Berburu Ombak di Kepulauan Mentawai

Turis mancanegara berduyun-duyun ke Indonesia, sementara turis Indonesia ramai-ramai ke luar negeri untuk liburan. Anekdot ini bakal sering kita dengar saat berkunjung ke Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Sejak awal tahun sampai November gelombang tinggi terjadi di perairan Sumatera Barat. Di Kepulauan Mentawai, gulungan ombak itu malah dinanti oleh para peselancar luar negeri. Ombak Mentawai yang ditunggangi surfer-surfer itu terbukti telah menghidupi masyarakat sekitar dari geliat pariwisata yang berkembang pesat di sana.

Menjangkau Mentawai

Penerbangan menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang ada hampir setiap jam dan waktu tempuh menuju Kepulauan Mentawai yang semakin singkat ikut mempengaruhi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Mentawai. Dari Kota Padang yang tadinya harus ditempuh selama 12 jam perjalanan laut, sekarang bisa ditempuh dengan waktu hanya tiga jam naik kapal cepat.

Kapal cepat melayani penumpang Padang-Mentawai hampir setiap hari. Harga tiketnya Rp250 ribu per orang. Berangkat Padang-Mentawai pagi jam 07.00 di Pelabuhan Muara Padang, kembali Mentawai-Padang jam 15.00 dari Mentawai.

Selama tiga jam kapal cepat melaju di atas lautan, pemandangan dijamin tidak membosankan. Bahkan jika beruntung kita akan bertemu lumba-lumba! Selain kapal cepat, fasilitas turis lainnya seperti tempat penginapan juga banyak tersedia di Kepulauan Mentawai.

Tinggal disesuaikan dengan kondisi kantong, mau yang penginapan sederhana milik warga lokal atau penginapan mewah yang dikelola ekspatriat. Di Tuapeijat, Pulau Sipora, ada banyak pilihan penginapan milik warga selain resor-resor bertarif dolar Amerika.

Di penginapan milik warga, harga kamar mulai dari harga Rp150 ribu sampai Rp500 ribu per malam. Untuk urusan perut jangan khawatir, Nasi Padang bisa dengan mudah ditemukan di Kepulauan Mentawai.

Ratusan titik surfing

Kepulauan Mentawai pasti ada dalam bucket list tiap peselancar lokal dan dunia. Ada ratusan titik ombak untuk berselancar di sini. Peselancar tidak perlu sampai berkelahi karena berebut ombak seperti di negara asalnya.

Kemampuan berselancar dan besarnya gelombang yang ingin ditaklukan juga bisa disesuaikan, ada ombak pantai ada ombak karang. Ombak Mentawai diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Pengakuan bukan dari masyarakat Mentawai, tapi dari peselancar yang pernah merasakan ganasnya ombak di sini.

Irwan Duha Sababalat (32), surf guide di Pulau Sipora, pernah mendapatkan uang tips US$200 (sekitar Rp2,7 juta) dari peselancar yang ingin menaklukkan ombak besar Mentawai. Setelah sampai di titik ombak Sky Craw, Sipora, nyali si tamu ciut melihat besarnya ombak. Namun sesuai perjanjian, si tamu tetap harus membayar tips meskipun ia tidak jadi berselancar, kenang Irwan.

Surganya pasir putih

Selain surfing, turis yang datang ke Mentawai juga bisa menyelam atau memancing. Untuk spot menyelam favorit, biasanya turis diantar ke Pulau Setan.

Kalau menginap di resor, ada fasilitas antar jemput wisata bahari yang terpadu. Jika tidak, masih banyak perahu nelayan yang disewakan. Tak hanya pantai, Mentawai juga masih melestarikan seni budaya Suku Mentawai yang terkenal dengan tato tradisionalnya.

Tersedia layanan ekowisata yang dikelola Mentawai Ecotourism bagi turis yang ingin berkenalan lebih dekat dengan Suku Mentawai. Serba-serbi Berburu Ombak di Kepulauan MentawaiAda banyak titik surfing di Kepulauan Mentawai, sehingga surfer tak perlu berebutan berselancar. (CNN Indonesia/Adi Prima)

Meski ada ratusan titik ombak dan pasir putih di Kepulauan Mentawai, sayangnya dampak baik pariwisata bagi perekonomian masyarakat di Kepulauan Mentawai masih belum terasa. Salah satu faktornya karena pengelolaan fasilitas dan layanan pariwisata di sini belum terlalu masif seperti yang terjadi di Bali, Lombok, atau Yogyakarta.

Walau demikian, masyarakat di Kepulauan Mentawai tetap menyambut kedatangan turis dengan hangat. Hamparan pasir putih dan keramahan masyarakat Mentawai akan meninggalkan kesan tersendiri bagi turis yang berkunjung.

Seperti kata J.R Logan, umumnya orang Mentawai baik hati; peramah, suka menghormati orang, tidak ingin berperang, suka kepada hiasan-hiasan, sehingga tidak jarang tubuh mereka bertato (The Chagalelegat or Mentawe Islanders, 1855).

Bagi pemburu ombak dan pecinta pasir putih yang belum pernah berkunjung dan penasaran dengan ombak Mentawai, silahkan masukan Kepulauan Mentawai dalam daftar kunjungan Anda berikutnya. Malainge Mentawai!

BERITA TERKAIT

Cegah Penularan Corona, Pesta Kesenian Bali Tahun Ini Batal

Gubernur Bali Wayan Koster memutuskan untuk membatalkan hajatan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini. Pembatalan dipastikan dengan terbitnya surat pemberitahuan…

Penutupan Candi Borobudur dan Prambanan Diperpanjang

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) kembali melakukan penutupan akses bagi wisatawan terhadap beberapa destinasi wisata…

Penutupan Wisata Magelang Diperpanjang

Pemerintah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memperpanjang penutupan sementara sejumlah tempat wisata guna mencegah penyebaran virus corona (COVID-19), kata Kepala Dinas…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Cegah Penularan Corona, Pesta Kesenian Bali Tahun Ini Batal

Gubernur Bali Wayan Koster memutuskan untuk membatalkan hajatan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini. Pembatalan dipastikan dengan terbitnya surat pemberitahuan…

Penutupan Candi Borobudur dan Prambanan Diperpanjang

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) kembali melakukan penutupan akses bagi wisatawan terhadap beberapa destinasi wisata…

Penutupan Wisata Magelang Diperpanjang

Pemerintah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, memperpanjang penutupan sementara sejumlah tempat wisata guna mencegah penyebaran virus corona (COVID-19), kata Kepala Dinas…