Analis : Indeks Menengah Lebih Bermanfaat - Pro dan Kontra IDX30

NERACA

Jakarta - Kehadiran Indeks-30 (IDX30) dinilai tidak memberikan manfaat bagi investor dan pertumbuhan pasar modal Indonesia. Oleh karena itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku pelaksana perdagangan saham seharusnya membentuk indeks berkapitalisasi menengah dan kecil (mid-cap index dan small cap index) sebagai benchmark atau panduan investasi.

Menurut Kepala Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, saat ini panduan saham berkapitalisasi besar (big-cap) sudah banyak, diantaranya Indeks LQ-45. Akan tetapi, panduan investasi untuk saham kapitalisasi menengah dan bawah, justru belum sebanyak big-cap.

“Contohnya MSCI milik Morgan Stanley. Kenapa BEI tak buat seperti itu. Jadi, investor bisa melihat dan memahami saham dengan spesifik. Dan juga performance index dari emiten serta fund manager-nya,” ujar Satrio kepada Neraca di Jakarta, Jumat (22/6), akhir pekan lalu.

Tak hanya itu saja. Dia juga menyoroti beberapa saham yang sejatinya tidak layak masuk IDX30, seperti saham PT Bank Jabar Banten Tbk (BJBR), PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), lantaran nilai kapitalisasinya dibawah patokan.

Sependapat dengan Satrio. Direktur Utama HD Capital, Anthony Kristanto menilai seharusnya konsep IDX30 bisa lebih merepresentasikan seluruh sektor industri yang tercatat di BEI. Dan bukan dianggap sebagai ‘ekor’ LQ45 yang acuannya adalah saham-saham paling memiliki likuiditas tertinggi.

“Saham-saham IDX30 seharusnya lebih dimodifikasi dari setiap industri. Misalnya, bisa diambil perusahaan-perusahaan yang paling unggul di sektornya,” tambah Anthony. Selain itu, lanjut dia, IDX30 dinilai masih perlu tambahan parameter, sehingga emiten-emiten yang terpilih dalam saham unggulan 30 tersebut, bisa mewakili kebutuhan para pelaku pasar.

Dengan demikian, dirinya mengusulkan agar parameter untuk menyusun IDX30 bisa ditambah. Anthony lalu memberi contoh, hanya dengan memasukan dua emiten teratas dari setiap sektor digabungkan menjadi satu dalam IDX 30.

“Mungkin kedepan parameternya yang diubah. Seperti industri perbankan dua emiten, sektor riil kaya konstruksi juga diambil dua emiten,” ulasnya kepada Neraca, kemarin. Dengan begitu, Anthony berharap ke depan para pelaku pasar akan menentukan IDX30 ini apa sudah sesuai dengan kebutuhan atau belum. Akan tetapi, saat ini dia belum melihat jika IDX30 sudah memenuhi keinginan pasar.

Enam bulan

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito pernah bilang, pihaknya akan melakukan peninjauan secara berkala atas komponen pembentuk IDX30 setiap enam bulan. Menurut rencana, peninjauan berkala akan dilakukan pada awal Februari dan Agustus setiap tahunnya.

Dia juga menjelaskan, hari dasar penghitungan yang dipilih adalah 30 Desember 2004 dengan nilai awal indeks 100. Metode penghitungan IDX30 adalah sama dengan metode penghitungan indeks-indeks lain yang ada di BEI sekarang yaitu pembobotan berdasarkan market capitalization weight average.

“Metode perhitungan IDX30 ini adalah sama dengan metode perhitungan indeks-indeks lainnya yang ada di BEI saat ini, yaitu pembobotan berdasarkan pertimbangan kapitalisasi pasar rata-rata,” ungkap Ito.

Dengan demikian, pada masa mendatang, IDX30 diproyeksikan akan menjadi landasan dan acuan bagi produk-produk pasar modal seperti reksa dana, exchange trade fund (ETF) serta produk derivatif lainnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Aspek Fundamental dan Perilaku Jadi Penting - BERPENGARUH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI

Jakarta-Reposisi sektor jasa keuangan dalam mendukung perekonomian suatu negara, sudah seharusnya memperhatikan aspek fundamental maupun perilaku. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi memiliki…

Telkomsel Bantu 300 Paket dan Gratis Nelpon - Ringkan Beban Korban Kebarakan

Amukan si jago merah yang melumat pemukiman warga yang padat penduduk di 5 Rukun Tetangga (RT) Balikpapan kemarin, menjadi derita…

Intip Usaha Baslok, Bakso dan Cilok Diracik di Satu Mangkuk

Bakso kudapan yang sangat populer di lidah masyarakat Indonesia. Tidak mengherankan, meski gerai lama masih kokoh berdiri, banyak juga pemain…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Pasar Ekspor Ke Afrika - Sido Muncul Bikin Anak Usaha di Negeria

NERACA Jakarta - Setelah sukses membuka pasar ekspor ke Filipina dengan berlanjutnya rencana pembukaan kantor pemasaran disana, kini PT Industri…

Gelar Rights Issue, SCMA Bidik Rp 3,58 Triliun

Cari pendanaan di pasar modal lewat penerbitan saham baru atau rights issue, kini tengah marah dilakukan emiten. Begitu juga halnya…

Bahana Sekuritas Taksir IHSG Capai 7.000

NERACA Jakarta – Pencapaian rekor baru indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2017…