Kobexindo Masih Fokus Garap Alat Berat Ukuran Sedang - Kuasai 6% Market Share

NERACA

Jakarta – Tingginya aktivitas industri pertambangan nasional berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan alat berat di dalam negeri. Terkait hal itu, Kobexindo, salah satu produsen alat berat, saat ini memimpin penjualan alat berat di pasar medium size untuk volume alat berat dengan beban 50 ton. Namun, Kobexindo tak menutup kemungkinan untuk memasarkan produk dengan daya muat yang lebih kecil maupun lebih besar dari 50 ton.

“Kita fokuskan potensi pasar yang selama ini menjadi kekuatan kita (alat berat dengan daya angkut 50 ton), yang diutamakan untuk sektor pertambangan. Nanti kalau sudah seatle, kita akan masuk ke pasar small dan big. Karena rance volume daya angkut dari produk yang kita pasarkan mulai 30 ton hingga 150 ton,” ungkap President Director Kobexindo, Humas Soputro pada acara Media Gathering Kobexindo di Jakarta, Rabu (19/4).

Di tempat yang sama, Deputy Sales & Marceting Kobexindo, Almuqri Sagitri Putra, menambahkan, permintaan tertinggi dari produk yang dipasaran Kobexindo adalah Doosan Excavator dan NHL Rigid Dump Truck. "Excavator itu market sharenya sekitar 39 %," kata Almuqri.

Secara total industri, lanjut Almuqri, populasi alat berat saat ini sebanyak 23 ribu unit. Dari total industri itu market share Kobexindo sebesar 6%. Namun demikian, sejalan dengan berbagai strategi yang digelar perseroan, salah satunya memasarkan produk Daewoo mulai tahun ini, maka pertumbuhan penjualan Kobexindo akan terus meningkat.

Almuqri juga memperkirakan, tahun ini industri alat berat nasional bisa tumbuh 25%. "Hampir sama dengan pertumbuhan industri tahun lalu yang sebesar 25%, tahun ini masih di level yang sama," kata dia.

Cukup Cerah

Prospek industri alat berat, sambungnya, memang cukup cerah dalam lima tahun terakhir ini. Ini bisa dilihat dari data penjualan alat berat secara nasional sepanjanag 2007 yang hanya tercatat sebesar 7.038 unit dan tumbuh pesat di 2008 mencapai 9.684 unit. Sempat menurut di 2009 ke angka 6.777 unit, namun penjualan alat berat kembali meningkat mencapai12.460 unit di 2010, dan 19.977 unit di 2011.

Dari data tersebut, Almuqri pun mengamini, bahwa tahun 2012 penjualan alat berat diperkirakan melampaui 23 ribu unit. “Peningkatan permintaan akan alat berat dan industri, sejalan dengan peningakatan peningkatan harga komoditi batubara (yang mengekor kanikan harga minyak mentah), dan ini tentu mempengaruhi penigkatan aktifitas pertambangan yang menjadi fokus kita,” kata dia.

Mengutip data Asosiasi Perusahaan Batubara, di 2011 lalu, dari produksi batubara yang sebesar 327 juta ton melayani permintaan ekspor sebesar 255 juta ton, dan sisanya 72 juta ton untuk memenuhi permintaan domestik. Namun di tahun ini permintaan batubara baik di dalam negeri dan ekspor sama-sama meningkat. Dari target produksi batubara 2012 yang sebesar 347 juta ton, permintaan ekspor diperkirakan mencapai 266 juta ton, sementara untuk domestic sekira 81 juta ton.

Sementara, kebijakan pemerintah di sektor energi, infrastruktur, perkebunan dan pertambangan juga mendorong lonjakan permintaan alat berat di dalam negeri. Di samping itu juga, kebutuhan alat berat juga didorong oleh iklim perekonomian yang kuat dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Related posts