Industri Kaca Mengalami "Sesak Nafas" - Kekurangan Pasokan Gas

NERACA

Jakarta – Industri kaca lembaran dan pengaman dalam negeri mengalami “sesak nafas” akibat kekurangan pasokan energi terutama gas. Padahal kebutuhan gas untuk Industri kaca dalam negeri sangat diperlukan sekali untuk keberlanjutan produksi mereka. Hingga saat ini pasokan gas untuk dalam negeri hanya bisa dipenuhi sekitar 50% saja.

“Jelas ini sangat menganggu kestabilan produksi produksi industri kaca,” jelas Ketua Unit Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus H Gunawan saat menghadiri acara Glasstec Dan Solarpeq Perkembangan Terkini Industri Gelas Dan Modul Surya di Jakarta, Kamis (26/4).

Lebih jauh lagi Yustinus memaparkan kebutuhan gas untuk industri kaca nasional sebesar 33 ribu mmscfd, namun pemerintah hanya bisa memasok setengahnya saja.kalau ini dibiarkan berlanjut akan menghancurkan industri kaca dalan negeri. Padahal saat ini ekspor kaca Indonesia sedang mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Dari total produksi kaca di Indonesia kira–kira baru mencapai 1,4 juta ton per tahunnya. Angka ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan negara tetangga lainnya. "Tingkat total produksi kaca di Indonesia sekira 1,4 juta ton per tahunnya, masih sangat kecil bila dibandingkan oleh negara tetangga. Tapi kami yakin pasar kaca di Indonesia masih sangat besar potensinya,” jelasnya.

Menurut dia, produksi kaca tersebut sekiar 35-40% diekspor ke Selandia Baru, Australia, Jepang, dan negara di kawasan Asean. Sementara sisanya diserap pasar lokal. “Tapi jumlah tersebut masih bisa untuk ditingkatkan,” kata Yustinus.

Yustinus menambahkan, produksi kaca di Indonesia tiap tahunnya diproduksi oleh tiga produsen besar yaitu PT Mulya Glass, PT Asahimas, dan PT Tosa Semarang. “Tapi ada satu lagi yang akan dibuat pabrik pembuatan kaca di daerah Tangerang,” terangnya.

Bahkan, Yustinus memperkirakan pada 2015 mendatang, produksi kaca Indonesia akan mencapai US$1.172,10 miliar. "Ini berarti kita telah melampaui negara-negara produsen kaca di dunia terutama kaca untuk automotif,” ujar dia.

Dia optimistis prediksi itu bisa terwujud karena Indonesia memiliki banyak faktor yang melatarbelakanginya. Apalagi Indonesia telah menguasai teknologi di bidang tersebut. “Saya sangat percaya bahwa Indonesia, dengan ekonomi yang tumbuh cepat saat ini, akan mendapatkan keuntungan kita dapat tahu teknologi kaca terbaru tanpa harus pergi ke luar negeri, dengan demikian akan memicu gairah industri kaca lokal,” tukasnya.

Produk China

Di tempat yang sama, Ketua Assosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman Indonesia (AKLI), Samuel Rumbayan mengungkapkan industri kaca lembaran nasional terancam serbuan impor produk sejenis dari China yang masuk ke dalam negeri, menyusul menurunnya permintaan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat akibat krisis ekonomi yang melanda kawasan itu.

"Kami khawatir kalau Eropa dan AS tidak lagi mau membeli kaca dari China maka produksi kaca dari negeri itu akan mencari pasar baru seperti Indonesia yang berpotensi menerima kaca impor," kata Samuel.

Dia mengatakan China merupakan konsumen sekaligus produsen kaca terbesar, dengan tingkat konsumsi mencapai 11kg/kapita/tahun. Sedangkan kemampuan produksi kaca di China mencapai 150 tungku atau 20 kali lipat dari Indonesia dengan delapan tungku atau setara dengan produksi 1,4 juta ton per tahun.

Dengan kemampuan produksi kaca di China yang besar itu, Samuel khawatir bila pasar ekspor kaca China di Uni Eropa dan AS melemah, maka kaca China akan menyerbu pasar Indonesia yang konsumsinya baru mencapai 2,3kg/kapita/tahun.

Di sisi lain, kata dia, industri kaca lembaran di dalam negeri sedang menghadapi masalah kenaikan harga gas untuk produksi sebesar 36% sejak akhir tahun lalu. Selain itu, lanjut dia, pasokan gas dari PGN pun masih kurang dari kebutuhan. "Pemanfaatan kapasitas produksi kami baru sekitar 80%. Di dalam negeri kami dilemahkan (daya saingnya), dari luar negeri (China) masuk ke Indonesia," urai Samuel.

Oleh karena itu, dia mengaku tidak menargetkan pertumbuhan yang besar tahun depan, mengingat dengan harga dan pasokan gas seperti saat ini maka pertumbuhan industri kaca lembaran hanya bisa mencapai 5-6%.

"Kalau harga gas naik dan pasokan gas kurang maka tidak bisa ada pertumbuhan (industri kaca). Apalagi menghadapi China yang menghasilkan produk yang efisien dan bersaing, sementara produk dalam negeri makin mahal akibat harga gas naik," ujarnya.

Komponen biaya gas, kata dia, mencapai 25% dari biaya produksi.Namun, diakui Samuel, ada satu peraturan pemerintah yang membantu menghadang produk kaca lembaran dari China yang tidak berkualitas, yaitu penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib pada produk tersebut. "Sebelum ada SNI, (kaca apa saja boleh masuk)," ucapnya.

Related posts