Pertumbuhan PDB vs Kesejahteraan

Laporan Biro Pusat Statistik bahwa produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia pada 2010 adalah Rp 27 juta atau setara dengan US$3.000, ternyata menimbulkan pertanyaan yang cukup menggelitik, apakah membaiknya pendapatan per kapita itu sudah diikuti dengan pemerataan yang membaik, karena masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya saat ini?

Pasalnya, pemerataan pendapatan suatu negara umumnya dihitung dengan Gini Ratio (GR). Jika angkanya mendekati nol berarti pemerataan membaik, tetapi jika mendekati 1 pemerataan memburuk. Dalam 9 tahun terakhir ini, pemerataan pendapatan Indonesia tidak mengalami perbaikan. Berdasarkan data Bappenas, GR Indonesia pada 2002 sebesar 0,33, kemudian pada 2010 masih tetap 0,33.

Meski dalam periode tersebut angkanya sempat naik turun,yaitu pada 2003 dan 2004 turun menjadi 0,32 dan pada 2009 sempat tinggi hingga mencapai angka 0,37. Secara umum pemerataan Indonesia dalam hampir satu dekade ini tidak membaik. Dibandingkan dengan negara lain potret kesejahteraan Indonesia ternyata juga belum membaik.

Begitu juga data IMF mengungkapkan, Indonesia masih berada pada kelompok menengah bawah dari 182 negara pada 2010, yaitu pada peringkat ke-109 dengan pendapatan per kapita US$2.963. Posisi Indonesia masih di atas Filipina (US$2.011) maupun Vietnam (US$1.155). Namun masih kalah jauh dari Malaysia yang berada pada posisi ke-65 dengan PDB per kapita lebih dari dua kali lipat kita,apalagi dengan Singapura. Bahkan posisi Thailand masih jauh lebih baik dengan pendapatan per kapita lebih dari 150% kita.

Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa kita mungkin bisa juga “senang”karena PDB per kapita kita naik, tetapi jika dibandingkan dengan bangsa lain di dunia kita masih berada pada posisi menengah bawah, masih ketinggalan, bahkan di bawah Malaysia dan Thailand.

Kita melihat kondisi sejumlah negara Eropa Timur yang eks negara sosialis pada umumnya memiliki pemerataan yang baik, berada pada kisaran di bawah 0,30, meski masih kategori negara sedang berkembang. Beberapa negara maju juga relatif tinggi GR-nya seperti Amerika Serikat (0,40), Singapura (0,42), dan Hong Kong (0,43). Mereka contoh negara kaya yang pemerataannya kurang baik.

Selain pendapatan per kapita ataupun GR merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan kesejahteraan masyarakat, human development index atau lazim dikenal indeks pembangunan manusia (IPM) biasanya juga digunakan untuk melihat tingkat kualitas hidup masyarakat, bahkan dapat dikatakan sebagai ukuran kesejahteraan lebih komprehensif.

Indikator IPM menggambarkan lebih komprehensif kesejahteraan masyarakat. Namun posisi Indonesia masih memprihatinkan,berada pada posisi ke-108 (dari 169 negara) pada 2010, cukup rendah. Lain halnya dengan Filipina, Suriname, Sri Lanka, dan Guyana yang terlihat lebih baik dari Indonesia.

Jelas angka tersebut tidak menggembirakan.Apalagi kondisi kualitas manusia Indonesia pada 1999 di saat krisis ekonomi menghantam kita paling dalam, IPM Indonesia berada pada posisi ke-105. Itu berarti belum ada kemajuan yang signifikan, bahkan terjadi kemunduran.

Karena itu, masih banyak yang perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia agar masyarakatnya menikmati kehidupan adil dan sejahtera, tidak terlalu kalah dari bangsa tetangga kita.Sepanjang masyarakat itu sejahtera, meski ada ketimpangan, sebenarnya bukan masalah besar asalkan masyarakat yang termiskin pun dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak. Semoga!

Related posts