Sepanjang Triwulan I-2012, Realisasi Investasi Tumbuh 32,8%

NERACA

Jakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi dalam rangka penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) selama periode Triwulan I (Januari-Maret) 2012. Berdasarkan laporan BKPM, realisasi investasi pada periode itu mencapai Rp 71,2 triliun yang terdiri dari realisasi investasi PMDN sebesar Rp 19,7 triliun dan realisasi investasi PMA sebesar Rp 51,5 triliun, apabila dibandingkan dengan periode yang sama terjadi peningkatan sebesar 32,8%.

Dari sebaran investasi berdasarkan wilayah pada periode Januari – Maret 2012, porsi Luar Jawa semakin besar. Realisasi investasi di luar Pulau Jawa adalah sebesar Rp 33,6 triliun atau 47,2% dari total realisasi investasi, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011 terdapat peningkatan realisasi investasi sebesar Rp 9,9 triliun, atau terdapat peningkatan sebesar 41,8%.

“Upaya peningkatan pemerataan investasi ke seluruh wilayah melalui berbagai kebijakan memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan, hal ini terlihat dari realisasi investasi luar Jawa hampir mendekati separuh dari total realisasi investasi pada periode ini, kami yakin dengan percepatan pembangunan infrastruktur termasuk penyediaan listrik dan gas akan terjadi peningkatan dan penyebaran investasi yang lebih besar di masa datang,” ujar Kepala BKPM Gita Wirjawan dalam jumpa pers di kantornya, Senin (23/4).

Secara lebih detail, data BKPM menyebutkan, realisasi PMDN berdasarkan sektor usaha (5 besar) meliputi pertambangan (Rp 5,8 triliun), industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi (Rp 2,5 triliun), tanaman pangan dan perkebunan (Rp 2,3 triliun), industri kertas, barang dari kertas dan percetakan (Rp 1,6 triliun), dan transportasi, gudang dan telekomunikasi (Rp 1,4 triliun). Untuk realisasi PMDN berdasarkan lokasi proyek (5 besar) adalah Jawa Timur (Rp 3,8 triliun), DKI Jakarta (Rp 3,1 triliun), Kalimantan Timur (Rp 2,3 triliun), Sumatera Utara (Rp 1,4 triliun) dan Kalimantan Tengah (Rp 1,4 triliun).

Sementara untuk realisasi PMA berdasarkan sektor usaha (5 besar) meliputi pertambangan (US$ 1,1 miliar), transportasi, gudang, dan telekomunikasi (US$ 0,8 miliar), tanaman pangan dan perkebunan (US$0,5 miliar), industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik (US$ 0,5 miliar), dan industri alat angkutan dan transportasi lainnya (US$ 0,4 miliar). Sedangkan realisasi PMA berdasarkan lokasi proyek (5 besar) adalah DKI Jakarta (US$ 1,2 miliar), Jawa Barat (US$ 1,1 miliar), Banten (US$ 0,6 miliar), Sulawesi Selatan (US$ 0,4 miliar) dan Nusa Tenggara Barat (US$ 0,4 miliar).

Adapun lima besar realisasi PMA berdasarkan asal negara, Singapura masih mendominasi penanaman modal di Indonesia. Secara berurutan, realisasi investasi Singapura (US$ 1,2 miliar), Jepang (US$ 0,6 miliar), Korea Selatan (US$ 0,5 miliar), British Virgin Islands (US$ 0,3 miliar) dan Belanda (US$ 0,3 miliar).

Selain itu, berdasarkan koridor ekonomi, urutan realisasi investasi pada periode periode itu secara berurutan adalah Koridor Ekonomi Jawa dengan realisasi investasi sebesar Rp 37,6 triliun (52,8%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 8,6 triliun dan PMA sebesar US$ 3,2 miliar, Koridor Ekonomi Sumatera dengan realisasi investasi sebesar Rp 12,1 triliun (17,0 %), terdiri dari PMDN sebesar Rp 3,5 triliun dan PMA sebesar US$ 1,0 miliar, Koridor Ekonomi Kalimantan dengan realisasi investasi sebesar Rp 10,5 triliun (14,7%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 6,0 triliun dan PMA sebesar US$ 0,5 miliar, Koridor Ekonomi Sulawesi dengan realisasi investasi sebesar Rp 5,2 triliun (7,4%) terdiri dari PMDN sebesar Rp 1,3 triliun dan PMA sebesar US$ 0,4 miliar, Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara dengan realisasi investasi sebesar Rp 5,1 triliun (7,2%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 0,3 triliun dan PMA sebesar US$ 0,5 miliar, Koridor Ekonomi Papua-Maluku dengan realisasi investasi sebesar Rp 0,7 triliun (0,9%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 0,05 triliun dan PMA sebesar US$ 0,07 miliar.

“Walaupun adanya perlambatan perekonomian di berbagai Negara seperti Amerika Serikat dan Kawasan Eropa, kegiatan investasi di Indonesia tetap berkembang dengan baik. Kondisi ini menunjukkan kebijakan yang ditempuh selama ini sudah “on the right track” dan iklim investasi Indonesia semakin kondusif,” jelas Gita.

Related posts