Memancing Keuntungan dari Potensi Ikan Nila

Sabtu, 14/07/2012

Tubuh memanjang pipih dan rasa daging nan gurih, menarik banyak peminat untuk membudidayakan Ikan Nila. Terlebih kemudahannya untuk tumbuh berkembang, bukan mustahil jika karena Nila setitik, keuntungan pun bakal sebelanga.

NERACA

Ikan Nila memang mudah dipelihara dan dapat dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Selain rasa daging yang enak dan tebal, tekstur daging Ikan Nila memiliki ciri tidak memiliki duri kecil dalam dagingnya. Daya pikat Nila, nyatanya bukan sekadar kelezatan daging dan protein yang tinggi, namun cukup menggiurkan sebagai ladang bisnis yang potensial.

Ikan Nila dengan nama latin, Oreochromis niloticus, merupakan spesies yang berasal dari kawasan Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya di Afrika adalah komoditas potensial yang patut dilirik oleh siapa saja yang ingin menggelutinya.

Ikan air tawar ini telah dibudidayakan dilebih dari 85 negara, untuk digunakan sebagai bahan baku dalam industry fillet dan bentuk-bentuk olahan lain. Ekspor Nila dari Indonesia umumnya dalam bentuk frozen fille berukuran berat 600 g dan surimi.

Bibit Nila yang didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Peneliti perikanan Air Tawar (Balitkanwar) dari Taiwan, telah dirintis sejak tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, ikan ini kemudian disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nama Nila pun adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan.

Pada tahun 1980-1990, Nila Merah diintrodusir masuk dari Taiwan dan Philipina oleh Perusahaan Aquafarm. Dan pada tahun 1994, Balitkanwar kembali mengintroduksi Nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) strai G3 dari Philipina dan Nila Citralada dari Thailand.

Secara genetic, Nila GIFT telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lebih tinggi dibandinggkan dengan jenis ikan Nila lain.

Nila umumnya matang kelamin mulai umur 5-6 bulan. Ukuran matang kelamin berkisar 30-350g. Rasio betina : jantan berkisat antara (2-5):1, keberhasilan pemijahan berkisar 20-30% per minggu dengan jumlah telur antara 1-4 butir per gram induk.

Nila mempunyai sifat omnivora (pemakan nabati maupun hewani), sehingga usaha budidayanya sangat efisien dengan biaya pakan yang rendah. Nilai Food Convertion Ratio (FCR) cukup baik, berkisar 0,8-1,6. Artinya, setiap 1 Kg Nila konsumsi maka dihasilkan dari 0,8-1,6 Kg pakan.

Ikan Nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jarring apung adalah 0,5-1,0. Dan bila dipelihara di area tambak, daging lebih kenyal, rasa lebih gurih, dan tidak berbau lumpur.

Pertumbuhan Ikan Nila jantan dan betina dalam satu populasi kan selalu jauh berbeda, karena Nila jantan 40% lebih cepat dari pada Nila betina. Nila betina, jika sudah mencapai ukuran 200g pertumbuhannya semakin lambat, sedangkan yang jantan tetap tumbuh dengan pesat. Hal ini akan menjadi kendala dalam memproyeksikan produksi.

Beberapa waktu lalu, telah ditemukan teknologi proses jantanisasi; yaitu membuat populasi ikan jantan dan betina maskulin melalui sexreversal; dengan cara pemberian hormone 17 Alpa methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.

Saat ini teknologi sex reversal telah berkembang melalui hibridisasi antarjenis tertentu untuk dapat menghasilkan induk jantan super dengan kromosom YY; sehingga jika dikawinkan dengan betina kromosom XX akan menghasilkan anakan jantan XY.

Pembenihan ikan Nila dapat dilakukan secara massal di perkolaman secara terkontrol dalam bak beton. Pemijahan secara missal ternyata lebih efisien, karena biaya yang dibutuhkan relatif lebih kecil dalam memproduksi larva untuk jumlah yang hamper sama. Pembesaran ikan Nila dapat dilakukan di Keramba Jaring Apung (KJA), kolam, kolam air deras, perairan umun baik sungai, danau maupun waduk dan tambak.

Budidaya Nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 Kg/Ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 Kg per unit dalam setiap panen (200.000 Kg/Ha/panen), dan ditambak sebanyak 15.000 Kg per Ha per panen. Budidaya Ikan Nila di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau jaring apung.

Nila ukuran 5-8 cm yang dibudidayakan di tambak selama 2,5 bulan dapat mencapai 200g. Sedangkan dikolam untuk mencapai ukuran yang sama diperlukan waktu empat bulan.

Peluang pasar Ikan Nila cukup besar baik di pasar lokal maupun ekspor. Kebutuhan pasar dalam negeri untuk ikan Nila umumnya berukuran dibawah 500gram per ekor, dengan harga berkisar antara Rp 11.000-15.000 per Kg untuk wilayah Jawa dan Sumatera, sedangkan untuk wilayah timur Indonesia mencapai Rp 20.000-30.000 per Kg.

kebutuhan pasar ekspor umumnya dalam bentuk fillet dengan harga berkisar Rp 30.000-40.000 per Kg dengan negara tujuan ekspor yaitu Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, dan Hongkong. Untuk mendapatkan 1 Kg fillet Nila, dibutuhkan tiga ekor ikan Nila segar. Oleh karena itu upaya pengembangan usaha budidaya Nila masih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai skala usaha.

Terlebih setiap tahun permintaan terhadap Nila terus naik, baik dari pembeli luar negeri maupun lokal. Nila tidak hanya diminati penikmat kuliner lokal, tapi juga dari luar negeri, terutama Amerika Serikat (AS). Tak heran, peluang pasar ikan ini masih terbuka lebar.

Apalagi sejauh ini pasokan ikan Nila masih belum mampu melayani tingginya permintaan pasar. Satu contoh, untuk pangsa pasar Amerika Serikat, membutuhkan fillet atau potongan daging tanpa tulang Nila sebanyak 90 juta ton per tahun. Belum lagi permintaan dari sejumlah negara lainnya yang jumlahnya juga terbilang besar.