Laba UNTR Naik 21, 35% di Semester Pertama

Meskipun penjualan alat berat PT United Tractor Tbk(UNTR) turun, tetapi tidak membuat pencapaian laba perseroan juga ikut turun. Pasalnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatat laba bersih Rp 3,08 triliun pada semester I-2012 atau naik 21,35% dari periode yang sama tahun lalu Rp 2,53 triliun.

Sementara laba per saham juga naik dari Rp 748 per lembar menjadi Rp 828 per lembar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangannya di Jakarta, Rabu (25/7). Disebutkan, laba didukung oleh peningkatan pendapatan bersih yang mencapai Rp 4,99 triliun dari Rp 25,61 triliun di semester I-2011 menjadi Rp 30,61 triliun di semester I-2012.

Pendapatan hasil penjualan mesin konstruksi UNTR mencapai Rp 14,06 triliun, naik dari periode sebelumnya Rp 12,88 triliun. Sedangkan usaha kontraktor pertambangan dan jasa terpadu mencapai Rp 12,83 triliun, serta pertambangan batu bara Rp 3,51 triliun. Hasil pihak berealasi atas mesin konstruksi juga naik menjadi Rp 197,63 miliar.

Usai terpangkas beban Rp 25,076 triliun, laba kotor perseroan tercatat Rp 5,534 triliun. Laba kotor naik Rp 1,10 triliun dari periode sebelumnya Rp 4,43 triliun. Laba usaha pun meningkat dari Rp 3,34 triliun di semester I-2011 menjadi Rp 4,08 triliun di semester I-2012.

Laba sebelum pajak dan laba bersih masing-masing Rp 3,97 triliun dan Rp 3,08 triliun. Seperti diketahui, penjualan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) pada semester I-2012 mengalami penurunan 2,35% dari 4.333 unit tmenjadi 4.231 unit. Penjualan bulan Juni bahkan turun lebih dalam 35% menjadi 502 unit dari bulan sebelumnya 773 unit.

Direktur UNTR Gidion Hasan memberikan alasan kenapa penjualan alat berat Komatsu turun signifikan di paruh pertama 2012. Pertama, ia mengatakan, harga komoditas kini cenderung melemah.

Diketahui bersama, industri pertambangan memang mengalami tekanan. Harga komoditas dunia tidak secemerlang periode sebelumnya. Ini menjadikan pelanggan mengurangi pemesanan alat berat."Kemudian adanya kebijakan regulasi tentang pembatasan ekspor mineral," kata Gidion.

Selain itu, persaingan di industri alat berat juga makin tinggi. Semakin banyak pemain atau distributor alat berat yang mampu menawarkan harga yang bersaing. (bani)

Related posts