Kinerja Industri Baja Dan Tekstil Melambat

Semester I-2012

Rabu, 11/07/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian memastikan kinerja industri baja dan tekstil melambat pada semester I/2012 akibat tertahannya bahan baku yang dinilai mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun. Sementara untuk untuk tekstil, menurut dia, dikarenakan adanya pengaruh krisis ekonomi di Eropa.

“Proses produksi industri baja terganggu saat ini. Para produsen sekarang pakai billet, tapi itu juga rebutan,” ungkap Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kemenperin Panggah Susanto di Jakarta, Selasa (10/7).

Lebih jauh lagi Panggah mengungkapkan, masalah tersebut harus segera diselesaikan supaya keadaan yang terjadi saat ini tidak semakin parah. Kementerian Perindustrian telah mengimbau kepada sejumlah pihak terkait, seperti Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Perdagangan, dan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Menurut dia, kesalahan tidak sepenuhnya terjadi pada industri, tapi juga karena adanya kelemahan dalam aturan mekanisme verifikasi dan importasi. “Dengan demikian, pengusaha berada di posisi dilematis. Situasi ini menyusahkan semuanya. Tiga pihak pemerintah yakni Kemenperin, Kemendag, dan KLH sebaiknya ambil posisi paling optimal dari semua sisi. Artinya, lingkungan boleh kita perhatikan tapi jangan korbankan industri,” kata Panggah.

Untuk industri tekstil dan produk tekstil, Panggah memaparkan nilai ekspor hanya mencapai US$11,92 miliar pada tahun ini atau turun 11% dibandingkan dengan nilai ekspor pada tahun lalu sebesar US$13,4 miliar. Pihaknya telah memprediksi pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akan menurun pada tahun ini karena faktor krisis ekonomi yang terjadi di Eropa.

Dia mejelaskan, Benua Biru tersebut merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama produsen TPT dalam negeri. “Sejak tahun lalu, kami telah mewaspadai penurunan nilai ekspor ini. Neraca perdagangan Indonesia sangat sensitif terhadap krisis di Eropa dan penurunan indeks di Amerika,” tuturnya.

Pertumbuhan nilai ekspor TPT tercatat turun sebesar 7% pada kuartal I 2011dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan nilai ekspor tersebut dirasakan subsektor kain tenun dan rajutan.

Berdasarkan data Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan (LP3E) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Badan Pusat Statistik (BPS), industri TPT menjadi sektor yang mengalami penurunan nilai ekspor pada kuartal I tahun ini.

Pasokan Lokal

Di tempat berbeda, Wakil Ketua Asosiasi Industri Baja dan Besi Indonesia Ismail Mandry mengatakan sejumlah produsen baja harus berlomba untuk mendapatkan pasokan scrap buatan lokal yang harganya semakin tinggi sejak adanya penahanan kontainer tersebut.

Sebelum ada peristiwa penahanan kontainer, harga scrap lokal masih Rp4.800-Rp5.000 per kilogram. Dalam dua bulan, harganya terus bergerak sampai ke Rp5.600-6.000 per kg. Dia menambahkan porsi scrap lokal dari komposisi impor adalah 30% berbanding 60%-70%.

“Terjadi disefisiensi luar biasa. Kalau impor naik, finish product naik 15%-20%. Namun, sampai kapan itu akan bertahan? Sebab, jumlah pasokan sedikit lalu produsen saling rebutan. Saya akan bayar mahal, daripada kena penalti supaya bisa memenuhi produksi. Terjadi persaingan tidak sehat di antara kami,” katanya.

Selain industri TPT, industri besi dan baja mengalami hal yang sama. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri logam dasar besi dan baja tumbuh melemah menjadi 5,57% pada kuartal I tahun ini dibandingkan dengan 2011 sebesar 13,06%.