[REVISI] BEI Klaim Sebagai Langkah Positif Bagi Investor

Ancam Delisting Tiga Emiten

Senin, 23/07/2012

NERACA

Jakarta - Mencuatnya nama tiga emiten, PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Katarina Utama Tbk (RINA), dan PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK), yang terancam dihapuskan pencatatan sahamnya (delisting) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) diakui sebagai langkah positif bagi investor meskipun langkah tersebut dinilai sangat lamban.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengaku bahwa ‘punishment’ tersebut bisa menjadi perhatian khusus bagi para investor jika ingin berinvestasi saham di pasar modal. "Positif untuk investor agar tidak beli kucing dalam karung. Jadi mereka harus berhati-hati," kata Ito di Jakarta, Jumat (20/7), pekan lalu.

Dia juga menekankan, kualitas perusahaan yang sudah mencatatkan nama di pasar modal memang harus terus dijaga. Jika emiten tersebut ternyata terbukti tidak memenuhi aturan yang ada, maka sudah sepatutnya pula BEI menghapus pencatatan sahamnya.

Namun, lanjutnya, BEI tidak semata-mata harus langsung melakukan delisting terhadap emiten tersebut. Pasalnya, otoritas bursa harus melakukan review serta kajian terhadap emiten tersebut. Sikap kooperatif atau tidaknya emiten tersebut juga menjadi penilaian tersendiri bagi BEI untuk mengambil langkah selanjutnya.

"Jika kita meminta suatu data, diberikan atau tidak, itu juga menjadi bagian dari penilaian BEI," tandasnya. Lektor Kepala FE Universitas Pancasila, Agus S Irfani mengkritik kebijakan BEI yang lamban dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi investor.

Anaktirikan investor

Bahkan Agus menegaskan kalau BEI seperti ‘menganaktirikan’ investor sebab bertindak setelah terjadinya kasus. “Itu karena lambannya sistem bursa untuk melindungi investor. Artinya, penerapan dan aplikasi aturan yang sudah ada kurang berjalan sebagai semestinya,” jelas dia kepada Neraca, kemarin.

Otoritas pasar modal, lanjut Agus, seharusnya bisa lebih cepat melaksanakan tindakan suspensi sehingga ancaman emiten di-delist juga cepat dilaksanakan. Seraya menambahkan, Managing Director Indosurya Asset Management, Reza Priyambada menegaskan kalau BEI belum serius menjalani program mereka untuk lebih bisa memajukan pasar modal Indonesia.

Menurut dia, selama ini BEI hanya ‘tunggu bola’. Setelah ada kasus, barulah mereka melakukan pemanggilan atau memberi surat peringatan. “Tapi tetap tidak ada upaya tindaklanjut. Padahal mereka bisa mengundang pihak manajemen untuk menindaklanjuti permasalahan itu,” ungkapnya.

Pasalnya, lanjut Reza, jika bicara pasar modal berarti berkaitan dengan pergerakan uang. Terkait nasib investor, dirinya mengatakan jelas sekali merugikan mereka. “Jangan sampai mereka (investor) takut untuk menginvestasikan uangnya,” tandas dia.

Seperti diketahui sebelumnya, DAVO dan RINA terancam delisting karena dianggap tidak kooperatif terkait belum melaporkan laporan keuangan 2011 dan saat ini sudah dilakukan penghentian perdagangan (suspensi).

Sementara KARK digugat pailit kliennya, SUEK AG asal Swiss, terkait tidak terealisasinya kontrak perjanjian antara PT Daya Mandri Resources Indonesia (DMRI) d/h PT Risna Karya Wardhana Mandiri (RKWM), keduanya terafiliasi dengan KARK. Pihak bursa pun masih melakukan suspensi. [ardi]