Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Sektor Pertanian di Papua Barat

NERACA

Sorong - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Investasi Hijau untuk Provinsi Papua dan Papua Barat, di Hotel Swiss-Bellhotel, Kota Sorong.

"Pertemuan ini sangat penting. Bagaimana pelaku usaha, mitra kerja, dan pemerintah bisa duduk bersama dan berdialog, mencari solusi, tentu dengan inovasi-inovasi sehingga ekonomi bisa tumbuh," kata Syahrul.

Lebih lanjut, Syahrul mengatakan bahwa sektor pertanian bepeluang besar menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi kawasan.

"Komoditas perkebunan dan hortikultura potensial untuk dikembangkan. Seperti kakao dan kopi jenis arabika, saya yakin dengan sentuhan teknologi, diolah dengan cara-cara baru serta manajemen yang baik, Insyaa Allah akan berdampak positif," kata Syahrul.

Menurut Syahrul, dalam catatan Kementan, untuk komoditas kakao, ada lahan seluas 12 ribu hektar yang memiliki potensi sedangkan untuk kopi 165 hektar. "Masih banyak potesi komoditas pertanian yang dapat didorong untuk berkembang melalui investasi yang berkelanjutan," ujarnya.

Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan, lahan yang tersedia untuk komoditas perkebunan menurut Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan ada sekitar 5,4 juta hektar.

"Yang cocok untuk dikembangkan adalah kakao, kopi, jambu mete, kelapa sawit, kapas, karet, tebu, kelapa dan pinang. Tapi, masih 2,3 persen saja lahan yang dimanfatkan, yah, sekitar 127 ribu hektar," kata Syahrul.

Disisi lain, Syahrul menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda), dan pelaku usaha atas kerja keras yang telah dilakukan.

"Masih banyak potensi Papua Barat yang bisa dioptimalkan. Oleh karena itu, peran teknologi modern dan investasi diharapkan bisa mengakselerasi peningkatan ekspor komoditas pertanian baik dari Manokwari atau Sorong. Sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani bertambah. Dan bisa dipastikan berdampak pada perekonomian," kata Syahrul.

Buah merah, kata Syahrul, sudah diterima di Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Chekoslovakia. Sementara itu, permintaan buah merah domestik sepanjang tahun 2019 cukup menggembirakan. Karantina Pertanian Sorong mencatat, 14.899 liter buah dikirim ke Surabaya dan Jakarta dengan nilai 7,4 miliar rupiah.

Sebagai bentuk dukungan Kementerian Pertanian, pada pembukaan pertemuan, Syahrul menyerahkan bantuan program Prasarana dan Sarana pertanian kepada Pemda Propinsi Papua Barat yang diterima langsung oleh Gubernur senilai 49,6 miliar rupiah.

Oleh karena itu, harmonisasi, menurut Syahrul harus dijaga karena dengan hal itu akan memberikan nilai lebih bagi petani sehingga meresonansi kesejahteraan dan menjadikan keunggulan komparatif daerah dibawah Kostratani.

"Selain untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri, modern, di Kostratani juga diharapkan bisa menghadirkan Tanah Papua yang inklusif dan berkelanjutan," harap Syahrul.

Disisi lain, Syahrul berharap adanya kerjasama yang baik antara pemerintahan pusat dan daerah yang merupakan kunci utama dalam pencapaian tujuan pembangunan. Sebab, kerja-kerja kolaboratif dan sinergi lintas lembaga mutlak dilakukan.

"Riset dan inovasi yang dikembangkan oleh peneliti diharapkan implementatif sehingga penyuluh yang terjun ke lapangan juga dapat meningkatkan produksi, kualitas dan daya saing komoditas pertanian," katanya.

Ditempat yang sama, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menambahkan buah merah merupakan komoditas lokal unggulan Papua Barat, walaupun masih dalam skala kecil. Tapi sudah mampu menembus pasar dunia.

Menurut Ali Jamil, koordinasi dan kerja sama antar instansi dan dinas terkait diharapkan dapat membangun pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor.

Sementara itu, Sementara itu, Dominggus Mandacan, Gubernur Papua Barat menyampaikan bahwa Papua Barat memiliki potensi pengembangan pada sektor tanaman pangan terutama padi, jagung, kedelai, ubi kayu dan ubi jalar.

"Selain itu, untuk komoditas hortikultura seperti matoa, langsat, sukun dan markisa juga memiliki prospek pengembangan yang bagus," kata Dominggus.

Mantan Bupati Manokwari ini juga mengharapkan pembangunan pertanian di Papua Barat terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan tidak meninggalkan kearifan lokal.

"Kami memiliki komitmen kuat mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan seperti yang tertuang dalam Nawacita. Sehingga di masa yang akan datang ada konektifitas industri, memperkaya aneka produk turunan yang berorientasi ekspor," ujar Dominggus.

BERITA TERKAIT

Lawan Covid-19, Industri Otomotif Siap Produksi Ventilator

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri otomotif di dalam negeri untuk dapat memproduksi alat…

Pemerintah Menggandeng Jasa Layanan Umum Mengamankan Pangan

NERACA Jakarta – Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan bahan pangan. Diantaranya Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menggandeng Gojek Pengamat…

Konsolidasi dan Perkuat Bisnis Utama, Pertamina Rasionalisasi 25 Entitas Usaha

NERACA Jakarta - PT Pertamina (Persero) siap mendukung upaya pemegang saham dalam rangka konsolidasi Anak Perusahaan BUMN untuk meningkatkan efisiensi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lawan Covid-19, Pelaku IKM Mampu Produksi Masker dan APD

NERACA Jakarta - Sejumlah pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri siap memproduksi masker dan alat pelindung diri…

Hadapi Covid-19, Kemenperin Bikin Aplikasi Distribusi Bahan Baku

Jakarta – Ditengah menghadapi pandemi Covid-19 diperlukan strategi yang baik agar sektor industri tetap bisa berjalan, untuk itu Kementerian Perindustrian…

Lawan Covid-19, Industri Otomotif Siap Produksi Ventilator

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri otomotif di dalam negeri untuk dapat memproduksi alat…