Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun - Danai Belanja Modal

NERACA

Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development Bank (CDB) cabang Shenzhen senilai 1,58 miliar renminbi (RMB) atau setara Rp 3,10 triliun. Kucuran tersebut merupakan pinjaman fase IV dari bank asal Tiongkok tersebut.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom, Antony Susilo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, penandatangan dokumen jaminan perusahaan atau corporate guarantee terkait perjanjian fasilitas pinjaman tersebut telah dilaksanakan pada 21 Januari 2020. Sedangkan jangka waktu pinjaman selama enam tahun. “Pinjaman tersebut akan digunakan Smartel dan anak perusahaan untuk pembiayaan belanja modal pengembangan jaringan telekomunikasi,”ujarnya.

Sebagai informasi, tahun ini Smartfren menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 250 juta. Sebelumnya, CDB secara konsisten menjadi kreditur emiten di bawah kendali Sinarmas Grup ini. Perseroan sebelumnya telah menarik pinjaman fase III pada Juni 2015. Pinjaman tersebut dikenai bunga LIBOR enam bulan ditambah marjin tertentu. Pembayaran pokok dan bunga terakhir akan jatuh tempo 30 Juni 2023. Suku bunga efektif rata-rata untuk periode per September 2019 sebesar 5,88%.

Antony menilai, industri telekomunikasi tetap bertumbuh pada 2020 dipicu tren pertumbuhan penggunaan layanan data. Pertumbuhan permintaan tersebut dimanfaatkan perseroan untuk menggaet lebih banyak pelanggan baru, seperti kelompok generasi milenial dengan memberikan layanan data yang stabil dan berkualitas.

Tahun ini, emiten operator seluler ini memasang target agresif untuk pertumbuhan jumlah pelanggan dengan mengandalkan produk unggulan dan penggelaran jaringan. Deputy CEO Smartfren, Djoko Tata Ibrahim pernah mengatakan bahwa dalam 2 tahun terakhir, Smartfren selalu mencatatkan pertumbuhan pelanggan sebesar dua kali lipat.

Dia berharap pada 2020 pertumbuhan jumlah pelanggan dua kali lipat tetap dapat dipertahankan. Jika hal tersebut tercapai, maka perkiraan jumlah pelanggan Smartfren pada 2020 di atas 40 juta pelanggan. Pada 2017 jumlah pelanggan Smartfren sekitar 6 juta pelanggan. Angka tersebut bertambah pada 2018 menjadi 12 juta pelanggan. Rencananya, hingga akhir 2019, jumlah pelanggan Smartfren dapat menyentuh angka 25 juta. Adapun hingga kuartal III/2019, Smartfren mengklaim telah memiliki 21 juta pelanggan.

Djoko mengaku beruntung, Smartfen dapat mencatatkan pertumbuhan jumlah pelanggan yang signifikan di tengah kondisi industri telekomunikasi yang tertekan, dan sulit dalam menambah jumlah pelanggan.

BERITA TERKAIT

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Rampungkan Rights Issue - Glencore Akuisisi Saham CITA Rp 1,19 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah melorotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring dengan sentien virus…

Bentuk Manajemen Baru - Saham AISA Dipastikan Tidak Didelisting

NERACA Jakarta – Resmi terbentuknya manajemen baru pasca tersandung masalah hukum hingga berujung suspensi saham yang berkepanjangan, kini manajemen PT…

Rights Issue, ASSA Lepas 1,25 Miliar Saham Baru

Galang pendanaan di pasar modal, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) bakal melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih…