BEI Cermati Pasar Hingga Protokol Krisis - IHSG Merana Karena Corona

NERACA

Jakarta – Tren penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak Senin awal pekan kemarin sebagai respon sentimen negatif virus corona memberikan kepanikan bagi investor dalam negeri yang juga ikut melakukan transaksi jual. Hal inipun diakui Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, sentimen terkuat yang menyebabkan penurunan IHSG lebih dari 2% adalah perkembangan wabah virus corona.

Namun demikian, lanjutnya, pihak BEI tidak tinggal diam melihat tren penurunan indeks yang cukup signifikan akan akan terus mencermati perkembangan pasar. “Kita sudah melengkapi diri dengan protokol yang diperlukan, jika terjadi penurunan pasar hingga mencapai batas yang ditoleransi. Protokol krisis tersebut, yakni apabila IHSG mengalami penurunan sebesar 1% dalam satu sesi perdangangan, maka pihaknya akan melakukan evaluasi secara internal,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Kemudian, jika IHSG turkoreksi 5% dalam satu sesi perdagangan, pihaknya akan bertemu dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kemudian, apabila kinerja IHSG turun sebanyak 7,5% dalam satu sesi perdagangan, pihaknya akan mengambil langkah berupa aktivasi manajemen protokol krisis (crisis management protocol/CMP). Lalu, apabila IHSG jatuh hingga 10% dalam satu hari perdagangan, maka pihak BEI akan melakukan penghentian sementara dalam rangka cooling down dan menyebarkan informasi kepada publik.

Disampaikannya, protokol krisis tersebut pernah diterapkan pada 2008. Namun, untuk saat ini, BEI masih akan mencermati dari sisi fundamental. Menurut Hasan, kejatuhan IHSG tak hanya terjadi pada beberapa sektor saham saja, melainkan merata di semua sektor. Sementara itu, mengenai pemblokiran sejumlah rekening efek terkait kasus Jiwasraya, dia menegaskan bahwa itu hanya berdampak pada awal tahun saja. Kasus ini sudah dibuat ketegasan proses hukum dan wacana alternatif penyelamatan.

Sebagai informasi, mengakhir perdagangan saham Kamis (27/2) kemarin, IHSG ditutup melemah 153,23 poin atau 2,69% ke posisi 5.535,69. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 29,9 poin atau 3,24% menjadi 892,76. Kata analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, penyebaranCOVID-19 secara agresif sepertinya masih memberikan dampak sistemik bagi pasar seiring dengan peningkatan tajam infeksi virus tersebut yang terjadi pada Korea Selatan, Italia dan Iran.”Penyebaran COVID-19 tersebut berpotensi mengancam pertumbuhan ekonomi global apabila masih belum ditemukan obat antivirusnya. Sehingga terjadilah kondisi 'panic selling'," ujarnya.

Di sisi lain, lanjut Nafan, perkembangan data-data makroekonomi domestik masih minim memberikan dampak yang besar terhadap pasar saat ini. Secara sektoral, seluruh sektor terkoreksi di mana sektor keuangan turun paling dalam yaitu minus 3,94%, diikuti sektor industri dasar dan sektor pertambangan masing-masing minus 2,66% dan minus 2,43%. Penutupan IHSGdiiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau "net foreign sell" sebesar Rp1,05 triliun.

BERITA TERKAIT

Moodys Pangkas Peringkat Alam Sutera

NERACA Jakarta - Perusahaan pemeringkat Moody’s Investor Service menurunkan peringkat utang PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dari menjadi Caa1…

Express Trasindo Masih Merugi Rp 275,5 Miliar

NERACA Jakarta –Persaingan bisins transportasi online masih menjadi tantangan bagi PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI). Performance kinerja keuangan perseroan…

Martina Berto Bukukan Rugi Rp 66,94 MIiliar

NERACA Jakarta –Bisnis kosmetik PT Martina Berto Tbk (MBTO) sepanjang tahun 2019 kemarin masih negatif. Pasalnya, perseroan masih membukukan rugi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Propinsi Ini Paling Rentan Terhadap Covid-19

Masifnya penyebaran virus corona (Covid-19) telah berdampak pada lemahnya perekonomian dalam negeri dan memberikan kekhawatiran para pelaku ekonomi. Berdasarkan Katadata…

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…