Pengusaha Besar Berbondong Masuk ke Bisnis Rumah Sakit - Dinilai Bidang Usaha Yang Sehat

Banyaknya warga Indonesia yang berobat ke luar negeri, membuat pengusaha Indonesia—terutama yang bergerak di bidang properti—mencium peluang untuk masuk ke bisnis rumah sakit. Mereka menggelontorkan dana yang cukup besar untuk membangun bisnis rumah sakit ini. Bisnis rumah sakit ini, ternyatakan merupakan bisnis yang sehat. Setiap tahun bidang ini mampu memberikan keuntungan yang lumayan.

NERACA

Lippo, misalnya, sudah masuk ke bisnis ini sejak 1996. Langkah Lippo ini diikuti oleh pengusaha besar lainnya seperti Kalbe, Sinar Mas, Ciputra, Mayapada dan Sahid Sahirman. Sedangkan di luar grup properti yang bergerak di bidang rumah sakit dan menjadi besar di core business-nya itu antara lain Mitra Keluarga, Premier, Bunda dan lainnya.

Bisnis Sehat

Menurut Corporate Secretary Lippo Group Danang Kemayan Djati, grup perusahaan itu telah melihat bahwa bisnis rumah sakit adalah bisnis yang cukup sehat. Namun dari bisnis ini perusahaan tidak semata-mata mengejar keuntungan semata. ”Dalam kegiatan bisnis rumah sakit, juga terdapat unsur pengabdian, pengabdian masyarakat dan tentu saja faktor menguntungkan.

Dia mengatakan bahwa kini grup perusahaan itu sudah memiliki rumah sakit di Jakarta, Jawa Timur, Manado, Makasar, Bali dan Palembang.

”Kami harapkan pada 2012 akan bertambah lagi dengan delapan rumah sakit lagi menjadi 15 rumah sakit. Kami anggarkan sedikitnya US$150 juta untuk ekspansi di bisnis rumah sakit ini,” katanya.

Menurut Danang, dalam waktu tiga sampai empat tahun ke depan diharapkan jumlahnya lebih banyak lagi menjadi 20-25 rumah sakit.

”Masing-masing rumah sakit memerlukan investasi sedikitnya US$40 juta,” katanya.

Dia mengatakan rumah sakit yang dibangun kelompok usahanya mempunyai spesialisasi unggulan, sehingga bisa mengurangi jumlah orang yang hendak berobat ke luar negeri.

”Sebagai contoh, RS Siloam Surabaya mempunyai keunggulan spesialisasi di bidang bayi tabung,” katanya.

Dia mengatakan bahwa seorang wartawan dari Palembang yang telah lama menikah dan belum memperoleh putra, berhasil mendapat keturunan setelah menjalani perawatan di RS Siloam Surabaya.

Sedangkan pengalaman lain, katanya, RS Siloam Manado berhasil mengoperasi dan menyambung kembali tangan pasiennya yang putus, karena kena tebas senjata tajam.

Menurut dia, setiap rumah sakit yang dibangun oleh grup Lippo rata-rata mempunyai 200 tempat tidur dan luas arealnya berkisar 1 ha, tergantung lokasinya.

RS Siloam Hospital Lippo Village (SHLV) adalah rumah sakit pertama dan menjadi bendera Lippo di bidang pelayanan kesehatan

SHLV, rumah sakit pertama dan menjadi unggulan Lippo, berlokasi di kota eksklusif Lippo Village, di Tangerang, Provinsi Banten. Saat ini, rumah rumah ini mempunyai 225 tempat tidur dan mempekerjakan 202 dokter dan 370 perawat yang berkualitas.

SHLV berkomitmen untuk menyediakan layanan berkualitas tinggi dan perawatan yang tulus untuk penyembuhan fisik pasien, emosional dan spiritual. Sejak didirikan pada tahun 1996, adalah salah satu rumah sakit swasta terbesar di wilayah ini dengan brandname yang kuat untuk perawatan pasien yang sangat baik, kelas dunia Neuroscience dan Heart Centre dan Pusat Trauma (UGD).

