Pasokan Gas Ganjal Kinerja Industri Manufaktur - Diproyeksikan Tumbuh 7% di 2012

NERACA

Jakarta – Pemerintah mengaku optimis pertumbuhan sektor industri manufaktur 2012 masih bisa tembus di atas 7%. Meskipun, kendala pasokan gas dan infrastruktur masih terus mengancam. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Basis Industri Manufaktur (BIM) Panggah Susanto saat membuka Indonesia Building Material dan Technology (Indobuildtech) Expo 2012, di Jakarta, kemarin.

Panggah mengatakan, pihaknya tetap menargetkan pertumbuhan industri bisa melampaui target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5%. Menurut dia, industri manufaktor selama ini menyumbang pendapatan domestik bruto (PDB) di atas 20% dan angka itu merupakan terbesar di atas semua sektor Industri.

Apalagi, kata dia, industri manufaktur masih menjadi penopang utama terhadap kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja terbanyak Indonesia. Namun, kata Panggah, untuk mencapai semua itu harus melalui beberapa pembenahan. “Tidak hanya di dalam sektornya saja, tapi juga sektor pendukungnya,” kata Panggah.

Dia mencontohkan, saat ini yang menjadi kendala industri adalah masalah pasokan energi dan infrastruktur yang belum memadai. Menurutnya, saat ini ada 400 perusahaan yang menggantungkan pada ketersedian pasokan gas, baik sebagai bahan baku maupun energinya. “Kita, perindustrian mendorong agar masalah penyedian pasokan gas bisa selesai,” katanya.

Hulu dan Hilir

Dikatakan dia, pihaknya ingin ada keselarasan antara sektor hulu dan hilir gas, mulai daripenyedian dan penyaluran hingga jaringan pipanya. Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar target pertumbuhan industri bisa tercapai. Panggah mengatakan, jika semua permasalahan tersebut bisa diselesaikan maka pertumbuhan industri pada 2013 bisa mencapai angka 8%. Dia juga mengatakan, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini harus dimanfaatkan sektor industri karena akan berdampak pada ekspor.

Sementara itu,Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkapkan biaya logistik yang tinggi dan buruknya infrastruktur merupakan kendala yang menghambat pertumbuhan industri dalam negeri. Hingga saat ini, infrastruktur serta sarana prasarana transportasi yang ada masih sangat minim. Pelaku usaha harus mengeluarkan biaya tiga kali lipat dalam memasarkan produknya. ”Besarnya biaya logistik membuat produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk impor, terutama asal China,” kata dia.

Dia mengatakan mahalnya proses distribusi membuat harga produk Indonesia jauh lebih mahal daripada produk China. Pasalnya, teknologi China sendiri jauh lebih maju, dan ekspansi pasar produknya juga cukup besar.

Lebih lanjut dia berpendapat selain biaya distribusi yang tinggi, pungutan liar (pungli) di setiap daerah membuat pelaku usaha harus mengeluarkan biaya ekstra. "Pungutan liar (pungli) pada setiap daerah merupakan daftar biaya yang perlu dikeluarkan di samping biaya logistik. Hal tersebut membuat harga produk di setiap kota berbeda," paparnya.

Dicontohkan Ade, beberapa produk seperti tekstil yang dipasarkan untuk Pulau Jawa dan Sulawesi dengan selisih harga sangat jauh. "Untuk produk tekstil terjadi disparitas harga pada beberapa kawasan. Untuk harga produk tekstil di Jawa yang dijual Rp100 ribu, di Sulawesi harganya bisa Rp250 ribu," katanya menandaskan.

BERITA TERKAIT

Pendapatan Pelita Samudera Terkerek Naik 34% - Berkah Volume Angkutan Tumbuh 31%

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemarin, PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PSSI) mengumumkan pencapaian volume yang signifikan untuk pengangkutan…

Investor di Jambi Tumbuh 30% di 2017

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Jambi menyebutkan jumlah investor saham di provinsi ini tumbuh mencapai 30% selama tahun…

Investor AS Berniat Danai IDX Incubator - Genjot Industri Starup Lokal

NERACA Jakarta – Besarnya populasi penduduk Indonesia ditambah dengan bonus demografi dan didukung pertumbuhan ekonomi yang positif, membuat kebanyakan investor…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin-UNDP Susun Kebijakan Kelola Limbah Industri

NERACA Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa atau United Nations Development…

Eks Penangkap Benih Lobster di Lombok Panen Rumput Laut

NERACA Lombok- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diwakili Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, bersama-sama dengan pembudidaya rumput laut penerima…

Tahun 2018 - KKP Tetap Fokus Dukungan Pada Pembudidaya Ikan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan tetap akan prioritaskan program dukungan langsung bagi pembudidaya ikan dalam pagu indikatif APBN…