YAICI : Penempatan Produk Kental Manis Pengaruhi Persepsi Masyarakat

YAICI : Penempatan Produk Kental Manis Pengaruhi Persepsi Masyarakat

NERACA

Jakarta - Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat mengatakan penempatan produk susu kental manis yang biasanya disatukan dengan produk susu di supermarket dapat menyebabkan kesalahan persepsi oleh masyarakat.

"Konsumen dapat beranggapan bahwa kental manis adalah susu karena disatukan dengan produk susu. Padahal bila melihat kandungan protein kental manis yang di bawah 6,9 persen, sejatinya produk ini lebih tepat ditempatkan pada kelompok makanan tambahan atau perasa lainnya seperti selei, meses, sereal, dan lainnya," ujar Arif dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/2).

Hasil kajian yang dilakukan selama Januari 2020, lanjut dia, penempatan produk kental manis di 161 supermarket dan minimarket di Jakarta, Bekasi, Depok dan Tangerang, menunjukkan sebanyak 62,7 persen peletakan susu kental manis di supermarket dan minimarket tidak tepat.

Hal itu dikarenakan produk kental manis masih diletakkan di kelompok produk produk susu untuk bayi, orang dewasa, susu UHT dan susu cair lainnya. Hanya 37,3 persen yang meletakkan kental manis secara tepat, yaitu diletakkan satu tempat dengan produk pelengkap makanan minuman, dan lainnya.

"Hasil ini mengimplikasikan bahwa mayoritas supermarket dan minimarket belum memahami bahwa peruntukan produk kental manis adalah sebagai pelengkap makanan dan bukan produk susu."

Oleh karena itu, perlu upaya untuk meluruskan persepsi yang salah tentang kandungan produk dan peruntukan kental manis.

Arif berharap Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) bisa bersama-sama dengan YAICI dan ormas lainnya menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat terhadap dampak dari konsumsi pangan yang tidak tepat.

Salah satu produk yang dipersepsikan secara tidak tepat oleh masyakarat selama puluhan tahun adalah kental manis. Hingga saat ini masih kuat melekat persepsi bahwa kental manis adalah susu dan dapat dikonsumsi oleh anak sebagai minuman pengganti susu.

Kandungan gula pada kental manis yang lebih dari 50 persen dapat mengakibatkan pola konsumsi pangan yang salah pada anak, terutama balita. Kemudian, anak yang terbiasa dengan minuman dengan kadar gula tinggi dan di konsumsi secara rutin dapat mengakibatkan ketidakseimbangan gizi atau bahkan gizi buruk.

Selain itu, kandungan gula dapat mengakibatkan adiksi pada anak, sehingga anak tidak suka mengkonsumsi makanan yang lebih diperlukan untuk pertumbuhannya.

Perwakilan Aprindo, Roy Mandey, mengatakan pihaknya upaya yang dilakukan YAICI bersama Aisyiyah dan organisasi masyarakat lainnya dalam mengedukasi masyarakat tentang produk yang baik untuk anak.

Roy Mandey mengajak YAICI untuk bersama-sama mengadvokasi isu ini ke pemerintah terutama ke BPOM. Ant

BERITA TERKAIT

MPR Ingin Perkuat KPK Berdasarkan Azas dalam Pancasila

MPR Ingin Perkuat KPK Berdasarkan Azas dalam Pancasila   NERACA Jakarta - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo atau akrab…

Mantan Komisioner KPK Saut Situmorang Gagas Rumah Bhinneka

Mantan Komisioner KPK Saut Situmorang Gagas Rumah Bhinneka   NERACA Jakarta - Komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2015-2019 Saut Situmorang menggagas…

BPK dan Pemerintah Bahas Dampak COVID-19

BPK dan Pemerintah Bahas Dampak COVID-19  NERACA Jakarta – Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK) bersama Pemerintah membahas dampak pandemik COVID-19…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

KLHK Beli Hasil Petani untuk Diberikan Bagi Penguatan Tenaga Medis - Hadapi Corona

KLHK Beli Hasil Petani untuk Diberikan Bagi Penguatan Tenaga Medis Hadapi Corona NERACA Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan…

KPK Koordinasi dengan Pengadilan Tipikor Gelar Sidang Melalui Vicon

KPK Koordinasi dengan Pengadilan Tipikor Gelar Sidang Melalui Vicon   NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah berkoordinasi dengan Pengadilan…

Supandi Dijagokan Jadi Ketua Mahkamah Agung

Supandi Dijagokan Jadi Ketua Mahkamah Agung NERACA Jakarta - Hakim Agung Prof Supandi dijagokan sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) menggantikan…