Mengejar Ketertinggalan, BEI Percepat Target 1000 Emiten

Selasa, 17/07/2012

NERACA

Jakarta – Masih tertinggal jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dalam jumlah emiten dan investornya, membuat PT Bursa Efek Indonesia (BEI) gelisah. Maka untuk menyaingi negara tetangga, BEI terus mempercepat target 1000 emiten sebelum tahun 2025.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan, target menggaet 1000 emiten akan terus digenjot, “Kami menargetkan jumlah emiten menembus 500 pada 2015. Setelah itu, kami ada wacana untuk mencapai 1.000 emiten,” katanya di Jakarta, kemarin.

Selama ini jumlah emiten di bursa domestik baru 446 perusahaan, tertinggal dibanding Singapura dan Malaysia. Maka mengejar ketertinggalan, BEI menargetkan lebih tinggi 1000 emiten dengan asumsi setiap tahun ada penambahan 25 emiten pertahunnya.

Kata Hoesn, hingga 2015, BEI menargetkan penambahan 25 emiten per tahun. Dengan asumsi setiap tahun hanya 25 emiten baru yang listing di BEI, target untuk menggaet 1.000 emiten baru tercapai pada 2035. “Namun, BEI akan mengupayakan percepatan waktu pencapaian 1.000 emiten pada 2025,”ujarnya

Dia menjelaskan, dari awal tahun ini hingga 12 Juli lalu, jumlah emiten baru yang tercatat di BEI mencapai 13 perusahaan. Dengan target 25 emiten baru pada 2012, pada akhir tahun diperkirakan terdapat 458 emiten yang tercatat di BEI.

Saat ini BEI tengah gencar meningkatkan edukasi dan sosialisasi kepada calon emiten, untuk memanfaatkan potensi pasar modal dalam menggalang dana guna ekspansi per usahaan. Bursa juga berupaya meningkatkan jumlah investor, dari saat ini sekitar 400 ribu menjadi 2,3 juta pada 2015.

Namun demikian, fokus utama BEI tidak hanya meningkatkan kuantitas emiten yang tercatat di bursa, namun juga meningkatkan kualitasnya. Ini bertujuan agar emiten dan investor memperoleh nilai tambah, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi investasi.

Menurut Hoesen, menjadi perusahaan publik akan lebih dikenal masyarakat, sehingga lebih mudah meningkatkan citra perusahaan. Selain itu, jika saham publik di perusahaan mencapai 40 persen atau sedikitnya terdiri atas 300 pihak pemegang saham (dalam tempo enam bulan), perseroan berhak mendapat insentif potongan pajak lima persen. “Menjadi perusahaan terbuka itu tidak hanya meningkatkan transparansi. Lebih mudah bagi perusahaan terbuka untuk fund raising (penggalangan dana), dibanding perusahaan tertutup, sebab publik mendapat akses lebih luas dan bisa melihat kinerja perusahaan secara langsung,” ungkapnya

Rendahnya jumlah emiten di Indonesia juga menjadi keprihatinan pengusaha nasional Peter Gontha. Dia heran mengapa jumlah emiten baru 446, padahal jumlah perusahaan besar di Tanah Air mencapai 5 ribu unit. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 951 emiten, kondisi ini kata Peter sangat memprihatinkan, jika melihat Indonesia masuk dalam 20 besar ekonomi dunia. (bani)