Sanksi Suspensi 19 Emiten - Melalaikan Kewajiban Biaya Pencatatan Tahunan

NERACA Jakarta – Musim laporan kinerja keuangan emiten menjadi momentum yang ditunggu para analis dan juga investor untuk memetakan investasi…

Ditopang Pondasi Bisnis Kuat - BTN Optimis Bakal Raup Laba Rp 3 Triliun

NERACA Jakarta -PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyampaikan optimistis akan meraup laba Rp3 triliun dengan berbagai bauran strategi…

Andalan Sakti Bidik Pendapatan Rp 13 Miliar

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI) langsung tancap gas kembangkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Adhi Commuter Bidik Dana IPO Rp 2,5 Triliun

NERACA Jakarta –Kembangkan ekspansi bisnisnya di sektor properti yang terintegrasi dengan moda transportasi menjadi fokus utama PT Adhi Commuter Properti…

Dampak Suspensi Saham - Tiphone Mobile dan KSEI Saling Tuduh

NERACA Jakarta –Dinilai melakukan salah prosedur karena penundaan pembayaran bunga ke-4 dan pelunasan pokok atas obligasi berkelanjutan II Tiphone tahap I…

Genjot Pertumbuhan Bisnis Gudang - Makmur Berkah Bidik Pendapatan Rp 120 Miliar

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi di sektor kawasan industri dan penyewaan gudang, PT Makmur Berkah Amanda…