SHLV adalah yang pertama di Indonesia yang diakreditasi pada tahun 2007 dan kembali diakreditasi pada tahun 2010 oleh Joint Commission International (JCI), standar emas internasional dengan fokus utama pada keselamatan pasien dalam semua prosesnya. Inisiatif perintis kami telah berperan dalam Departemen Kesehatan direktif untuk memungkinkan rumah sakit hanya dengan akreditasi internasional yang akan disebut "Rumah Sakit Internasional" serta mengarahkan rumah sakit pemerintah yang besar untuk pergi untuk mendapat akreditasi.

Ciputra Hospital

Ciputra grup juga mulai melirik bisnis rumah sakit ini.

”Kami akan masuk ke bisnis ini dengan investasi sedikitnya Rp 500 miliar,” kata Candra Ciputra, CEO Ciputra Group belum lama ini.

Corporate Secretary PT Ciputra Development Tbk (CTRA), Tulus Santoso mengatakan, pihaknya akan membangun 10 rumah sakit dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Untuk proyek pembangunan rumah sakit, perseroan telah menganggarkan dana investasi sekitar Rp 500 miliar. "Paling kita akan pilih dua dan tiga kota untuk tahun depan. Nanti akan ada kota-kota lain, karena pembangunan dilakukan secara bertahap,”katanya.

Namun yang pasti, saat ini perseroan tengah melakukan feasebility studies ke lima kota, Jakarta, Makassar, Palembang, Manado dan Surabaya. Nantinya, tiga kota akan dipilih sebagai lokasi awal pembangunan rumah sakit di 2012.

Lippo Tidak Mau Kalah

Apa yang telah direncanakan Ciputra Development dengan membangun rumah sakit menjadi pesaing baru bagi Grup Lippo, PT Lippo Karawaci Tbk yang menyampaikan niatnya membangun 20 rumah sakit baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari bisnis ini, perseroan membidik pendapatan sebesar US$ 500 juta per tahun.

Pendiri Grup Lippo Mochtar Riady pernah mengatakan pengembangan rumah sakit di Indonesia penting untuk menarik kembali tren pasien yang berobat ke rumah sakit di luar negeri dengan cara membangun rumah sakit yang berkualitas dan memenuhi harapan terhadap layanan kesehatan. “Kalaupun biaya berobat di LN lebih murah dibandingkan dengan di Tanah Air, nyatanya biayanya menjadi lebih mahal karena dibebani biaya keluarga yang mendampingi ke sana,”tandasnya.

Bahkan rumah sakit yang dibangun di Jambi dengan bendera Siloam Hospital. Nilai investasi senilai US$ 18 juta, maka melalui pengembangan bisnis rumah sakit diperkirakan pendapatan tahunan LPKR pun akan naik 5%.

Sebelumnya, perseroan telah mengakuisisi rumah sakit Jambi yang merupakan rumah sakit kelima dalam jaringan rumah sakit perseroan. Berdasarkan transaksi ini, LPKR mendapatkan 83% kepemilikan dan mengendalikan rumah sakit swasta tersebut. Padahal tahun lalu, perseroan juga sudah mengambil 79,61% kepemilikan sebuah rumah sakit di Balikpapan pada 15 November tahun lalu. Nilai transaksinya mencapai US$ 26 juta.

Selanjutnya pada 7 Januari kemarin, perseroan kembali membangun sebuah rumah sakit di Makasar senilai US$ 26 juta. Rumah sakit ini akan menjadi rumah sakit ke delapan LPKR dan akan berfungsi sebagai rumah sakit rujukan pendukung di bagian timur Indonesia.

