Deras Sentimen Negatif, IHSG Makin Tertekan

Neraca

Jakarta – Sebagaimana sudah diprediksikan diawal, indeks awal pekan bakal bakal terkoreksi ternyata sesuai perkiraan. Pelemahan indeks Senin awal pekan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan dan ditutup melemah 25,877 poin (0,62%) ke level 4.155,491. Sementara Indeks LQ45 melemah 4,514 poin (0,64%) ke level 708,549.

Pelemahan indeks BEI dipengaruhi sentimen negatif yang datang dari jatuhnya bursa-bursa Eropa dan kemudian disusul ekonomi Spanyol yang masuk ke masa resesi makin membuat investor khawatir. Selain itu, aksi ambil untung pelaku pasar terhadap saham lapis dua juga menjadi pemberat indeks lanjutkan penguatan di zona hijau.

Berikutnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia Selasa diproyeksikan akan bergerak di level yang sama dengan masih kecenderungan melemah. Indeks BEI sendiri akan bergerak di level 4.120-4.130.

Pada perdagangan kemarin, saham-saham konsumer, agrikultur, dan infrastruktur masih mencoba menahan indeks untuk bertahan di zona hijau, namun sayang terlalu banyak aksi jual yang terjadi di saham-saham tambang berkapitalisasi besar menekan indeks terus terpuruk di zona merah.

Transaksi investor asing melakukan jual bersih (foreign net sell). Nilainya tidak besar, sebesar Rp 66,253 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 149.402 kali pada volume 11,571 juta lot saham senilai Rp 4,263 triliun. Sebanyak 79 saham naik, sisanya 206 saham turun, dan 87 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.200 ke Rp 59.650, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 1.000 ke Rp 151.000, SMART (SMAR) naik Rp 400 ke Rp 6.500, dan Sumber Alfaria (AMRT) naik Rp 350 ke Rp 5.400.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.100 ke Rp 72.200, Mandom (TCID) turun Rp 750 ke Rp 8.250, Bayan (BYAN) turun Rp 700 ke Rp 15.800, dan Century Textille (CNTX) turun Rp 500 ke Rp 13.000.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup naik tipis 4,473 poin (0,10%) ke level 4.185,841. Sementara Indeks LQ 45 malah turun tipis 0,505 poin (0,08%) ke level 712,558. Saham-saham konsumer dan agrikultur menjadi buruan investor, keduanya menanjak cukup tinggi dan memimpin penguatan. Akan tetapi koreksi cukup dalam terjadi di saham-saham tambang kelas berat sehingga penguatan indeks tidak terlalu signifikan.

Investor asing juga masih belum terlalu bersemangat karena belum ada katalis positif yang bisa menggerakkan indeks. Meski demikian, transaksi asing tercatat sudah melakukan pembelian bersih. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 72.466 kali pada volume 5,338 juta lot saham senilai Rp 1,705 triliun. Sebanyak 127 saham naik, sisanya 127 saham turun, dan 88 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.200 ke Rp 59.650, Delta Jakarta (DLTA) naik Rp 1.000 ke Rp 151.000, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 475 ke Rp 4.500, dan SMART (SMAR) naik Rp 400 ke Rp 6.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Century Textille (CNTX) turun Rp 1.300 ke Rp 12.200, Mandom (TCID) turun Rp 750 ke Rp 8.250, Bayan (BYAN) turun Rp 250 ke Rp 16.250, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 250 ke Rp 41.600.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 1,40 poin atau 0,03% ke posisi 4.179,97. Indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 0,36 poin (0,05%) ke level 712,71. "Bursa Asia dibuka melemah mengantisipasi rilis data manufaktur China pada April yang diperkirakan akan turun," kata analis Samuel Sekuritas, Christine Salim.

Menurutnya, sentimen ini mengkompensasi sentimen positif dari lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) yang menambahkan dana siaga untuk krisis sebesar US$ 430 miliar. Dia menambahkan, pernyataan badan pemeringkat internasional S&P (Standard & Poor's) yang menunda kenaikan peringkat utang Indonesia menjadi "investment grade" di akhir pekan lalu dapat menjadi penahan laju IHSG BEI.

Sementara analis Sinarmas Sekuritas Jeff Tan mengatakan, indeks Senin awal pekan secara teknikal bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan menguat pada kisaran 4.165-4.197 poin. "Data ekonomi AS seperti data penjualan rumah dan tingkat kepercayaan konsumen serta data indikasi awal manufaktur China, dapat memberikan sentimen terhadap indeks BEI," kata dia.

Kemudian bursa regional diantaranya indeks Hang Seng melemah 135,98 poin (0,65%) ke level 20.874,66, indeks Nikkei-225 turun 31,01 poin (0,32%) ke level 9.530,35 dan Straits Times melemah 10,59 poin (0,35%) ke level 2.983,89.(bani)

Related posts