Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Targetkan Penjualan Tumbuh 10% - Operasikan Mesin Baru Kapasitas 108 Ribu Ton

Neraca

Jakarta – Perusahaan kertas PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk menargetkan penjualan paper tumbuh 10% dari penjualan paper tahun lalu sebesar 933 ribu ton. Peningkatan penjualan ini sejalan dengan mulai beroperasinya mesin paper mesin 13 pada akhir Juni nanti.

Direktur Tjiwikimia Suhendra Wiriadinata mengatakan, penjualan tahun ini diharapkan bisa lebih baik dan tumbuh 10% karena sudah beroperasinya mesin baru, “Paper mesin 13 yang akan dioperasikan Juni nanti memiliki kapasitas produski 108 ribu ton pertahun,”katanya di Jakarta, Selasa (12/6).

Nilai investasi untuk pembelian mesin baru tersebut dianggarkan sebesar US$ 100 juta. Capex tersebut termasuk untuk perawatannya. Asal tahu saja, pada kuartal pertama 2012 penjualan paper perseroan naik menjadi 236 ribu ton dibandingkan priode yang sama tahun lalu 234 ribu ton, stationery naik dari 47 ribu ton menjadi 51 ribu ton dan packaging turun menjadi 16 ribu ton dari priode yang sama tahun lalu 18 ribu ton.

Sementara untuk produksi paper juga turun 243 ribu ton dari priode yang sama tahun lalu 259 ribu ton. Tetapi untuk produk stationery naik menjadi 60 ribu ton dari tahun lalu 56 ribu ton dan packaging juga mengalami kenaikan menjadi 18 ribu ton dari priode yang sama tahun lalu 15 ribu ton.

Kendatipun kinerja perseroan mengalami penurunan, tidak membuat perseroan pelit dalam membagikan dividen. Pasalnya, perseroan akan membagikan dividen sebesar Rp 25 per saham dari perolehan laba bersih tahun 2011 sebesar US$ 70 juta.

Kata Suhendra, total dividen yang akan dibayarkan perusahaan pada dua bulan mendatang sebesar US$ 3 juta atau sekitar Rp 33 miliar. Disebutkan pula, hasil keputusan rapat umum pemegang saham juga menyetujui laba ditahan sebagai cadangan sebesar US$ 1 juta atau setara dengan Rp 9,5 miliar.

Dalam laporan keuangannya, perseroan mencatatkan penurunan laba bersih turun 16% dari US$ 16,3 juta menjadi US$ 16,1 juta. Kondisi yang sama juga pada penjualan turun 18% dari 343 ribu ton menjadi 336, 4 ribu ton.

Dia juga menambahkan, perseroan tidak akan menaikkan harga jual terkait kenaikan harga gas sebagai komposisi produksi bahan baku, “Soal energi tidak serta merta menjadi alasan naikan harga, tetapi bisa dilakukan dengan efisiensi,”tandansya.

Menurutnya, energi memiliki komposisi 5% dari harga jual. Terlebih saat ini perseroan akan mengembangkan energi power plant.

Proyek Power Plant

Disampaikan Direktur PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), Arman Sutedja mengatakan, pihaknya tengah menggarap proyek power plant dengan bahan bakar batu bara non kalori atau kalori rendah, “Tahun depan kita baru akan garap proyek power plant di Mojokerto dengan kapasitas 70 mega watt,”ungkapnya.

Namun sayangnya, Arman belum mau menyebutkan nilai investasi pembagunnan power plant tersebut. Alasannya masih dikaji. Selama ini, perseroan sudah menggunakan energi power plant untuk produksi kertas. Diantaranya power plant 140 mega watt, 2x30 mega watt dengan pasokan batu bara berasal dari Kalimantan.

Sementara PT Indah Kiat Pulp dan Paper Tbk (INKP) menganggarkan belanja modal (capex) tahun ini sebesar US$ 250 juta untuk pembelian mesin baru paper 6 dengan kapasitas produksi 530 ribu ton pertahun, “Investasi tersebut sudah termasuk perawatan yang dialokasikan sebesar US$ 50 juta,”paparnya.

Kemudian soal fluktuasi nilai tukar rupiah, baik PT Indah Kiat dan Tjiwi Kimia keduanya mengakui tidak mengalami dampak rugi yang berarti dari selisi kurs rupiah terhadap dolar yang jatuh. Karena selama ini ekspor perseroan menggunakan mata uang dolar.

Tidak Bagikan Dividen

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) memutuskan belum membagi dividen, meski telah mampu menghasilkan laba US$16,046 juta di sepanjang tahun 2011 lalu."Kondisi perusahaan yang masih merugi pada tahun-tahun sebelumnya, RUPST menyetujui untuk tidak melakukan pembagian dividen final untuk tahun buku yang berakhir tahun 31 Desember 2011 lalu,” kata Suhendra Wiriadinata.

Hingga Maret 2012 lalu, perusahaan rugi bersih US$166 juta yang didapat tren negatif perusahaan pada kinerja tahun-tahun sebelumnya. Padahal tahun 2011, anak perusahaan Sinar Mas Group itu meraih nilai penjualan bersih US$2,559 miliar dengan nilai laba bersih US$16,046 juta.

Realisasi tersebut sedikit meningkat dibanding penjualan pada tahun sebelumnya yang tercatat mencapai US$2,509 miliar dengan nilai laba US$13 juta. Terkait nilai minus, perusahaan belum akan melakukan kuasi reorganisasi (penghapusan neraca utang perusahaan) seperti yang banyak dilakukan beberapa perusahaan lain. Namun, wacana kuasi diakui Suhendra masih terus dalam pertimbangan perusahaan. (bani)

BERITA TERKAIT

Memanaskan Mesin Politik

Oleh: Panca Hari Prabowo Pekan kedua tahun 2018 suhu politik mulai meningkat seiring semakin dekatnya pelaksanaan pilkada serentak di sejumlah…

PT Pos Anggarkan Capex Rp 880 Miliar - Beli Delapan Mesin Sortir

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018, PT Pos Indonesia (Persero) mengalokasikan belanja modal sebesar Rp880 miliar atau melonjak 340% dari…

Bekasi Cadangkan 11,5 Ton Beras Untuk Stabilkan Harga

Bekasi Cadangkan 11,5 Ton Beras Untuk Stabilkan Harga NERACA Bekasi - Dinas Ketahanan Pangan Kota Bekasi, Jawa Barat, menyiapkan cadangan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perkuat Pasar Ekspor Ke Afrika - Sido Muncul Bikin Anak Usaha di Negeria

NERACA Jakarta - Setelah sukses membuka pasar ekspor ke Filipina dengan berlanjutnya rencana pembukaan kantor pemasaran disana, kini PT Industri…

Gelar Rights Issue, SCMA Bidik Rp 3,58 Triliun

Cari pendanaan di pasar modal lewat penerbitan saham baru atau rights issue, kini tengah marah dilakukan emiten. Begitu juga halnya…

Bahana Sekuritas Taksir IHSG Capai 7.000

NERACA Jakarta – Pencapaian rekor baru indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2017…