Rp 110 Triliun

Pada tahun 2011 lalu, diperkirakan devisa yang keluar lebih dari Rp 110 triliun hanya untuk biaya berobat ke luar negeri oleh warga negara Indonesia. Tren pengobatan ke luar negeri ini terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena minimnya Rumah Sakit (RS) di Indonesia yang mempunyai kualitas pelayanan kesehatan standar internasional yang ditandai dengan kepemilikan akreditasi yang diakui secara internasional. Salah satu akreditasi berstandar internasional yang merupakan wujud nyata tingkat profesionalisme Rumah Sakit adalah Akreditasi JCI (Joint Commision International). JCI adalah badan sertifikasi yang berfokus pada pelayanan kesehatan dan berpusat di Amerika Serikat, di mana lembaga itu menilai standar pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berfokus pada keselamatan pasien. Marketing Manager RS Premier Jatinegara Miranti K. Dewi mengatakan, RS Premier Jatinegara berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang berkualitas secara konsisten. Dibuktikan dengan adanya Sertifikasi Akreditasi Tingkat Lengkap 16 Bidang dari Kementrian Kesehatan, Sertifikasi ISO 9001: 2008 dan Sertifikasi Akreditasi JCI. RS Premier Jatinegara yang berlokasi di Jl. Raya Jatinegara Timur No 85-87 Jakarta, menjadi rumah sakit pertama di Jakarta yang terakreditasi JCI. Dia menjelaskan RS Premier Jatinegara merupakan bagian dari Ramsay Health Care Indonesia yang mempunyai tiga Rumah Sakit di Indonesia, RS Premier Jatinegara, RS Premier Surabaya dan RS Premier Bintaro, tambah Miranti. Sejauh ini jumlah kapasitas kamar tidur terutama di RS Premier Jatinegara adalah 280 tempat tidur, tuturnya. Terkait komitmen RS Premier Jatinegara di masa mendatang, Direktur RS Premier Jatinegara, dr. Handojo Rahardjo menjelaskan, JCI merupakan Akreditasi yang sangat sulit diperoleh institusi kesehatan seperti Rumah Sakit. Pengakuan ini menunjukkan komitmen Rumah Sakit yang tidak main-main dalam memberikan pelayanan yang terbaik demi keselamatan pasien. Pencapaian akreditasi JCI ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. Ini merupakan peningkatan dari tahapan perjalanan bagi RS Premier Jatinegara dalam hal kualitas pelayanan. Ke depannya RSPJ akan terus meningkatkan kualitas mutu pelayanan kesehatan bagi pasien, memastikan patient safety serta mempertahankan keunggulan dalam standar pelayanan. Dalam menghadapi persaingan, RS Premier Jatinegara tentunya membutuhkan strategi. Pernyataan strategi secara eksplisit merupan kunci keberhasilan dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis. Konsep strategi harus jelas sehingga keputusan yang diambil akan mampu membawa organisasi untuk bertahan bahkan memenangkan pertarungan yang akan terus berlangsung dalam bisnis.

(resa/sahlan/agus)

BERITA TERKAIT

Gulu-Gulu Targetkan Buka 50 Cabang - Masuk Pasar Indonesia

    NERACA   Jakarta – Sour Sally Group mengumumkan konsep gerai minuman terbarunya yaitu Gulu-gulu. Gulu-gulu merupakan salah satu…

Disnaker Kota Sukabumi Terus Mencari Alamat TKI Yang Meninggal

Disnaker Kota Sukabumi Terus Mencari Alamat TKI Yang Meninggal NERACA Sukabumi - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Sukabumi mengaku baru…

Regulasi di Indonesia Yang Mengalami Obesitas

Regulasi di Indonesia Yang Mengalami Obesitas NERACA Jakarta - Para pakar hukum tata negara dalam Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indonesia, Penguasa Kopi Dunia?

Indonesia berpotensi menjadi penguasa kopi dunia karena cita rasa kopi Indonesia sangat spesifik. Bahkan, branding kopi internasional yang ada, selalu…

Presiden RI: “Indonesia Harus Menjadi Nomor Satu”

Kopi sudah terkenal di Indonesia sejak abad ke-16. Kabarnya, Pondok Kopi di Jakarta Timur adalah kawasan cikal bakal tumbuhan kopi…

Kementan Dorong Peningkatan Produksi Kopi Arabika

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mendorong peningkatan produksi kopi jenis arabika di sejumlah kawasan karena merupakan komoditas ekspor yang sangat…